Siteru Anggota PA dan PNA Memalukan Aceh


Anggota PNA (Partai Nasional Aceh) menurunkan 10 lembar bendera PA (Partai Aceh), lalu membuangnya ke parit, di Lapang, Aceh Utara, pada Rabu, 15 januari 2014. Kemudian beberapa orang yang mengetahui kelakuan Ramli melaporkan kepada kawannya yang lain.

Begitu ditemukan, Ramli alias Laong dipukuli sampai lembam-lembam dan berdarah. Kening, dahi dan pipi Ramli terluka. PNA meminta polisi untuk mengungkap kasus tersebut. PA membantah memukuli Ramli tetapi hanya mengamankan kejadian. Mengapakah peristiwa itu bisa terjadi?

Itu baru satu peristiwa, kalau kita tidak belajar dari sejarah, maka media-media akan dipenuhi peristiwa serupa sampai pemilu April 2014. Biasanya ada beberapa media yang sengaja memanas-manasi pertikaian supaya mereka mendapatkan berita menarik. Perihal ini telah kita sebutkan di dalam tulisan 'Aceh dalam Propaganda Pecah Pelah' (dapat dibaca di link yang disertakan di bawah tulisan ini -red).

Peristiwa semacam itu ada sedikit keganjilan. Orang Aceh mudah mema’afkan pembantaian orang Aceh oleh Belanda yang menewaskan sekitar seratus ribu orang, dari rakyat biasa sampai para pemimpin dan ‘ulama mereka bantai. Mengapakah kita bisa mema’afkan peristiwa DOM (Daerah Operasi Militer, 1990-an di masa Orde Baru. Mengapakah kita bisa mema’afkan peristiwa DM (Darurat Militer, 2003-2004).

Mengapakah kita orang Aceh begitu mudah berdamai dan mema’afkan kejahatan orang luar terhadap kita, sementara, apabila itu terjadi sesama Aceh, kita berani mati-matian? Peristiwa semacam itu membuat kita sedih bukan alang kepalang. Yang kita perjuangkan adalah martabat (bangsa) Aceh. Itu artinya, sebuah bangsa yang bermartabat akan selalu saling mema’afkan sesamanya.

Kejadian itu memalukan, sesama Aceh telah bertikai karena alasan kekuasaan. Ini mengingatkan kita kepada cara perpecahan yang dibuat oleh Belanda untuk anak-anak Aceh. “Ka jigilho ule yah kah.”

Itu diucapkan oleh pemicu keributan (provokator, orang ketiga) ketika salah seorang telah menginjak benda apa saja yang dijatuhkan oleh orang ketiga di hadapan dua orang. Benda itu telah dimisalkan sebagai kepala dari ayah kedua orang tersebut. Mereka dipengaruhi untuk berebutan, siapa berani menginjak lebih dahulu adalah yang terhebat, supaya memenangkan pertikaian yang saat itu belum terjadi dan alasannya pun tidak ada.

Perkelahian antara anak-anak, di masa beberapa tahun lalu, kerap dipicu oleh hal seperti itu. Setelah berkelahi, kedua anak itu luka-luka, maka masalah tersebut sampailah kepada orang tua mereka. Lalu kedua orang tua mereka saling ambil parang untuk membalas dendam karena anaknya dipukuli oleh anak si orang yang satu lagi.

Tidak ada seorang pun dari mereka yang mencari penyebab perkelahian, apalagi mencari orang ketiga yang menjadi pemicu. Dalam kasus untuk orang dewasa, Perang Cumbok terjadi dimulai karena perpecahan dengan cara tersebut. Pelan pelan, ulama dan bangsawan dipertikaikan selama beberapa tahun secara halus.

Ketika pertikaian semakin memanas, tidak ada lagi yang mencoba memerika penyebab awal dari pertikaian itu. Ketika ada yang mencoba membicarakan penyebab awalnya, selalu ada yang mengalihkan pembicaraan sehingga pertikaian kian memanas dan bersikukuh terhadap apa yang baru saja terjadi.

Sesungguhnya sejarah telah memberikan banyak pelajaran. Tinggal orang di zaman ini, apakah mahu mengambilnya atau tidak. Damai itu Indah. Sarungkan Rincong Ambil Pena.”

Oleh Thayeb Loh Angen

Tulisan terkait:
http://www.peradabandunia.com/2013/12/aceh-dalam-propaganda-pecah-belah.html.
http://www.peradabandunia.com/2014/01/aceh-dalam-propaganda-pecah-belah-2.html
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki