Jalan Kaki 5 Km di Malam Mawardy Nurdin Meninggal

Rembulan meredup di langit terlihat dari tepi kolam di ruangan tengah rumah dinas walikota Banda Aceh, beberapa jam setelah meninggalnya Mawardy Nurdin Walikota Banda Aceh, Sabtu 8 Februari 2014. Foto Thayeb Loh Angen.
Ini adalah pengalaman sahaya di malam meninggalnya pemimpin yang dikagumi, Ir Mawardy Nurdin, M.Eng, dalam masa masih menjabat sebagai Walikota Banda Aceh untuk periode kedua (2012-107). Ia meninggal dunia sekitar pukul 19.30 WIB, Sabtu, 80 Februari 2014.

Saat itu sahaya tengah menulis seraya membuka laman-laman kabaran dari dunia maya. Terdapatlah sebuah kabar mengejutkan bahwa Mawardy Nurdin telah meninggal dunia dengan pembicara (nara sumber) anaknya Rinza Mawardy, diliput oleh Murdani atjehpost.com.

Itu terpercaya, pikir sahaya, mengingat beberapa jam sebelumnya wakil Walikota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal membantah kabar meninggalnya Mawardy Nurdin. Memang saat itu ia masih hayat.

Lalu sahaya mengambil berita tersebut dan mengalihbahasakannya ke bahasa Inggris dengan bantuan google.com dan sahaya siarkan di blog www.newyatsribtimes.blogspot.com (blog ini akan menjadi website khusus berbahasa Inggris bernama www.newyatsribtimes.com segera setelah templatenya selesai dibuat).

Untuk meyakinkan lagi terhadap berita itu, sahaya menghubungi ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia. Ia membenarkan.

Lalu seorang kawan baik menganjurkan untuk sahaya supaya menjenguk Mawardy Nurdin karena sahaya banyak kenangan dengan allahyarham, sebagai pertemuan terakhir. Maka perkataan itu membuat sahaya langsung teringat pengalaman dengan Mawardy Nurdin dalam beberapa kesempatan sejak 2010. Tanpa sadar airmata sahaya menitik beberapa kali. Sahaya bersedih. Ya, bersedih.

Setelah sahaya menyiarkan sebuah tulisan tentang allahyarham yang fotonya dibantu perbaiki oleh Aldi yang baru muncul ke kedai kopi itu, sahaya mengajak Aldi menuju ke rumah duka. Ia setuju. Maka sahaya ikut Aldi dengan  Mitsubisi Lancer Evo 4 miliknya. Bersama kami ada Zulfadli Kawom dan seorang kawan Aldi bernama Sulaiman.

Sesampai kami di rumah dinas Walikota Banda Aceh, tidak ada seorang pun yang sahaya kenal sebagai teman untuk diajak ke ruangan tempat jenazah ditempatkan sementara. Setelah beberapa waktu terlihat Ramli Asisten Walikota. Ia tidak masuk ke dalam saat itu.

Sahaya berjalan ke sana kemari di halaman, setelah beberapa puluh menit, berpapasan lagi dengan Ramli. Ia meminta sahaya masuk sementara ia tidak masuk karena sudah dari tadi penjabat itu di sana. Sahaya pun masuk ke dalam rumah besar itu karena sudah iizinkan oleh pejabat pemkot Banda Aceh, pikir sahaya.

Di dalam sana sahaya melihat-lihat, tidak ada yang saya kenal. Ada sekda terlihat di sebuah ruangan di sampingnya ada orang membaca surat Yasin, tetapi tidak ada jenazah di sana. Di ruangan tengah yang luas ada beberapa tumpukan orang, tidak sahaya kenal (nantinya sahaya baru tahu bahwa di antara mereka ada Yudi Kurnia Ketua DPRK Banda Aceh).

Sahaya berjalan terus sampai terlihat dari jendela yang di baliknya ada ruangan tempat jenazah ditaruh sementara dengan banyak orang membaca surat Yasin di sekelilingnya. Sahaya duduk di kursi di tepi jendela itu memandang jenazah yang dibalut dengan kain putih dari sana. Sahaya ingin ada kenalan di sana supaya bisa masuk melihat Mawardy Nurdin lebih dekat walaupun sudah ditutupi dengan kain putih. Setelah mengambil beberapa foto kolam di ruangan tengah yang tampak langit dengan bulan bercahaya temaram, sahaya pun keluar.

Di pintu terlihat Amir, suami Wakil walikota Banda Aceh Ililza Sa'aduddin Djamal. Sahaya menyalaminya. ia terlihat terburu-buru. Lalu terllihat Illiza, sahaya melewatinya. Tetapi sahaya berbalik lagi untuk sekedar menyalaminya yang tengah berduka raya. Lalu sahaya menuju tempat Aldi dan rekan lain yang menunggu.

Setelah berbincang beberapa saat dengan Aldi dan kawan-kawan, muncul Suryadi (Dedex Ktb), maka sahaya temui dia untuk sahaya ajak masuk lagi supaya ada kawan melihat jenazah Mawardy Nurdin dari dekat. Tetapi katanya ia sudah masuk sebelumnya.

Namun akhirnya Suryadi mahu juga masuk dan melihat-lihat. Zulfadli ingin masuk juga tetapi tidak jadi karena Aldi tidak mahu masuk karena memakai celana yang hanya menutupi sampai lututnya. Ia menuju ruangan tengah. Saya ikut dan bersalaman, baru sahaya tahu di ternyata itu majelis Yudi Kurnia.

Ketua DPRK mempersilakan sahaya ke ruangan jenazah. Suryadi duduk bersama Yudi Kurnia dan kawannya, sahaya masuk ke ruang tempat jenazah Mawardy Nurdin diletakkan sementara. Sahaya duduk sekitar tiga meter dari jenazah selama beberapa saat, lalu keluar lagi ke ruangan tengah dan berbincang beberapa waktu dengan Yudi Kurnia.

Sudah sahaya katakan bahwa sahaya bersedih sampai mengeluarkan airmata. Lalu, sahaya dan Suryadi keluar. Setelah ia menghilang, sahaya mencari-cari Aldi dan kawan lainnya. Tidak ada. Sahaya ingin menelpon Suryadi, tidak jadi karena arah rumahnya dan tempat sahaya berballik arah.

Sahaya menelpon Aldi, tidak ada jawaban karena tidak terhubung. Sahaya tidak ingat bahawa ada nomornya satu lagi yang aktif dan ada pada sahaya tetapi sahaya menghubungi nomor yang salah. Sahaya hubungi Zulfadli, setelah diangkat beberapa detik lalu terputus. Maka sahaya mengitari lapangan Blang Padang, sepi.

Akhirnya sahaya berkesimpulan untuk pulang naik becak atau jalan kaki ke kedai di Lampineung tempat sahaya meletakkan kereta. Sahaya terus menelpon Aldi di nomor yang salah, juga sahaya menelpon Zulfadli Kawom, ia angkat dan berkata sedetik, lalu terputus. Sahaya terus menghubungi dia setelahnya sampai lebih dari sepuluh kali. Tidak diangkat.

Di hadapan masjid raya Baiturrahman sahaya melihat sebuah becak tetapi tidak ada seorang pun di dekatnya. Sahaya terus berjalan menyeberangi jembatan Pante Pirak, ke Simpang Lima ke arah kantor Pos. Di sana ada sebuah becak, ongkosnya dikatakan 25 ribu Rupiah. Itu lebih daripada harga yang wajar.

Saya hitung-hitung, itu harga yang mahal, lagi pula sahaya sudah berjalan lebih daripada satu kilometer sampai kaki sahaya kebas. Maka sahaya memilih meneruskan perjalanan dengan kaki, hitung-hitung olahraga kembali mengingat beberapa tahun lalu sahaya pernah berlari-lari lebih daripada sepuluh kilo meter. Kaki sahaya semakin kebas. Sampai di Beurawe, sesekali sahaya berlari-lari kecil. Sahaya sudah berjalan kaki sekitar empat atau lima kilo meter.

Sampai di perbatasan Beurawe-Lambhuk, Aldi menelpon. Ia terkejut begitu tahu sahaya pulang berjalan kaki. Maka ia menjemput sahaya. Kami bertemu di masjid Lambhuk. Itu artinya, ada sekitar satu kilo meter lagi ke kedai di  Lampineung, sahaya sudah mendapat tumpangan sehingga tidak perlu meneruskan berjalan kaki ke sana.

“Kata si Zulfadli, Thayeb pulang dengan Suryadi sehingga ia meminta kami segera pulang,” kata Aldi begitu sahaya sudah di dalam sedannya lagi.

"Mungkin sahaja kata Aldi ini benar, apabila tidak, maka ia tidak akan menjemput sahaya lagi," sahaya membatin.

Namun, sejatinya sahaya tidak tahu siapakah di antara Zulfadli dan Aldi yang sengaja meninggalkan sahaya tengah malam begitu. Apabila itu gurauan, kelihatannya berlebihan.

Ketika tiba di kedai Lampineuang, sahaya mengenderai kereta menuju tempat Aldi. Sampai di sana sahaya melihat, telapak kaki sahaya sedikit memar. Aldi menjelaskan tentang nomor teleponnya, baru sahaya tahu telah menghubunginya di nomor yang salah. Lalu sahaya menulis pengalaman tersebut, sampai setelah subuh diselesaikan langsung.

Itulah pengalaman sahaya di malam meninggalnya seorang pemimpin yang telah mengabdikan diri untuk kota Banda Aceh lebih daripada lima tahun. Pada kesempatan berikutnya akan sahaya jelaskan dengan rinci apa pengalaman sahaya dengan Mawardy Nurdin.

Saya akan menulis sebuah tulisan setiap harinya sampai hari seunujoh, artinya sampai hari ke tujuh meninggal Mawardy Nurdin ada tujuh tulisan sahaya tentangnya sebagai rasa duka terdalam dari sahaya tentang kehilangan seorang sahabat dan pemimpin yang dikagumi atas kecedasan, kebijakan, dan ketegasannya dalam memimpin pusat Aceh.

Sudah sahaya terangkan bahawa meninggalnya Mawardy Nurdin adalah kesedihan bagi sahaya. Sahaya salut dengan cara dia membangun kota Banda Aceh.

Selamat jalan pemimpin kami. Kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan semoga bertabah hati. Bagi yang merasakan bahwa almarhum pernah melakukan kesalahan terhadapnya, mohon dima'afkan sahajalah. Pada akhirnya, semua kita akan mati. Semoga Mawardy Nurdin mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya. Amin.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki