Lutung di Kota yang Terluka

Di sebuah kota yang terluka dan menderita karena disayat-sayat oleh peghuninya, hiduplah beberapa kafilah orang pandai. Mereka duduk di balai-balai, di kantor-kantor, di kedai-kedai kopi.

Adalah kebiasaan mereka memfitnah siapa saja yang tidak bersama mereka. Itu mereka lakukan seraya mengusap-usap peci di kepala mereka seraya membuang puntung rokok dan sampah lain bertebaran di lantai.

Seorang kontraktor memukul-mukul kepalanya pada sebuah dinding,
“Payah, sebuah pekerjaan bernilai satu milyar, kita hanya dapat uang sedikit karena harus membagi-bagikannya dengan kepala dinas, orang yang mendekatkan dengan dia, juga dengan kepala penjahat. Maka pekerjaan dengan jumlah uang sebesar itu, paling bisa dipakai empat ratus juta, selebihnya sudah dibagi-bagi.”

Di sudut kedai, di sebuah meja, ada sekafilah orang berbicara dengan anggota Dewan.
Kata Mahasiswa, “Kalian perlu mengkhususkan uang untuk kegiatan yang membangun pemikiran dan akhlak orang, bukan semata pengejaan kebendaan seperti jalan dan semacamnya.”

Angota Dewan menjawab, “Bagaimana kami bisa ambil untung dari mengalirkan uang untuk kegiatan seperti itu?”

Lalu dalam beberapa saat, percakapan itu berakhir.

Seorang pendongeng, lelaki berambut panjang, datang langsung berkata-kata.
Di masa perang, orang-orang kampung dan kota berkata,

"Janganlah kalian berperang lagi, kami susah mencari rizki dalam kekacauan."
Maka orang-orang perang pun berdamai.
Lalu, orang-orang kampung dan kota berkata,
"Lebih mudah mendapat rizki pada masa perang daripada masa damai."

Sekafilah lutung yang melihat peristiwa itu berkata,
"Oleh karena itu kalian semua jadilah orang perang, sehingga bisa menjadi penguasa dan terhormat di masa damai dan perang."

Sekawanan keledai yang mendengarnya ikut berkata-kata:
“Kalian itu seperti keledai, yang berperang dulu adalah kalian, tetapi yang dinaikkan gaji adalah PNS. Pekerjaan-pekerjaan besar dipegang oleh perusahaan luar, kalaupun kalian yang memegangnya, tetapi untungnya untuk orang luar karena kalian memakai uang mereka.”

Seekor lutung marah mendengar ucapan si keledai.
“Saya ini kepala kafilah, jangan berbicara sembarangan seperti keledai.”
Maka keledai itu menjawab, “Itu benar, engkau adalah kepala kafilah sekalian lutung.”

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki