Aceh Bisa Tiru Yahudi

Ilustrasi persatuan: indonesian.irib.ir




Yahudi adalah bangsa kecil yang sejak masa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) sampai masa Ottoman merupakan orang-orang lemah yang dilindungi. Apabila kini setelah kuat, mereka melakukan hal sebaliknya terhadap orang yang seiman dengan pelindung mereka, itu mengajarkan kita untuk tidak memandang rendah terhadap orang yang kelihatannya lemah seperti budak belian, alam itu bersifat baharu.

Apabila kita menganggap mereka sebagai musuh, maka mereka adalah musuh yang patut dijadikan guru. Sebagaimana kata suami daripada Fathimah binti Muhammad (SAW) bin Abdullah, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Musuh yang cerdas lebih berguna daripada kawan yang bodoh.”

Tidak adanya tanah untuk tempat tinggal bangsa adalah kelemahan Yahudi. Namun mereka memanfaatkan ketiadaan tanahnya sebagai kesempatan untuk menguasai ekonomi dan politik negara yang mereka tempati lalu negeri-negeri lain. Setelah cukup kuat mereka memaksa orang lain memberikan tanah kepada mereka sebagai tempat mereka mendirikan negara yang tidak pernah ada dalam sejarah, Israel.

Ras yang bercampur-campur, walaupun ada suku di Aceh membual mereka asli, tetapi tetap saja mereka ras campuran merupakan kelemahan Aceh. Namun ini memberikan kesempatan kepada penduduk Aceh untuk mengetahui karakter bangsa-bangsa dunia, lalu mengawaninya, bisa menjadikannya sebagai contoh daripada persatuan ras manusia bumi.  Itu seharusnya, dan seharusnya.

Tetapi karena ketiadaan pengetahuan dan iman kesejatian diri, maka itu dimanfaatkan oleh orang lain untuk dipecah-belahkan, dipecah-belahkan. Kita tahu bahwa hanyalah dua perkara yang menyatukan kumpulan orang, yakni, adanya kepentingan bersama atawa adanya musuh bersama.

Yang saya pelajari dari perang (konflik) antara rakyat dan pemerintah di Aceh sampai sebelum MoU Helsinki 15 Agustus 2005 adalah, Aceh disatukan oleh adanya musuh bersama. Ini berakibat buruk, tatkala musuh itu tiada lagi, maka hilanglah persatuan itu dan mereka akan cenderung mencari musuh sesama dirinya.

Apabila yang terjadi pilihan pertama, yakni, Aceh disatukan oleh adanya kepentingan bersama, maka persatuan itu akan abadi karena kepentingan akan selalu ada sampai akhir zaman. Maka tugas daripada sekalian orang yang merasakan diri mereka sebagai cendikiawan atawa siapa sahaja yang merasa mampu sekarang adalah menciptakan kepentingan bersama, kepentingan Aceh.

Satukan sekalian suku di Aceh ke dalam sebuah kepentingan bersama, maka selesailah rancangan pembangunan Aceh masa depan. Sebagaimana Yahudi memanfa’atkan ketiadaan tanah mereka untuk menguasai ekonomi dan politik bangsa lain, maka penghuni Aceh bisa memanfa’atkan kemajemukan rasnya sebagai cara menjadikan Aceh sebagai contoh persatuan bangsa-bangsa di bumi.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki