Cendikiawan Aceh: Bangunlah Peradaban dengan Akal

Cendikiawan muslim (ulama) kharismatik Aceh, Tgk. H Mustafa Ahmad 
Paloh Dayah – Cendikiawan muslim (ulama –red) kharismatik Aceh, Tgk. H Mustafa Ahmad, meminta kepada sekalian orang Aceh supaya memanfaatkan akal dan waktu dengan sebaik-baiknya demi membangun suatu peradaban Aceh yang tinggi sebagaimana pernah dilakukan oleh indatu.

Hal tersebut disampaikannya dalam sebuah pengajian yang dihadiri oleh ratusan orang dari tokoh masyarakat dan anggota badan Kemakmuran Mesjid (BKM) daripada mukim Paloh Timu dan Barat (Kecamatan Muara Satu), politisi, dayah terpadu (pasantren modern) Misbahul Ulum, dan sebagian besar masyarakat Paloh Dayah.

“Orang Aceh harus belajar ilmu agama, seperti usuluddin, dan sebagainya. Yang tertinggi nilainya pada manusia adalah akal, dengan akal manusia dapat menerima ilmu, tinggalkan sesuatu yang tidak berguna bagi dunia dan akhirat,” kata cendikiawan Islam yang menjabat Ketua MPU (Majelis Permusyawaratan Ulama) Aceh Utara dalam pengajian di Paloh Dayah.

Pengajian tersebut merupakan pembukaan pengajian bagi Remaja Mesjid Assa’adah Teungku Chik Di Paloh, Paloh Dayah, Lhokseumawe, pada Malam Rabu (Selasa Malam -red), hari bulan (tanggal –red) 19 Rabiul Awal 1435 tahun Hijrah Nabi (Hijriah –red) bertepatan dengan 21 Januari 2014.

Di dalam kesempatan itu, ulama kharismatik Aceh tersebut memesan supaya sekalian orang untuk berselawat kepada Nabi Muhammad SAW dan ahlul bait paling kurang 10 kali dalam sehari semalam.

Ketua Persiaran dan Perpustakaan (publikasi dan dokumentasi –red) Remaja Mesjid Assa’adah Teungku Chik Di Paloh, Jamaluddin bin Sulaiman atau Lodins, mengatakan bahwa menghadirkan Tgk. H Mustafa Ahmad ke sana adalah usaha keras Tgk Muhadar A Ghani, seorang penduduk Paloh Dayah yang pernah beberapa tahun meudagang (mengaji di dayah Paloh Gadeng milik Tgk H Mustafa).

“Beberapa hari lalu, saat diundang untuk membuka pengajian ini, awalnya beliau menolak, itu membuat Tgk Muhadar yang pernah menjadi murid kepercayaannya tersebut meneteskan airmata. Akhirnya beliau setuju untuk hadir, dan tetap datang walau dalam keadaan agak kurang sehat,” kata Lodins.

Lodins mengaku, masyarakat Paloh Dayah tengah mengembalikan keberadaan kampung tersebut sebagaimana awal mulanya, yakni sebagai pusat peradaban. Nama dayah untuk kampung ini, kata dia, karena dahulunya di sana berdiri sebuah dayah besar yang dipimpin oleh Tgk Chik Di Paloh.

“Mesjid pertama di 11 kampung dalam dua mukim ini adanya di Paloh Dayah, yang didirikan bersama dayah oleh Tgk Chik. Kini, mesjid Assa’adah Tgk Chik Di Paloh dirikan oleh masyarakat Paloh Dayah dan sekalian pewaqaf yang ikhlas dari berbagai tempat, sebagai pengganti masjid yang dibangun di masa silam,” kata Lodins.

Mesjid Assa’adah, kata Lodins, diresmikan oleh allahyarham Abu Matang Raya pada 27 Mei 2011 beberapa waktu sebelum beliau dipanggil pulang oleh Yang Maha Kuasa. Lodins menegaskan bahwa pengajian tersebut merupakan salah satu usaha daripada penduduk Paloh Dayah untuk menguatkan Islam sekaligus mendirikan kembali dayah Tgk Chik.

“Karena dayah Tgk Chik yang ingin dihidupkan kembali, maka guru-guru yang kami undang untuk setiap pengajian adalah intelektual (cendikiawan –red) muslim atau ulama di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Inilah cara kami memahami seumpeuna (falsafah hidup –red) indatu, seutòt ròt uëh indatu, seutòt teumèë nyang ka gadòh, peugòt keulai puë nyang ka reulòh (mengikuti jejak nenek moyang, menggali dan menemukan warisan yang hilang, membangun kembali yang telah rusak –red),” kata Lodins.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki