Erdogan ke Malaysia Setelah Singapore


Perdana Mentri Republik Parlementer Turki, Recep Tayyip Erdogan, ke Malaysia pada 9 -10 Januari 2014. Apakah ini era baru bagi negara-negara kecil di Asia Tenggara? Sebelumnya, Turki cenderung memandang Eropa sebagai sekutu. Lalu mereka mulai melirik Asia Timur seperti Cina dan ke Asia Barat serta Timur Tengah. Kini Asia Tenggara?

Ini kunjungannya ke Asia Tenggara setelah pertama ke Aceh, Indonesia pada 6-7 Februari 2005 untuk kedukaan tsunami Aceh. Sementara untuk kedukaan bagi Muslim Rohingya di Rakhin, Myanmar pada Agustus 2012, dihadiri oleh istrinya, Emine Erdogan.

Sebuah kunjungan dari pembesar negara, apalagi negara maju dengan kekuatan ekonomi dan militer yang masuk ke dalam sepuluh besar dunia seperti Turki, tentulah diiringi oleh berbagai kepentingan dengan negara yang dituju serta negara lain yang berada di dalam kumpulan yang negara tersebut menjadi anggotanya. Dalam hal ini, Malaysia adalah anggota ASEAN (The Association of Southeast Asian Nations).

Erdogan akan selalu membawa pengusaha ke setiap negara yang ia kunjungi. Dan ASEAN telah mencanangkan ekonomi bebas atas nama komunitas ASEAN yang mulai berlaku sejak 2015. Namun, Apakah Erdogan ke Malaysia hanya untuk hal perdagangan tersebut? Sejarah mencatat bahwa Turki adalah bangsa penakluk, bukan pedagang.

Dan, mengapa Erdogan memilih Kuala Lumpur, bukan Jakarta, Bangkok, atau lainnya? Di masa Ottoman, Turki menjalin hubungan dan membuka konsulat dengan Singapura dan Batavıa Tahun 1880-an, selain menjalin hubungan dengan Bandar (Aceh) Darussalam, yang letaknya di pulau yang terpisah dari benua Asia atau Eropa tempat pusatnya, Istanbul.

Kini, mengapa dipilih Kuala Lumpur, yang letaknya setanah, tidak di berseberang laut, dengan Ankara? Jika menempuh jalan darat, berarti Erdogan harus melewati tujuh negara sebelum sampai ke Kulala Lumpur, yakni: Iran, Afghanistan, Pakistan, India, Banglades, Burma, dan Thailand.

Turki memang sebuah ras besar yang memiliki peradaban tinggi dan superior. Romawi Timur (Konstantinople), Ottoman memiliki sejarah panjang yang menjadikan bangsa Turk sebagai superior yang menguasai sebagian besar bumi dari tengahnya. Nama besar itu masih dan terus ada.

Penting dipahami bahwa bangsa atau ras Turk itu bukan semata yang menjadi penduduk Negara Republik Parlementer Turki sekarang, tetapi mereka memiliki banyak negara, seperti Turkmenistan, Tajikistan, Khazakstan, dan Moghul (mongol Asia). Suku Uighur yang muslim di Cına juga termasuk ras Turk.

İni serupa bangsa Persia, bukan semata yang mendiami Iran sekarang, tetapi ianya termasuk Afghanistan, Pakistan, dan sebagian India. Serupa juga dengan ras Melayu yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina, Singapura, Sri Lanka, dan lainnya. Tetapi ras Melayu tidak superior sebagaimana ras Turk dan dan Persia.

Makanya Aceh yang memiliki gen superior yang dalam satu abad saja bisa berperang beberapa kali bukanlah bagian dari Melayu secara umum, tetapi ianya heterogen antara penghuni asli Sumatera dengan bangsa-bangsa penakluk dari bagian utara gunung Kaukasus (Persia dan Turk -red).

Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur kali ini, pemimpin paling berpengaruh dari negara yang menghuni dua benua itu, Erdogan, kabarnya akan ditemui oleh penduduk muslim dari Bangladesh, Rohıngya serta sekalian organisasi di Malaysia. İtu tidak mengherankan bagi orang-orang yang mengetahui sejarah.

Kabarnya, dari Indonesia atau Aceh ada yang ikut menemui orang yang dianggap Khalifah dunia Islam yang baru tersebut. İni memang aneh, sebagian besar penduduk muslim masih mengharapkan negara Turki sekarang sebagai kelanjutan daripada Ottoman Turkish seraya menunggu republik Parlementer itu memakai kembali hukum Islam.

Maka, ketika Erdogan mengarah ke sana, dengan serta merta Turki kembali dianggap sebagai pusat pemerintahan Islam dengan Erdogan sebagai Khalifah Islam di era modern oleh sekalian besar penduduk muslim di dunia, terutama di Asia Tenggara. ‘Ka’bah kita di Mekkah, tetapi khalifah di Istanbul’, begitulah yakin mereka sejak Ottoman.

Tentang jarak dari Turki ke Kuala Lumpur, apakah ada yang percaya pada mitos keajaiban angka tujuh? Tetapi, kita tidak membicarakan mitos di sini. Tujuh negara itu anggap saja kebetulan, walaupun dalam hukum alam tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi semua saling terkait.

Kuala Lumpur adalah kota pilihan bagi Ankara jika ingin menjalin hubungan dengan Asia Tenggara. Seharusnya bisa Jakarta, tetapi keamanan dan kekacauan aturan negara tidak mendukung. Bagaimana dengan negara maju Singapura? Tidak bisa, ianya bukan negara berpenduduk muslim terbanyak dan hanya negeri kecil, Brunei lebih lagi.

Malaysia merupakan pilihan satu-satunya bagi Turki untuk membuat perwakilan komunikasinya. Walupun Cina dan India juga banyak di sana, tetapi Melayu muslim memegang politik sekarang. Dan kebangkitan ekonomi dan keamanan di Kuala Lumpur, Malaysia, serta ianya anggota persemakmuran Inggris Raya, membuat Turki bisa bersedia membuat perwakilan, serta perdana menteri dapat berkunjung ke sana.

Kembali kepada melintasi tujuh negara, apakah Anda percaya pada mitos angka tujuh (7)? Jika Anda tidak percaya, maka orang Cina yang merupakan ras terbesar dan tesebar ke seluruh penjuru dunia sekarang itu percaya.

Oleh Thayeb Loh Angen, Cultural Activist in PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh - Turki), 
License by Mehmet Ozay

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki