Masyarakat Aceh Modern


Masyarakat Aceh dapat dibagikan ke dalam tiga jenis menurut zaman mereka hidup, yakni:

Pertama, masyarakat Aceh yang hidup di masa gemilang

Masyarakat Aceh yang hidup di masa gemilang, yaitu orang-orang yang hidup di zaman Samudera Pasai dan Aceh Darussalam sampai perang dengan Belanda yang dimulai pada 26 Maret 1873 (pertengahan abad XIII – akhir abad XIX Masehi, 600 tahun lebih). Gemilang yang dimaksudkan di sini bahwa orang Aceh di masa itu dapat menentukan apapun sesuai dengan keinginan mereka, atas nama diri mereka sendiri.

Curak pemerintahan, teknologi, penghidupan, pendidikan, pemikiran, dan semacamnya semua dapat dilakukan atas nama bangsa sendiri. Budaya apapun yang ingin dipertahankan atau apapun yang ingin diambil dari luar untuk disesuaikan dengan budaya yang sudah ada dapat dilakukan dengan mudah.

Kedua, masyarakat Aceh yang hidup di masa kegelapan

Ini adalah masyarakat yang hidup sejak Belanda menyerang Aceh sampai MoU Helsinki 2005 (1873 – 2005 adalah 132 tahun). Dalam masa itu, keamanan menjadi lebih penting daripada sekalian hal lain. Perang datang bertubi-tubi di seluruh penjuru negeri. Budaya yang baik dari hasil peradaban sebagian besar tidak dapat dipertahankan karena masalah keamanan penghidupan. Budaya yang dipaksakan dari luar tidak bisa disaring karena penyebab tadi.

Ketiga, masyarakat Aceh yang hidup di masa modern

Masyarakat Aceh modern adalah yang berada di masa kini. Mereka lahir dan pernah hidup di masa kegelapan yang menindas kehidupan dan pemikirannya. Secara keturunan ia masih Aceh. Namun secara pemikiran, gaya hidup, sudahlah menjauh dari ciri Acehnya sebagaimana generasi yang hidup di masa gemilang.

Masyarakat Aceh modern bisa menentukan sikapnya tentang Aceh, walaupun hanya beberapa perseratus daripada yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang hidup di masa gemilang. Di masa ini, orang Aceh mulai mencari-cari bukti kegemilangan di masa silam untuk mengenali dirinya; bahwa selama hampir tujuh ratus tahun mereka pernah menjadi bangsa pemenang dan pernah dikalahkan dengan licik.

Kesadaran tentang masa silam tersebut dapat menghibur orang Aceh di masa modern yang baru keluar daripada zaman kegelapan. Namun mereka tersentak, ketika menyadari bahwa mereka telah tertinggal selama sekitar dua ratus tahun daripada bangsa-bangsa lain. Mereka tersadar bahwa nenek moyang (indatu) di masa gemilang dapat duduk bersanding bahu dengan bangsa-bangsa kuat dunia sekarang, misalnya Cina, Jepang, Turki, Inggris, dan Perancis.

Sekitar sepuluh atau lima belas tahun setelah berakhirnya masa kegelapan, orang Aceh modern masih mencari jatidirinya. Mereka akan terlihat seperti sekumpulan besar manusia yang kebingungan; mereka tengah hidup di masa kini dan menuju masa depan, sementara masa kegemilangan itu sudah tertinggal sekitar dua ratus tahun di belakang. Masa lalu tidak bisa diulang.

Maka orang Aceh modern, secara serentak tanpa terencana (kolektif) membentuk sebuah curak kehidupan Aceh baru, yakni, mereka mencoba mengambil kembali pemikiran pemenang di masa silam dengan sekalian semangatnya sebagai bahan untuk hidup di zaman ini dan menuju masa hadapan. Ini menjadikan masyarakat Aceh modern sebagai manusia lintas zaman. Mereka adalah bayang-bayang daripada masa silam yang gemilang, tetapi menjadi orang-orang kalah di zaman ini.

Aceh modern berusaha keras menjadi pemenang kembali dan berusaha membantah kekalahannya. Pembantahan pada kekalahan ini menyebabkan tersendatnya jalan menuju kemenangan. Maka muncullah sebagian orang yang menyatukan antara masa gemilang dan masa kini di dalam pemikiran dan semangat orang Aceh yang hidup di zaman modern.

Apabila ini terjadi, maka masyarakat dunia di masa hadapan akan menemukan Aceh sebagai kumpulan manusia yang dapat hidup dengan pemikiran di zaman silam tetapi tubuh mereka dapat bersanding dengan bangsa-bangsa besar di zaman hadapan. Aceh menjadi pemenang kembali.

Dengan kata sederhana, Aceh tengah membentuk peradaban gemilang, baik ianya memiliki negara sendiri sebagaimana di masa gemilang mahupun tidak. Arah yang tengah dibentuk mengacu kepada pemikiran dan kebudayaan, bukan politik sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan orang.

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki