Menulis itu Tidak Mudah, Kawan

Banyak penulis mengatakan bahwa menulis itu mudah. Bahkan ada buku berjudul ‘Ternyata Menulis itu Gampang’. Itu memang mudah apabila hanya sekedar menulis tanpa peduli apakah ianya sudah sebagaimana diinginkan atau belum. Pendapat bahwa menulis itu mudah adalah semata untuk menyemangati orang lain supaya bersedia menulis.

Tetapi, apabila ingin menulis cerita yang baik dengan cara yang baik, itu tidak mudah, Puan dan Tuan. Kalau mudah, tentulah sudah ada beberapa orang Aceh atau Indonesia yang mendapakan anugerah nobel sastra dunia. Makanya, jangan asal bicara. Penulis buku tersebut berdusta. Hehe.

Contohnya, untuk menyiapkan satu cerpen saja bisa memakan waktu berhari-hari, berpekan-pekan, berbulan-bulan. Itu kalau ingin menuliskan cerpen yang bagus memenuhi ukuran sastra yang baik. Cerpen saja bisa memakan waktu selama itu, apalagi novel atau roman. Maka, untuk menghasilkan sebuah buku cerita karangan, bisa bertahun-tahun, kawan.

Kabar baiknya adalah, kita tidak perlu mempunyai bakat besar untuk bisa menjadi penulis. Tentu saja kita harus bisa membaca dan mengenal huruf sebagaimana yang diajarkan oleh guru sekolah dasar atau madrasah dahulu. Cukup itu, selebihnya adalah berusaha keras, dan lebih keras daripada orang lain.

Cerita karangan? Berarti itu cerita yang dikarang-karang, dan pekerjaan penulisnya adalah mengarang-ngarang cerita? Benar. Cerita yang dikarang-karang itu ada beberapa macam bentuk. Mereka dibagi ke dalam dua kafilah besar.

Pertama, disebut prosa. Mereka adalah cerpen, novelet, novela, novel atau roman, dan hikayat.
Kedua, disebut puisi: mereka adalah puisi, syair, sanjak, pantun, dan sebagainya.

Panjang cerita karangan tersebut bemacam-macam. Sebagian orang telah menentukan panjang cerita karangan, yaitu:

Novel panjangnya di atas 50.000 kata, Novella: 20.000-50.000 kata, Novelet: 7.500-20.000 kata, Cerpen: 1.000-7.500 kata, Flash fiction: di bawah 1.000 kata.

Namun, orang Indonesia yang malas menghitung angka, biasanya seringkali mengukurnya dengan jumlah halaman. Apabila dihitung menurut ketebalan halaman, maka dengan font Times New Roman 12, spasi 1,5, dalam batas normal, ianya:

Novel memiliki had paling kurang 100 halaman, novelet paling kurang 60 halaman, cerpen paling kurang 5 atau 6 halaman, cerita sangat singkat (flash fiction) cukup sepanjang satu halaman. Itu ukuran yang sering dipakai oleh sekalian orang.

Bagaimana dengan puisi, sanjak, syair, dan hikayat?

Belum ada yang menentukan jumlah kata untuk mereka. Karena belum ada yang menentukannya, maka saya menentukan berapa panjang mereka di sini.

Sya’ir

Apabila kita mengacu kepada syair-syair karya Bapak Sastra Melayu Hamzah Fansuri, tidak ada batas panjangnya. Ia bisa setengah halaman, bisa satu halaman, bisa sepuluh, seratus ataupun lebih daripada seribu halaman.

Puisi

Puisi atau sanjak juga tidak memiliki ukuran panjang. Ianya bisa dari satu baris (larik –red) sampai berpuluh beratus baris.

Hikayat

Hikayat adalah sebuah cerita panjang yang terdapat di dunia Melayu, itu seumpama novel dalam istilah Eropa. Bedanya, hikayat adalah cerita panjang yang dituliskan bersajak sebagaimana sya’ir. Panjangnya juga tidak berbatas. Hikayat tersebut, misalnya Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Prang Sabi, Hikayat Pocut Muhammad, dan sebagainya.

Hikayat adalah cerita karangan atau fiksi sebagaimana novel atau roman. Maka, Hikayat Raja-Raja Pasai tidak bisa menjadi acuan (referensi) sejarah karena itu cerita karangan. Apabila sebuah cerita bukan karangan atau ianya merupakan sejarah, maka orang Aceh dan dunia Melayu menyebutkannya dengan riwayat. Misalnya Kitab Riwayat Nabi.’

Bagian-bagian

Walaupun ada sedikit perbedaan di beberapa tempat, tetapi anggap saja cara menuliskan cerita karangan yang berbentuk prosa itu semuanya sama. Mereka itu butuh pembuka, tokoh, tempat (setting), alur, plot, suara, adegan, humor (senda tawa), percakapan (dialog), penutup, dan revisi (perbaikan).

Syarat menulis cerita karangan

     1. Memiliki:
              a. Keinginan kuat untuk menulis
              b. Alat tulis, seperti: pena, buku tulis, komputer, laptop, HP, Iphon, dan semacamnya.
              c. Waktu untuk menulis

Cara menulis cerita karangan

     1. Mulailah menulis sekarang.
     2. Teruslah menulis setiap hari.
     3. Carilah ilham (inspirasi) untuk memperbagus tulisan.
     4. Membacalah banyak buku.
     5. Menyelesaikan tulisan.
     6. Mintalah saran kepada kawan tentang tulisan Anda kepada siapa yang mahu menjadi sukarelawan untuk membacanya. Kalau ia bilang ‘buruk’ berarti memang buruk. Berterima kasihlah kepadanya karena telah menyediakan waktu untuk membaca dan menilai, lalu perbaikilah tulisanmu.

Saya sampaikan nasehat seorang guru, yakni, ‘jangan biarkan siapapun mencuri impianmu.” Dan, teruslah menulis, terserah orang mahu mengatakan apa saja tentang tulisanmu. Teruslah menulis. Perbaikilah dirimu, perbaikilah tulisanmu. Selamat menjadi penulis.

Oleh Thayeb Loh Angen, penulis novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki