Peta Kebudayaan Aceh Modern

Patut dipertanyakan, apakah kerja pegawai dinas kebudayaan selama ini? Apakah di dalam kantor itu, yang lelaki sibuk merias wajah dan memakai gincu di bibir serta yang perempuan juga begitu?

Kebudayaan Aceh modern adalah nasib pelestarian kebudayaan di zaman ini yang dilakukan oleh pemerintah. Dinas kebudayaan itu bukan milik pegawai dinasnya, tetapi itu adalah milik sekalian rakyat. Milik kita.

Maka, rakyat, terutama para pegiat kebudayaan harus memperbaikinya, apabila sekarang ditemukan pengurus dinas tersebut tidak sesuai maka harus dicari yang sesuai. Kita butuh orang yang tepat di tempat yang tepat dengan rancangan kegiatan yang tepat.

Pemetaan kebudayaan Aceh belum pernah dilakukan secara seksama dan lengkap oleh pemerintah dengan melibatkan sekalian ahli dan pegiat kebudayaan. Kegiatan yang sudah ada biasanya dilakukan secara terpisah dan masing-masing oleh dinas kebudayaan Aceh, kabupaten/kota, dan organisasi rakyat.

Tidak ada pemetaan ini mengakibatkan tindakan pelestarian kebudayaan yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat berjalan masing-masing, ada kegiatan yang tumpang tindih dan ada yang keliru ketika dicampur dengan seni hiburan dan perdagangan. Contoh tidak baik dari hal itu adalah pelaksanaan kegiatan yang memiliki pola sama hampir di setiap daerah di Aceh.

Termasuk PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) sekalipun masih seperti pasar malam dan hiburan untuk orang rendahan. Sementara seyogianya, kebudayaan adalah hal yang terhormat karena ianya merupakan bidang hasil pemikiran yang terukur dan penuh pertimbangan dalam waktu yang lama (peradaban).

Tanggung jawab utama dari pemetaan itu terletak di pundak pemerintah, dalam hal ini adalah dinas kebudayaan, baik ianya berdiri sendiri ataupun disandingkan dengan bidang lain seperti pendidikan, pariwisata, dan sebagainya.

Bagaimana dinas kebudayaan itu menjalankan tugas yang seharusnya sementara sekalian ahli itu tidak pernah dihubungi? Kegiatan-kegiatan pun mereka buat sendiri dengan melibatkan sekalian kerabatnya yang sama sekali tidak tahu menahu tentang kebudayaan.

Kekacauan itu semakin diperburuk ketika pegawai di dinas tersebut kurang memahami arti kebudayaan. Bayangkan saja sesuatu yang dilakukan oleh bukan ahlinya dan diperlakukan sebagai tempat mencari keuntungan materi.

Dengan buruknya cara kerja dinas kebudayaan, apakah ianya harus dibubarkan? Tidak. Dinas itu sangat penting. Pemerintah harus meminta rancangan tentang kebudayan kepada para ahlinya yang tersebar di Aceh, baik mereka tokoh dan pegiat budaya, orang di perguruan tinggi, maupun aktivis kebudayaan.

Sepertinya, selama ini, dinas kebudayaan tingkat Aceh atau kabupaten/kota telah melakukan hal yang bukan bidangnya, mereka telah menjadikan dirinya sebagai pekerja, sementara tugas mereka adalah meminta rumusan buah pikiran dari para ahli tentang kebudayaan, kemudian memberikan apa saja yang diperlukan untuk dapat dilaksanakan oleh ahlinya. Tugas dinas adalah memantau dari pelaksanaan rancangan tersebut.

Kebudayaan merupakan salah satu daripada sendi penting bagi peradaban sebuah bangsa. Itu bukan hiburan sebagaimana anggapan orang pemerintah selama ini. Penting dipahami bahwa kebudayaan dengan seni merupakan hal yang berbeda.

Ketidakpahaman orang akan hal tersebut membuat acara hiburan disebut acara kebudayaan, sebagaimana yang sering terjadi selama ini, dilakukan oleh pemerintah dan orang yang disebut tokoh budaya sekalipun. Itu memalukan.

Sesungguhnya, apabila pemetaan dilakukan, maka di Aceh sudah ada museum khusus untuk manuskrip, museum benda keras warisan, ruang penelitian bahasa dan sastra Jawi dan Aceh, ruang belajar tentang kearifan seni dan budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun, gedung pameran karya seni masa silam dan masa kini yang berhubungan dengan budaya Aceh, dan sebagainya.

Apakah itu semua sudah ada? Di mana? Patut dipertanyakan, apakah kerja pegawai dinas kebudayaan selama ini? Apakah di dalam kantor itu, yang lelaki sibuk merias wajah dan memakai gincu di bibir serta yang perempuan juga begitu?

Tidak adanya bentuk kegiatan dan bangunan yang tersebut tadi menjadi bukti belum adanya pemetaan tentang kebudayaan walaupun dinas kebudayaan itu lebih tua daripada sekalian pegawai dinasnya.

Sepertinya, dinas yang sangat penting itu sengaja dipermainkan supaya kebudayaan Aceh tidak bisa dilestarikan sebagaimana seharusnya. Pegawainya ditaruh orang-orang buangan, orang-orang bermental pencuri (korup -red) dan tidak mengerti akan hal kebudayaan. Sepertinya ini disengaja.

Maka, sekaranglah masanya bagi sekalian pencinta dan pegiat kebudayaan untuk memperbaiki semua itu. Jika tidak dilakukan sekarang, esok sudah terlambat. Apabila tokoh kebudayaan tidak memperbaikinya, mereka ikut bersalah.*

Oleh Thayeb Loh Angen, Aktivis - Juru Propaganda Kebudayaan (Cultural Propagandist).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki