Kuda dari India

Cerpen Thayeb Loh Angen 
Penulis Novel Teuntra Atom

Tuanku Bén Surén melihat jalan beraspal yang sisinya kerikil berdebu. Enam ekor kuda putih milik Geuchik Raman muncul secara tiba-tiba di jalan sebelah barat rumah pembuatan bahan bangunan itu. Setiap sore, binatang bersepatu karet dan besi itu berlari kencang tanpa penunggang.

Ia berlari menusuri jalan utama gampông dan pulang lewat jalan lingkar sehingga sampai di kandang tanpa harus melewati jalan yang sama. Ketika binatang itu lewat, debu-debu mengepul, dedaunan dan pohon kecil terhembus angin secara bersamaan.

Bahkan, orang-orang yang berdiri tidak kukuh ketika itu akan terhempas jatuh. Setelah beberapa saat, pemandangan yang ditunggu-tunggu menghilang bersama lenyapnya suara derap kaki. Binatang itu dilatih sejak bayi oleh pemiliknya. Penduduk membanggakan kecepatan lari peliharaan pemimpin mereka. Tidak tertandingi.

Binatang dari India tersebut tidak pernah diikutkan dalam pacuan antarbangsa yang diadakan setiap tahun di Kota Masa Silam. Si pemiliknya yang selalu bersurban setiap keluar rumah berpendapat, juara pertandingan mana pun bukanlah yang terbaik sebab selalu ada yang lebih baik akan tetapi tidak memunculkan dirinya, entah di mana, tapi pasti ada.

Geuchik Raman memaklumatkan bahwa kehebatan kuda-kudanya tidak perlu dibuktikan di medan pacu. Semua penduduk Gampông Utara percaya bahwa binatang milik sang geuchik tidak tertandingi. Bagi penduduk daripada luar Gampông Utara, dipersilakan membuktikan sendiri saat bi-natang tersebut berlari-lari sore.

Kabar itu terdengar sampai ke negeri jauh sehingga ada yang memenuhi tantangan sang Geuchik. Setahun lalu, muncullah seorang juara berpacu kuda dari pulau seberang Sumatera untuk membuktikannya. Lelaki botak itu datang ke Gampông Utara bersama kuda juara yang telah menang pacuan antar bangsa di Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Ia menunggu kuda putih keluar dengan semangat seorang juara dunia.

Pada sore pertama ia terlambat keluar. Begitu ia muncul di jalan, kawanan binatang yang ditunggunya baru saja lewat. Maka ia memacu kudanya, mengejar angin dan debu sampai ke kandang binatang itu. Sore kedua ia berhasil membaur dalam kawanan binatang pelari walau tidak berhasil mengejar. Ia tidak percaya bahwa kudanya yang juara dunia bisa kalah, maka esok sorenya ia ulangi, tapi kuda-kuda putih itu tetap tidak terkejar. Si botak tidak dapat menerimanya. Ia terus mencoba berpacu dengan kuda sembrani.

Sang juara itu meminta Geuchik Raman menunggang kudanya agar binatang mereka sama-sama punya beban. Pemimpin Gampông Utara itu setuju. Namun, setelah berpacu selama tujuh hari, kuda si juara selalu kalah telak sehingga ia kembali ke pulaunya di seberang Sumatra.

Lelaki itu tetap tidak setuju dengan geuchik gampông ini, bahwa memenangkan sebuah pertandingan besar atau kecil bukanlah satu-satunya cara untuk membuktikan diri yang terbaik. Ia menuding bahwa geuchik pemilik kuda itu seorang penyihir.

Sekalian gudang perkabaran menyiarkan tudingannya sebagai pendapat orang yang tidak bisa menerima kekalahan. Setelah itu, sang juara tidak pernah muncul lagi di pacuan mana pun.

Geuchik Raman membeli kuda sembrani karena tertarik kepada gaya Sultan Iskandar Muda yang memiliki ratusan ekor gajah. Sang sultan punya Biramsattani si gajah putih sebagai bintang di antara para gajah yang sangat disayangi. Namun, ianya tidak dapat memelihara binatang berbelalai itu karena takut kepada daun telinga besarnya.

Ketika berusia sepuluh tahun, ibu mengajaknya melihat gajah di Cot Matahé, pegunungan Pasè. Ia naik ke atas kepala seekor gajah yang tengah duduk. Si gajah mengibaskan daun telinga dengan keras dan Geuchik Raman kecil terpental beberapa meter ke semak belukar, jatuh tepat di dekat kaki ibunya. Setelah itu, ia masih menyukai gajah, tetapi tidak berani mendekatinya lagi.*

Catatan:
Cerita ini awalnya merupakan bagian daripada Novela ACEH 1446 H (2025 M), setelah dipertimbangkan, bagian ini dikeluarkan darinya karena tidak berkaitan dengan teknologi yang dipertunjukkan di dalam cerita bersifat masa hadapan (futuristic) tersebut.

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki