Aceh Tidak Butuh Sultan

Recep Tayyip Erdogan, Perdana Mentri Republik Parlementer Turki

“Hanya budak yang mengembalikan mahkota yang terjatuh”
-Kahlil Gibran

Dari sekian lama berdarah-darah dan terluka-luka di dalam dunia kebudayaan, ada hal yang menarik saya temukan. Ketika kami memperjuangkan kesadaran sejarah dan menawarkan sudut pandang baru untuknya, sebagian orang dari berbagai kelas masyarakat di Indonesia menganggap kami ingin menghidupkan kembali kesultanan, misalnya kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam lengkap dengan wilayahnya.

Tidak ada itu. Tidak ada seorang pun yang ingin menghidupkan kesultanan tersebut yang jelas-jelas, jika ada, keturunan mereka saja tidak melakukan apapun untuk Aceh di zaman sekarang. Ketika kedaulatan di ambang kehancuran, sang sultan tidak lagi berperang. Hanya para ksatria dan ulama yang bertempur atas nama kehormatan bangsa dan agama.

Maka kini, bagaimana kami mahu memperjuangkan kesultanan itu, lalu setelah berhasil kami akan serahkan kekuasaan kepada mereka yang kini hanya bersiul-siul, bahkan sebagian menjadi kaki tangan penjajah? Apakah mereka lebih bijak daripada para filsuf? Apakah kami ini budak-budak mereka? Tidak, Tuan-Tuan! Itu tidak akan pernah terjadi.

Kami bukan keturunan sekalian sultan itu dan bukan penjaga wilayah. Kami ini adalah ksatria yang memperjuangkan supaya citra kami sebagai sebuah bangsa bisa dikembalikan. Kami ingin menjadi penduduk dunia yang terhormat sebagaimana nenek moyang kami. Kami hanya menghormati para sultan, ulama, dan siapa saja yang telah berjasa terhadap peradaban kami.

Dan, curak pemerintahan yang diwariskan oleh sebuah keluarga tidak diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW, maka tidak ada aturan yang mengharuskan ketika raja wafat akan digantikan oleh anaknya atau kerabat lain. Maka menghairankanlah jika ada yang menyatakan bahwa Aceh akan patut dipimpin oleh sebuah keluarga. 

Sejak kapan kita menyembah manusia seperti sekalian budak? Rasul saja tidak mewariskan Daulah Islamiyah yang berpusat di Yatsrib (Madinah) kepada Fatimah binti Muhammad atau Ali bin Abi Thalib ra. Baru orang-orang setelahnya menjadikan kepemimpinan sebagai milik keluarga.

Sejarah bisa dimaknai sebagai khayalan tentang masa silam. Pemaknaan ini akan membuat sebagian besar orang marah. Biarkan saja. Jika bukan khayalan, sebagai apakah ianya harus disebutkan? Kerinduankah? Ingatankah? Tidak bisa. Bagaimana kita merindukan atau mengingat hal yang tidak pernah kita temui atau alami. Semuanya kita tahu melalui penuturan orang atau kita baca di sekalian tulisan. Berapa persenkah mereka benar?

Kami bukan pengagum masa lalu, hanya kami tidak menemukan tindakan atau tawaran yang sesuai untuk jiwa merdeka kami yang ditawarkan oleh sekalian rumusan masa kini. Kami ini adalah pencari, dan kami menemukan bahwa rumusan masa silam masih lebih mengena di jiwa. Kami ingin itu dilakukan oleh generasi di zaman ini, sebagai falsafah hidup kami dan mereka, bukan untuk kekuasaan atau apapun yang sangat mudah hilang. 

Kami akan menghapus sekalian hal yang terkait kepada pengagungan manusia dan kuasa dunia. Perbandingannya, jika hari ini Aceh dipimpin oleh seorang sultan yang tidak mengacu kepada yang telah dihasilkan oleh nenek moyang kami dalam bidang peradaban, maka sultan itu akan kami gulingkan dan mengggantikan bentuk negara yang majelis tertingginya dipimpin oleh para cendikiawan dan filsuf.

Hal seperti itu pernah dilakukan oleh Mustafa Kemal di Turki ketika menghancurkan anggota istana yang sudah berfoya-foya, dan ia menjadikan Turki sebagai negara republik yang hukumnya terpisah dari agama. Ia mengubah Turki berdaulat sebagai negara Turki tanpa kaitan apapun dengan Arab dan Islam, karenanya ia disebut Attartuk, Bapak Negara Turki.

Hanya kesalahan Kemal, ia menganggap asal keburukan itu karena Islam dan Arab sehingga ia menghapus apa saja tentangnya di masa itu. Namun, bangsa Turki beruntung, Mustafa Kemal membentuk falsafah hidup baru, ‘Kedaulatan bangsa Turki di atas segalanya’. Kini, melanjutkan republik tersesar yang mendiami Asia dan Eropa itu, Erdogan mulai mengembalikan Islam ke dalam curak pemerintahan.

Di Aceh, hal serupa pernah dilakukan oleh raja Samudera Pasai yang kemudian menjadi Sultan Al-Qahhar yang Agung, sultan ketiga Aceh Darussalam. Ia menghancurkan penindas yang menguasai istana Daruddunia. Sekalian cendikiawan dan filsuf di masa itu mendukung Al-Qahhar. Berbeda dengan Mustafa Kemal, Al-Qahhar menjadikan Islam sebagai Undang-Undang Dasar negara. Hal seperti Al-Qahhar, di zaman ini dilakukan oleh bangsa Iran.

Begitulah, Tuan-Tuan. Jangankan atas kerelaan sendiri, diperintahpun kami tidak akan menghidupkan pemerintahan keluarga yang berbentuk kesultanan di zaman ini. Kami ingin sebuah wilayah atau negara dipimpin oleh filsuf, bukan pencari kekuasaan yang jangankan mengurus kepentingan rakyat, mengendalikan perasaan dan pikiran mereka sendiri saja tidak bisa. Kami adalah anak dari masa depan, kamilah yang melahirkan ibu kami. I love my Aceh.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayan


Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki