Taman Budaya Aceh Dipulangkan?

Bincang-bincang dengan Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, Adami Umar, di rumahnya, Banda Aceh, Kamis 23 Januari 2014. Foto: Thayeb Loh Angen.

Tadi malam kami bermuka-muka dengan kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, Adami Umar, di rumahnya, Banda Aceh, Kamis 23 Januari 2014. Banyak perihal yang diperbincangkan, namun yang paling utama dari sekaliannya ialah tentang Taman Budaya.

Taman Budaya Aceh (TBA) sampai kemarin belum dikembalikan hak mengunakannya kepada seniman dan pegiat budaya. Sejarah mencatat bahwa sekitar dua puluh tahun lalu TBA menjadi acuan daripada sekalian Taman Budaya di Indonesia karena ditangani oleh seniman. Hak pakai seperti itulah yang ingin dikembalikan, dan kali ini kita harus melibatkan pegiat budaya, bukan semata seniman, supaya sesuai dengan nama TBA.

“Saya tengah mencari siapa kepala Taman Budaya yang sesuai. Kini kita telah membuat aturan, apabila seniman dan pegiat budaya mahu melakukan kegiatan di Taman Budaya baik di dalam mahupun di luar ruangan, akan diberikan secara percuma, dengan syarat bawakanlah surat permintaan pemakaian tempat di TBA kepada Kepala Dinas untuk ditandatangani, maka belanja sewa tempatnya akan nol,” kata Adami dalam duduk berhadap-hadapan itu.

Namun, TBA di Banda Aceh bukan untuk seniman atawa pegiat budaya yang menghuni Banda Aceh semata. Tetapi ianya merupakan milik sekalian orang dari seluruh penjuru negeri Aceh. Banda Aceh telah memiliki Rumah Budaya sendiri yang dibelikan pada tahun lalu oleh Pemerintah Kota karena memenuhi harapan seniman.

Maka orang yang mengurusi Dewan Kesenian Banda Aceh atau Rumah Budaya Banda Aceh harus dijauhkan daripada mencampuri urusan TBA. Kita harus memperjelas diri supaya tidak ada yang tumpang tindih di dalam usulan dan kegiatan dalam membangun peradaban Aceh ini.

TBA seyogianya diperlakukan sebagaimana Taman Sulthanah Safiatuddin (TSS) atau Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang menjadi cermin dan perwakilan budaya daripada sekalian orang penghuni setiap wilayah (kabupaten/kota) di Aceh. Namun perkaranya, siapakah yang akan menghidupkan TBA jika nantinya dikembalikan kepada seniman dan pegiat budaya?

Apakah memungkinkan apabila rapai pase membuat TBA bergema di zaman ini, sementara seniman rapai pasè tengah kehilangan tempat di tanah lahirnya sendiri. Penting diingat bahwa, sepanjang sejarah, dalam bidang apapun itu, termasuk perang, Pasai (Pasè)-lah yang menjadi kekuatan utama untuk menggerakkannya baru kemudian diikuti oleh wilayah lain.

Itu terjadi karena Pasai memiliki sejarah gemilang selama ratusan tahun lebih dahulu daripada Aceh Darussalam dan ianya merupakan wilayah terbanyak penduduknya. Apabila ingin menghidupkan seni dan budaya di Aceh menjadi sehidup-hidupnya, maka bangkitkanlah semangat itu dari orang-orang Pasai (Aceh Utara dan Lhokseumawe sekarang). Akan baik sebagai permulaan, hadirkanlah acara rapai pase di TBA pada tahun 2014 ini.

Dan, walaupun orang Pasai merupakan pemenang (superior), tetapi tidak mesti mereka yang menjadi pemimpin utama karena setiap perwakilan wilayah memiliki hak untuk dipilih secara bermusyawarah oleh setiap perwakilan. Tetapi, bahwa mereka merupakan kekuatan utama yang mesti diajak sejak awal, itu benar.

Sesungguhnya, Taman Budaya itu bukanlah gedung kesenian atau dewan kesenian yang di dalamnya hanya menari, membaca puisi, menyanyi, berdrama, dan semacamnya. TBA mesti menampilkan sekalian budaya dari sekalian suku (Aceh, Melayu Tamiang, Aneuk Jamee, Gayo, Devayan, dan lain-lain) di Aceh, baik itu budaya dalam bidang seni, makanan, pakaian, bangunan, sastra, dan sebagainya.

Dalam pada itu, semalam, hadirlah Rahmad Sanjaya, Rasyidin Wig, Djamal Syarif, Jamal Abdullah, Anton Kurnia, Zulfadli Kawom, Jauhari Ilyas, dan beberapa orang lainnya. Sekalian yang hadir ini belum bisa mewakili daripada setiap wilayah, tidak terlihat orang yang berasal daripada pantai barat Aceh dan Melayu Tamiang di sana. Kepala dinas mengaku memiliki rencana yang sama dengan sekalian seniman, namun ianya mengeluhkan kadang usahanya itu terbentur dengan curak (sistem) di dalam pemerintahan.

Mulus atawa tidaknya usaha pengambilalihan dengan beradab ini, kita harus meyakini satu hal, bahwa TBA harus dikembalikan hak gunanya kepada pegiat budaya dan seniman. Perkara TBA wajib selesai dengan sebenar-benarnya dalam 1435 H/2014 M ini, tahun di hadapan 1436 H/2015 M, kita ada kegiatan lain. Maka, seniman, pegiat budaya, pemerhati sejarah atau sejarawan, peneliti harus dilibatkan di dalam Taman Budaya.

Anak kandung daripada budaya adalah ilmu pengetahuan dan seni, tulang punggungnya adalah sejarah, otaknya adalah pemikiran. Bicara budaya, tidak sesederhana membicarakan seni. Mengambil kembali TBA memang penting, dan yang lebih penting, apabila telah kita ambil, mahu kita apakankah ia nantinya.

Cukuplah sebagai pengajaran bisa kita lihat daripada rekan-rekan politikus kita, setelah mereka berhasil merebut kekuasaan di Aceh, mereka tidak tahu mesti membangunnya bagaimana. Juga seperti rekan baik kita yang menamakan dirinya Seniman Taman Sari, setelah merebut Dewan Kesenian Banda Aceh dan memilih ketua barunya secara terbuaru-buru, mereka tidak tahu mahu diapakan lembaga yang telah mati selama tujuh tahun tersebut.

Sebagai bangsa beradab, kita harus melakukan sesuatu dengan lebih beradab. Hukum tabur tuai di alam semesta ini berlaku. Sekalian daripada usaha kita demi membangun kembali peradaban atau kebudayaan khususnya di dalam bidang seni ini, seyogianya sesuai dengan amanah Allah Ta’ala dan hukum alam yang telah Dia takdirkan.

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis – Juru Propaganda Kebudayaan.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki