Strategi, Kampanye, dan Propaganda


Makna dari strategi telah dibicarakan oleh banyak pakar dengan banyak kalimat. Salah satu dari mereka mengartikan strategi sebagai ‘gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb). Yang dimaksudkan dengan strategi di sini adalah cara seseorang atau sebuah kumpulan orang untuk meraih keinginannya baik secara langsung maupun tidak langsung akan suatu atau banyak hal secara khusus atau luas.

Kampanye

Dalam tulisannya di academia.edu, Klisman Pasaribu mengutip Rogers dan Storey (1987:7) yang mengartikan kampanye sebagai “serangkaian tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu”.

Dalam masalah politik praktis, kampanye adalah ‘kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing untuk memperebutkan kedudukan di dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemilihan suara.

Tujuan Kampanye

Perubahan yang diinginkan melalui kampanye selalu terkait aspek pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan perilaku (behavioural) (Pfau dan Parrot, 1993:10). Ostergaard (2002) menyebutkan ketiga aspek tersebut dengan ketiga aspek ini bersifat saling terkait dan merupakan sasaran pengaruh (target of infuences)
yang mesti dicapai secara bertahap agar satu kondisi perubahan dapat tercipta.

Contoh Kampanye

Salah satu dari contoh dari kampanye sudah sering kita lihat, yaitu: bagaimana seorang calon presiden/gubernur/ bupati/walikota/geuchik mengampanyekan dirinya supaya dipilih oleh rakyat. Cara-cara itu melalui media massa, ceramah lansung, pembagian hadiah, tindakan yang menarik simpati, dan sebagainya. Itu dilakukan oleh mereka sendiri atau pendukungnya.

Propaganda

Propaganda adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari penerima/komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator (Santosa Sastropoetro, 1991 : 34).

Tujuan Propaganda

Propaganda biasa digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan keikutsertaan aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan digabungkan di dalam suatu organisasi.

Contoh dari Propaganda

Contoh pertama dari propaganda adalah apa yang dilakukan oleh partai politik dan donatur Jokowi-Ahok di Jakarta. Melalui media massa yang telah dicancang dari awal, dibentuklah sebuah kesan seakan-akan keduanya adalah pemimpin yang diharapkan oleh rakyat. Pemberitaan terhadapnya dibuat lebih banyak daripada pemberitaan terhadap Presiden RI sendiri. Kesan-kesan yang ditampilkan termasuk untuk mendapatkan simpati dari umat Islam, walaupun setelah mereka terpilih, yang pertama mereka serang adalah Islam.

Untuk mengetahui media mana yang telah berkerjasama dengan partai pendukung atau donatur Jokowi-Ahok, bisa dilihat dari media-media manakah yang pertama kali memberitakan setiap hal aneh yang mereka lakukan. Jika kita datang memeriksa sendiri, kita akan menemukan bahwa apa yang terjadi tidak sehebat yang diberitakan. Mungkin saja banyak orang lain melakukan hal yang lebih baik, tetapi tidak diberitakan oleh media.

Contoh lain dari propaganda, misalnya ketika Aceh tengah berusaha mendatangkan investor (pemberi modal) dari Malaysia untuk mendirikan sebuah pabrik. Namun begitu investor tersebut sudah menyetujuinya, secara tiba-tiba tersiarlah kabar bahwa ada penduduk Malaysia telah ditangkap di Aceh karena menculik anak-anak Aceh.

Dengan kejadian itu penduduk Malaysia tadi dimusuhi. Itu akan mengakibatkan, investor yang tadinya sudah bersiap untuk mendirikan perusahaan di Aceh, akan membatalkan niatnya karena alasan keamanan. Jenis propaganda tadi adalah sabotase (perusakan secara sengaja terhadap sesuatu untuk sebuah tujuan tertentu).

Satu lagi, dalam bidang agama. Untuk merusak nama baik Islam, pihak propagandis menciptakan kesan Islam itu butuh dengan cap ‘teroris’ (pengacau) yang seakan-akan telah mengacaukan kemanan dunia. Tebaran ketakutan disampaikan melalui pemberitaan media yang dibuat sedemikian rupa sehingga setiap negara akan mencurigai setiap penduduknya yang Islam.

Dengannya orang takut mengaku muslim dan perjalanan umat Islam dari sebuah negara ke negara lain akan semakin sulit. Setelah kesan yang diinginkan dari penduduk dunia dianggap sudah cukup, maka pihak pembuat propaganda bisa melakukan apa saja terhadap negara dan umat Islam. Tidak akan ada yang membantu karena akan dianggap teroris.

Ketika kesan itu dirasa sudah cukup, maka sebuah negara Islam sudah bisa diserang karena orang tidak akan membantahnya lagi, apalagi mendukungnya. Dan untuk melemahkan hukum Islam dari dalam, diciptakanlah isu HAM, Islam moderat, Islam liberal, dan sebagainya dengan melibatkan umat Islam sendiri. Padahal itu sama sekali bukan Islam. Dan banyak lagi contoh lain, baik dalam bidang ekonomi, politik, dan sebagainya.

Kesimpulan

Maka, hasil dari sebuah kampanye dapat dilihat dengan jelas, dan juru kampanyenya dikenal dengan baik. Misalnya mereka naik pangggung, mengunjungi rumah-rumah dan kedai kopi untuk mendapatkan suara, dan sebagainya. Namun hasil dari propaganda tidak dapat dikenali secara langsung sehingga tidak ada satupun perubahan atau peristiwa yang terjadi bisa dikaitkan langsung kepada juru propaganda (propagandis).

Orang hanya dapat menduga-duga bahwa ada tangan-tangan yang tidak terlihat telah menggerakkan sesuatu atau sebuah peristiwa secara sistematis (terancang dan terukur dengan baik) untuk jangka waktu yang lama. Propaganda itu seperti hantu. Bagi seorang propagandis, kebenaran yang disampaikan atau dipercapaikannya adalah apa saja yang sesuai dengan visi dan misi organisasinya.

Jika dibandingkan, perbeadan antara juru kampanye dengan juru propaganda adalah seperti seorang petinju dengan seorang ninja. Petinju akan menentukan siapa lawannya dan ia bertarung di sebuah ring dengan aturan tertentu, ia melakukan sesuatu dengan nyata di atas ring. Curang atau jujur dalam pertandingan itu terlihat dengan jelas. Bagi seorang petinju kemenangan merupakan hal mutlak dan harus ia banggakan.

Namun, seorang ninja tidak akan pernah memberitahukan siapa musuhnya dan selalu merahasiakan kapan ia akan menyerang. Kemenangan baginya juga hal mutlak, tetapi ia tidak akan pernah memberitahukan siapapun, apalagi membangga-banggakan kemenangan itu. Baginya, yang terpenting adalah membuat visi dan misi dari organisasi (perkumpulan)-nya tercapai. Semakin orang tidak tahu apa yang telah dilakukannya, semakin baiklah baginya.

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis - Juru Propaganda Kebudayaan
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki