Saudagar Lada

CERPEN
Karya: Thayeb Loh Angen


Tahun lalu, saat pulang berhaji, perempuan berusia empat puluh tiga tahun dua bulan lebih satu hari itu membeli tiga ribu helai gaun Sana’ani di bazar besar dekat Bab El Yaman. Dua ribu tujuh ratus helai ia jual di pasar Blang Ara dan Geureudong, dua ratus sembilan puluh lima helai ia bahagikan untuk karib kerabat dan tetangga, dan lima helai ia pakai sendiri. Ia dan orang lain yang mendapat Sana’ani tidak memakai cadarnya. 

“Penutup wajah tampak tidak diperlukan untuk perempuan di Pulau Ruya yang hijau. Cadar hanya untuk melindungi wajah sekalian perempuan di daratan Arab dari debu panas gurun padang pasir,” kata perempuan Samudera Pasai yang memenangkan debat dengan pakar fiqih.

Perempuan turunan Persia asal Isfahan Persia itu menusuri halaman yang memiliki tujuh puluh dua krông berbaris membentuk huruf nun, lengkap dengan titik di tengah sebagai krông induk. Dua ribu empat ratus tujuh puluh karung berbaris di atas krông.

Tiga ribu karung lagi sudah dibelinya, tengah dalam perjalanan menuju krông-krông huruf nun untuk dikemas sebelum diangkut dengan gerobak kuda ke pelabuhan Blang Lancang. Kapal-kapal dari Yaman, Gujarat, Persia, dan Cina akan membeli butiran yang hanya ditaman di ujung Utara pulau Ruya ini.

Dari pintu utama halaman, Peutua Chik muncul, lalu menambatkan kuda dari Persianya pada batang durian di sudut tenggara halaman. Perempuan itu menyambut lelaki turunan Hadramaut, Yaman, yang sudah sembilan belas tahun menjadi suaminya. Ia mencium tangan lelaki itu.

“Untuk setiap karung lada, kapal Persia membeli lebih mahal lima dirham daripada kapal orang Tiongkok,” Peutua Chik meletakkan bakul di balai-balai kayu dekat tangga.

“Mereka tidak akan sanggup membeli seluruh lada yang mulai kita kumpulkan dari semua petani. Tetapi tidak bijak juga apabila kita tidak menjual sedikitpun kepada kedua kapal itu,” kata si perempuan.

“Apa rencanamu?” Petua Chik mengambil gayung, ingin membasuh kakinya dengan air dari guci dekat tangga. Tapi perempuan itu cepat-cepat meraih gayung tempurung bergagang kayu yang dibuatnya kemarin dan membasuh kaki suaminya.

“Kakanda tenang sahaja, Kakanda.”
Perempuan itu memerintahkan Apa Maun dan Apa Main ke Peureulak dan Jambo Aye. Kedua adiknya itu berangkat dengan kuda merah dan hitam.

Zuhur tiba.
Perempuan itu dan suaminya menunaikan sembahyang berjamaah di mesjid sebelah Barat rumah. Setiap sore dan malam di lingkaran pagar luas itu, Peutua Chik mengajarkan penduduk tentang akhlak, hukum, siasah, dagang, meurukon, seudati, rapai, permainan, dan semua bidang yang dibutuhkan masyarakat secara cuma-cuma. Bahkan ia sering memberi mereka sedekah dan zakat dari hasil dagang lada.

Peutua Chik juga memimpin beberapa tarikat seni dan tasauf sehingga ia disebut Peutua Chik Meukutop. Ia memimpin wilayah Paloh Dayah dan sekitarnya secara bebas tanpa ikatan dengan Kesultanan Samudera Pasai. Seluruh bisnis dan administrasi dipegang oleh istrinya, ia hanya menjalin hubungan dagang dan mengajar.

Empat hari berselang, kedua adik si perempuan kembali.

“Yang Mulia Cutda Rabi’ah, pelaut yang ahli dari Jambo Aye sedang ke Aru. Kita hanya dapat dua puluh pelaut ahli dari Peureulak. Mereka akan tiba ke Blang Lancang besok,” Apa Maun turun dari kuda.

“Temuilah Yang Mulia Kakanda Baginda Sultan Samudera Pasai. Mintalah pelaut terbaik dan kapal dengan senjata lengkap kepadanya. Kita akan mengirimkan tujuh buah kapal lada menuju Sailan, Hormuz, dan Aden pada pekan hadapan, akan dikawal oleh tujuh puluh pelaut terbaik. Kita harus mempersiapkan diri apabila ada perompak dari Portugis yang biasanya merampas apa saja di dalam kapal-kapal yang melintasi perairan Selat Malaka dan kepulauan Nikobar,” kata perempuan itu.
***

Di perairan Selat Malaka, beberapa mil dari Krueng Raya, rombongan tujuh kapal lada utusan Rabi’ah dari Samudera Pasai melihat empat buah kapal dari arah berlawanan.

“Tidakkah engkau ingin melihat ini, Kapten,” Apa Main menyerahkan terupung kepada Apa Maun.

“Kapal Portugis. Kibarkanlah bendera putih. Pelaut. Siapkanlah senjata!” Teriak adik Apa Main kepada para pelaut.

Apa Main mengibarkan bendera putih, tetapi ia tahu perang mungkin sahaja tidak akan terelakkan. Kesultanan Samudera Pasai sedang berperang dengan Portugis yang mulai menduduki Malaka. Tujuh kapal dagang lada yang mereka kawal memakai bendera Samudera Pasai.

Para pelaut menyiapkan pedang, panah api, dan meriam buatan Pasai. Dari hadapan, empat kapal Portugis kian mendekat. Dari geladak atas tampak pelaut mereka duduk berbaris di belakang meriam.

Kapten kapal Portugis mengibarkan bendera putih. Apa Main membalasnya.
Empat kapal Portugis dan tujuh kapal lada bersisian lajur laluan. Jarak kedua kafilah kapal dari arah berlawanan itu sekitar lima belas depa. Air laut pun bergulak. Kapal-kapal itu terus melaju. Ketika dua buah kapal paling akhir di kedua kafilah masih bersisian laju laluan, Kapten kapal Portugis mengangkat tangannya.

“Mereka adalah saudagar lada, bukanlah tentara Pasai, bunuhlah orangnya, ambillah ladanya!” Teriak kapten Portugis.

Maka kapal-kapal Portugis memutar haluan seraya membunyikan meriam. Perang pecah. Dua butir meriam menghantam sebuah kapal lada. Geladak bagian atasnya pecah. Seorang pelaut tewas, dua orang lagi terluka di bagian kakinya.

“Putarkanlah haluan. Hancurkanlah mereka. Tenggelamkanlah kapal-kapalnya!” Teriak Apa Maun. Maka serentak, pelaut pengawal lada mengarahkan meriam beserta panah api ke arah kapal-kapal Portugis.

Empat butir meriam menghantam bagian bawah kapal Portugis kedua dari depan. Kapal dari Eropa Selatan itu perlahan tenggelam bersama isi dan awaknya yang tewas dan terluka. Sebagian sempat melompat dan berenang di air yang memerah ke arah kapal lain. Suara meriam dan teriakan kedua pasukan kian menggema di laut. Tiga batang meriam menghantam kapal lada yang tadi rusak di bagian geladak atasnya.

Meriam-meriam itu menghantam dinding kapal dan dua belas karung lada di dekatnya. Butiran itu berhamburan di lantai kapal dan tumpah ke laut. Air mulai masuk ke kapal itu, beberapa saat lagi akan tenggelam.

“Lemparkanlah perahu, angkutlah awak yang tewas dan terluka, ambilkanlah lada di sana!” Teriak Apa Maun.

Lima butir meriam menghantam kapal Portugis terdepan. Kapal itu mulai berguncang. Tidak ada harapan bisa berlayar lebih dari satu mil. Melihat kejadian itu, dua kapal Portugis yang masih utuh memutar haluan.

“Kita belum selesai, bulek!” Seorang pelaut dari Peureulak menembakkan meriam ke kapal Portugis yang ingin menyelamatkan diri. Tidak kena.

“Biarkan mereka!” Kata Apa Maun.

“Tapi, mereka yang memulai, seorang temanku tewas!”

“Tugas kita menjual lada, dan pulang membawa emas dan barang dari Benua Asia, bukan mayat Portugis,” kata Apa Main.

“Setelah ini selesai, akan sahaya kejar mereka ke Malaka, apabila mereka tidak berada lagi di sana, akan sahaya kejar walaupun ke hujung dunia,” pelaut dari Peureulak itu melepaskan beberapa panah api ke kapal
Portugis yang paling belakang. Kena. Terlihat seorang pelaut Portugis terbakar dan jatuh ke air.

Kapal Portugis pun lenyap daripada pandangan. Laut kembali hening, sesekali ada desir angin. Mereka menyembahyangi jenazah pelaut yang tewas dan mengobati yang terluka. Jenazah pelaut itu mereka awetkan dengan kapur barus dan lada, akan disemayamkan ketika mereka pulang.

Perahu-perahu telah ditarik ke kapal. Selain dua belas karung, lada-lada dari kapal yang mulai tenggelam dapat diselamatkan. Ketika matahari tenggelam. Kapal-kapal itu menyalakan lampu, kedap-kedipnya tampak seperti bintang-bintang kecil, memantul atas air, mengundang ikan dan pelaut.

Catatan Kaki:
1. Aru: Kerajaan Deli Tua (kini masuk wilayah Deli Serdang, Sumatera Utara).
2. Bab El Yaman: benteng atau gerbang Yaman, sebuah bangunan luas yang berusia ribuan tahun di Yaman, bagian Selatan jazirah Arab (sekarang UNESCO telah mendaftarnya menjadi benda Warisan Dunia).
3. Blang Ara: nama kampung di pedalaman Aceh Utara (sekarang pusat kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara).
4. Bulek: sebutan orang Pulau Ruja bagian utara (Pasai - Aceh) untuk orang Eropa karena matanya biru dan coklat, berambut merah, kulit putih. Di masa itu, sebutan bulek sebagai tanda merendahkan, sebagaimana sebutan Banggali atau Kleng untuk orang India.
5. Cutda: kakak.
6. Dirham: atau deureuham adalah dinas dari emas, mata uang yang berlaku di Kesultanan Samudera Pasai.
7. Gujarat: nama sebuah negeri di wilayah India Selatan.
8. Hormuz: Pelabuhan di Persia (masuk wilayah Iran sekarang).
9. Krông: balai tempat menyimpan hasil tani seperti padi dan lada yang dilengkapi dengan kurungan dari anyaman bambu.
10. Meukutop: istilah untuk tingkatan tertinggi bagi pengamal tarikat tasauf. 
11. Meurukon: seni tutur Aceh yang dipraktikkan berkelompok, syair-syairnya tentang hukum dan tauhid Islam.
12. Sana’ani: pakaian perempuan khas Yaman.
13. Pelabuhan Aden: pelabuhan tertua di Yaman, Arabia Selatan.
14. Perak: nama negeri di Semenanjung Melayu (salah satu negeri di Kedirajaan Malaysia sekarang).
15. Persia: nama bangsa yang kini menghuni Iran dan Afghanistan.
16. Portugis: sebutan untuk pasukan gabungan Eropa Selatan yang dipimpin oleh Spanyol (Spain) dan Portugal (Portugis).
17. Pulau Ruja: Pulau Sumatera.
18. Rapai: alat musik tabuh yang hanya ada di Aceh. Benda bernama rapai ini ada beberapa jenis, yaitu: Rapai Pase (ukurannya paling besar, hampir menyamai ukuran bedug), Rapai Uroh (berukuran besar tapi lebih tipis daripada rapai pase), (dan yang berukuran kecil) Rapai Culot, Rapai Grimpheng, Rapai Saman.
19. Sailan: Sri Lanka (negara pulau di tepi Selatan India).
20. Samudera Pasai: sebuah kesultanan Islam pertama di nusantara yang mencapai peradaban tinggi di zamannya, berpusat di Geureudong (Aceh Utara sekarang)?, pelabuhan terbesarnya tempat berlabuh kapal dari berbagai negaranya ebrada di Blang Lancang (sekarang menjadi pelabuhan PT Arun, di wilayah Kota Lhokseumawe).
21. Seudati: tarian khas pesisir Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki