Cerpen ‘Pengkhianatan’ Hendra Kasmi di Serambi


Cerpen berjudul “Bulan Memerah di Langit Tanjong” karya Hendra Kasmi yang disiarkan oleh Harian Serambi Indonesia, hari ini (Ahad, 19 Januari 2014 -red) menarik perhatian saya karena ianya mengangkat tentang pengkhianatan orang-orang perang.

Pada alinea kedua, Kasmi menulis, “Kuharap inilah saatnya memperbaiki hubungan baik dengan orang-orang  Ilyas, sekaligus waktunya untuk membelot dari Belanda.” Itu adalah ungkapan dari dari tokoh utama di dalamnya yang disebut ‘Aku’. Yang kita perbincangkan secara lengkap di sini hanyalah kalimat tersebut saja.

Bidang lain, hanya kita sebutkan sedikit. Di sini saya nyatakan bahwa cerpen “Bulan Memerah di Langit Tanjong” karya Hendra Kasmi ini termasuk yang terbaik, dan dapat dimasukkan ke dalam salah satu cerpen yang mengangkat hal tentang Aceh, bukan tentang cinta muram berbau air liur.

Gambaran tempat (setting) dalam cerita tersebut memenuhi syarat. Begitu juga tentang suara, alur, dan lainnya. Di samping itu, ada sedikit hal yang agak belum sesuai dengan dunia nyata, apalagi di dalam dunia perang gerilya. Misalnya, peristiwa ditusuknya Ilyas dengan rincong oleh tokoh Aku.

Bagaimana seorang pemimpin pasukan gerilya seperti Ilyas hanya seorang diri menemui seorang pengkhianat tanpa dijaga oleh anggotanya. Dan, apakah Ilyas sebegitu sembarangan menemui pengkhianat sehingga dengan mudah ditusuk tanpa disadari, sementara ia tahu lawan bicara adalah musuh besarnya.

Tetapi, itu tidak perlu dipersoalkan karena perkara dalam dunia perang gerilya hanya diketahui oleh beberapa orang saja disebabkan banyak hal yang sangat sulit dijangkau oleh khayalan orang-orang yang tidak bersentuhan langsung dengannya.

Kini kita tela’ah tentang ungkapan tokoh Aku tadi. Keadaan sebagaimana yang dihadapi oleh tokoh Aku adalah keadaan yang mendua (dilema). Di sini Hendra mempertegas bahwa orang yang dituduh berkhianat sebenarnya memiliki sisi baik juga. Pengkhianatan terhadap Aceh yang dilakukan oleh tokoh Aku disebutkan karena ianya dituduh berkhianat, sehingga ia harus bernar-benar berkhianat supaya memiliki pihak. Ini disebut peusakhok.

(Tentang peusakhok telah saya sebutkan di dalam tulisan berjudul ‘3 Macam Larangan Unik dari Aceh’ di link: http://www.peradabandunia.com/2013/12/tiga-macam-larangan-unik-dari-aceh.html |
Peusakhok adalah sebuah tindakan yang sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya, tetapi itu dilakukan karena amarah atas sebuah larangan atau tuduhan yang tidak ingin dilakukan.)

Maka, keinginan tokoh Aku untuk membujuk Ilyas dan kawan lainnya bahwa ia akan berbalik, apakah akan semudah itu bisa dipercaya? Di dalam cerita tersebut terlihat bahwa tokoh bernama Ilyas dan tokoh Aku tidak bertidak dengan akal sehat (logika) tetapi dengan perasaan yang tidak terlatih (emosional). Itu berbantahan dengan beberapa cara memenangkan (strategi) dalam perang.

Dalam cerita Kasmi tersebut, tergambarkan bahwa tokoh bernama Aku bukanlah seorang mata-mata atau pasukan yang benar-benar terlatih. Ianya hanyalah seorang pengkhianat biasa yang berkhianat karena difitnah. Atau, ia memang sengaja menemui Ilyas untuk membunuh saingannya tersebut supaya Nurul Fitri menjadi janda dan kelak ketika kesempatan tiba, ia akan mengawininya.

Dengan kata lain, pengkhianatan itu bukan karena nasionalisme Aceh, tetapi karena masalah berburuk sangka, persaingan jabatan di hadapan Cut Ali dan orang tua si Nurul Fitri. Alasan utama saya memperbincangkan cerpen ini karena itu berhubungan dengan apa yang baru saja dan tengah terjadi di Aceh, yang banyak orang disebut sebagai pengkhianat. Dan, Hendra Kasmi telah menulis cerpen yang bagus tentangnya.

Oleh Thayeb Loh Angen, penulis novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki