Sulutan Api untuk PA dan PNA


Siapakah pembakar mobil anggota PA (Partai Aceh) di Tanah Pasir Aceh Utara pada pukul 03.30 WIB, Minggu (19/1/2014). Sebagian orang akan menduga itu mungkin pembalasan oleh anggota PNA (Partai Nasional Aceh) karena rekan mereka dipukuli setelah menurunkan 10 lembar bendera PA di Lapang, Aceh Utara, pada Rabu, 15 Januari 2014.

Itu anggapan yang sepertinya masuk akal. Tetapi benarkah begitu kenyatannya di masa sekalian orang Aceh ingin bangkit setelah damai ini? Sejarah telah mengajarkan kepada kita banyak hal. Marilah kita lihat peristiwa yang terjadi setelah pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan ra.

Ali bin Abi Thalib membentuk tim kafilah penyidik untuk menemukan pembunuh Utsman. Ketika penyidik menemukan tanda-tanda siapa pembunuh itu, maka sekalian pembunuh mencari cara agar mereka tetap selamat. Mereka membagikan diri, sebagian masuk ke dalam kafilah Ali bin Abi Thalib ra dan sebagian masuk ke kafilah Umaiyah bin Abu Sofyan.

Tim pencari pembunuh terus melakukan tugasnya. Itu membuat para pembunuh Utsman ketakutan. Mereka menyadari bahwa Ali atau Umaiyah akan membunuh mereka apabila di suatu ketika nanti ditemukan.

Ketika malam tiba, pembunuh Utsman yang bergabung ke kafilah Umaiyah membunuh beberapa orang pasukan Umaiyah, lalu esoknya mereka menyatakan bahwa itu pasti dilakukan oleh kafilah Ali bin Abi Thalib ra. Tentu saja fitnah tersebut tidak bisa dipercaya dengan mudah.

Maka pembunuh Utsman yang berada dalam kelompok Ali membunuh anggota pasukan Ali ketika malam. Esoknya mereka menyatakan itu pasti dilakukan oleh kafilah Umaiyah. Fitnah itu  terus dilancarkan sampai terjadilah perang Siffin.

Dengan sejarah tersebut, ada kemungkinan bahwa yang terjadi di antara PA dan PNA seperti yang terjadi Antara Ali dan Umaiyah. Ketika PNA tenang saja menyikapi anggota mereka dipukuli karena menurunkan bendera PA, maka ada beberapa orang yang memanas-manasi anggota PNA. Ketika dilihat fitnahnya tidak mudah termakan, maka orang-orang tersebut membakar beberapa mobil PA.

Mungkin saja orang PA menyikapi hal tersebut dengan kepala dingin, tetapi penyusup yang ingin mengacaukan antara kafilah besar partai lokal di Aceh tersebut terus memanas-manasi. Mereka mengharapkan supaya sekalian sabotase itu termakan.

Namun apabila dilihat PA diam saja, maka akan ada tindakan selanjutnya, yang nantinya membuat PA yakin bahwa orang PNA telah menzalimi mereka walaupun mereka diam saja terhadap hal-hal sebelumnya. Api balas dendam terus dikobarkan oleh orang yang tidak diketahui.

Yang diinginkan oleh tukang sulut api yang entah berada di mana itu adalah keadaan yang membuat orang PA membumi hanguskan rekan mereka yang dulu sama-sama bergerilya untuk Aceh yang kini telah beralih ke PNA. Mengapa PA yang diinginkan harus melakukannya? Karena PA kafilah yang terbesar dan lebih kuat. Tidak mungkin sekalian orang yang tidak diketahui siapa mereka itu membuat orang PNA melakukan tersebut untuk PA.

Dan, mengapa harus di Aceh Utara atau Lhokseumawe (Wilayah Samudera Pase) kekacauan itu terjadi? Karena wilayah inilah pusat daripada perang di masa GAM, walaupun dipernyatakan di Tiro. Tetapi di Paselah yang terbanyak anggota militernya dan paling banyak perang diletuskan, dan di sanalah penduduk Aceh yang terbanyak.

Artinya, dalam kaca mata politik, Aceh Utara dan Lhokseumawe adalah wajah Aceh yang sebenarnya. Maka para pengacau itu mempertikakan PA dan PNA yang di sana.

Apabila kekacauan sudah terjadi sebagaimana kadar yang diharapkan, maka partai nasional (parnas) akan tenang-tenang saja karena lawan mereka telah saling bertikai keras. Dengannya, MoU Helsinki yang menjamin Aceh boleh membuat partai lokal (parlok) sepertinya tidak banyak berpengaruh dalam peta politik Aceh karena di antara parlok itu sudah saling membantai.

Kemungkinan besar, yang ditakutkan oleh orang-orang yang mengacaukan antara PA dengan PNA adalah seluruh parlok bersatu sehingga sekalian parnas akan kurang mendapat tempat lagi di Aceh. Keadaan itu menjadikan Aceh semacam negeri federal di dalam NKRI.

Yang memiliki kepentingan untuk menjalankan MoU Helsinki adalah sekalian parlok di Aceh, baik itu PA, PNA, PDA (Partai damai Aceh), dan sebagainya, karena sekalian parlok itu dilahirkan dari rahim MoU di Finlandia tersebut.

Parnas tentulah terancam dengan munculnya parlok karena mereka akan banyak saingan kuat dalam mendapatkan pengaruh di Aceh. Walaupun penduduk Aceh sedikit apabila dibandingkan dengan penduduk di propinsi lain di Indonesia, tetapi bagi sekalian parnas itu, mendapatkan tempat di Aceh adalah hal terpenting dan mutlak.

Nama Aceh, yang baru saja selesai berperang dan ditimpa bencara gempa dan tsunami, tentulah laku dijual di dalam persaingan nasional. Aceh itu seksi bagi mereka. Apakah orang-orang yang mengaku cerdas, tahu politik, mengaku membela Aceh, mahu memperjelaskan keadaan ini?

Oleh Thayeb Loh Angen

Tulisan terkait:

http://www.peradabandunia.com/2014/01/siteru-anggota-pa-dan-pna-memalukan-aceh.html
http://www.peradabandunia.com/2013/12/aceh-dalam-propaganda-pecah-belah.html.
http://www.peradabandunia.com/2014/01/aceh-dalam-propaganda-pecah-belah-2.html

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki