Lada Sicupak untuk Erdogan (Anekdot)


INILAH percakapan antara beberapa orang rekan dengan saya tentang hubungan antara Aceh dan Turki di masa sekarang yang mengacu kepada hubungan masa silam di masa Ottoman. Percakapan itu terjadi dalam beberapa waktu di tempat terpisah dengan jumlah anggota yang berbeda sehingga nama sekalian rekan tidak bisa saya sebutkan di sini.

Namun untuk mudah tergambarkan, maka saya rangkumkan saja semuanya. Tetapi ini tetaplah kisah sebenarnya, bukan karangan sebagaimana Ebru Gulsen, Penyair dari Istanbul. Percakapan ini terjadi di beberapa tempat di Banda Aceh. Namun di Kantin Smea, Lampineung, Banda Aceh, lebih sering terjadi.

Malam itu, sebelum ke pengajian sekalian wartawan, terjadilah percakapan.

Kawan 1: "Kapankah kita bisa pergi ke Turki?"
TLA : "Tidak tahu, saya belum pernah ke sana dan belum ada rencana."
Kawan 2: "Bagaimana bisa belum ada rencana, bukankah engkau di organisasi Turki?"
TLA: "Benar, apa hubungannya?"

Kawan 3: "Kita harus ke Turki, sampaikan itu kepada Dr Mehmet Ozay. Kalau sudah jelas waktu berangkat, tolong kabarkan kepada saya agar bisa mempersiapkan diri. Berapakah cukup uang kalau kita ke sana?"
TLA: "Setahu saya, tiket PP-nya seharga 16 atau 17 juta Rupiah, itu yang termurah. Ada keperluan apakah di Turki?"

Kawan 3: "Bukankah dulu Turki membantu Aceh. Kita perlu menjalin hubungan itu kembali."
Kawan 2: "Iya, itu benar. Dan setelah tsunami, pada 2005 juga ada."
Kawan 1: "Kita harus melanjutkan hubungan itu, engkau jangan berpura-pura bodoh." (tertawa)
TLA: "Bagaimanakah kita melanjutkan hubungan tersebut, itu terjadi di masa kesultanan Aceh Darussalam dan Ottoman. Turki sekarang negara republik parlementer, dan Aceh hanyalah sebuah propinsi dari negara miskin yang banyak pejabatnya mencuri (korup)."

Kawan 2: "Tetapi orang Turki atau orang Aceh sekarang adalah keturunan orang di masa dulu juga. Engkau ini jangan berbicara yang aneh-aneh."
TLA: "Jika membuat hubungan sebagaimana yang engkau maksudkan, tidak bisa. Sebuah negara besar dan kuat seperti Turki tidak mungkin menjalin hubungan dengan sebuah propinsi kecil yang peradabannya rendah."

Kawan 2: "Engkau jangan merendahkan Aceh. Dulu Aceh punya neara yang luas sampai ke semenjanjung."
Kawan 1: "Kita ini pernah gemilang. Melaka dan beberapa negeri lain di Semenanjung yang kini menjadi wilayah negara Malaysia adalah propinsi Aceh di masa dahulu."
TLA: "Itu dulu, sekarang, jangankan memiliki propinsi, Aceh saja berstatus propinsi. Kita tidak memenuhi syarat untuk menjalin hubungan dengan negara Turki seperti dahulu. Tidak ada kesempatan."

Kawan 3: "Tidak bisa, negara Turki tidak bisa seperti itu, mereka harus ingat kepada sejarahnya."
TLA: "Mereka ingat, cuma mereka terlalu besar dibandingkan kita zi zaman sekarang. Kalau dahulu, walaupun mereka jauh lebih besar juga, tetapi tingkatannya sama-sama negara. Sekarang bukan."

Kawan 1: "Lalu bagaimanakah caranya agar kita bisa melanjutkan hubungan itu. Apa yang harus kita lakukan."
TLA: "Hubungan itu tetap berlanjut sampai dunia kiamat, tetapi kalau status Aceh adalah propinsi berarti bukan hubungan antara negara dengan negara, tetapi hanya hubungan sejarah."

Kawan 2: "Pokoknya kita harus ke Turki."
TLA: "Kalau untuk sekedar berjalan-jalan, bisa."

Kawan 2: "Harus lebih daripada sekedar itu. Kita harus melanjutkan sejarah."
TLA: "Baiklah, apa yang akan kita tawarkan kepada negara Turki supaya mereka tertarik untuk menjalin hubungan dengan Aceh sebagaimana indatu mereka? Kalau dahulu ada alasan bahwa kita tengah berperang dengan Portugis, musuh yang sama dengan Turki."

Kawan 1: "Sejarah bisa berulang."
TLA: "Maksudmu, bagaimana? Apakah kita akan membawa segenggam lada, alalu Tuan Erdogan akan memberikan sbuah meriam berserta banyak ahli, lalu kita pulang bersama mereka? (Saya peuseunaluk)

Kawan 1: "Tentulah, seperti dulu, kita bawakan lada sicupak. (Kawan ini ikut menjadikan pembicaraan yang serius tadi menjadi senda gurau)."
Kawan 3: "Benar, kita, masing-masing membawa satu genggam, tidakkah itu menarik?"
Kawan 2: "Menarik, kita bawakan satu genggam lada kepada Tuan Erdogan." (Semua kami tertawa).

Kawan 1: "Itu cocok. Sesampai di sana, kita menghadap Tuan Erdogan dengan menghiba-hiba seperti utusan Sultan Al-Qahhar menghadap Sultan Selim II,
“Yang Mulia Tuan Perdana Menteri, terimalah persembahan kami, mohon beribu ampun, Tuan gubernur mengirimkan tujuh kapal lada dan banyak perhiasan emas dan mutiara untuk menukarnya dengan bebagai keperluan perang supaya kami dapat mengusir Portugis dari perairan Melaka, tetapi hanya lada sicupak yang tersisa yang dapat kami persembahkan.”

Kawan 3: "Cocok. Itu persis permohonan ampun oleh Duta Besar Emirat Arab kepada Tuan Erdogan, kemarin, karena takut diserang. Kalau diserang, maka dalam satu menit, Burj El Khalifa menjadi puing-puing berdebu api dan asap."

Akhirnya kami tertawa. Ketika tawa kami reda, kawan itu mulai berkata-kata serius lagi.

Kawan 1: "Bagaimana, Thayeb, kapankah kita ke Turki?"
TLA: (Garuk-garuk kepala yang rambut semakin menipis, begumam “Waduh, kawan ini.”) Karena kita akan membawa lada, dan kebun lada belum ada, maka kita harus membuat kebun lada terlebih dahulu, lalu menanam lada-lada itu, ketika butir-butirnya ranum, maka kita petik, kita kumpulkan sampai memenuhi tujuh kapal, barulah kita ke Turki."

Mendengar jawaban yang tidak seperti diinginkan itu, sekalian kawan bukannya marah, tetapi tertawa mengingat sebuah pepatah Aceh yang menandakan Aceh di masa dahulu adalah negeri penghasil banyak lada.

Kawan 1, Kawan 2, Kawan 3: Beutôi, bèk atè ka trôk kapai barô tajak pula lada. (Benar, janganlah ketika kapal berlabuh baru kita menanam lada -red).

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki