Beranikah Raja Belanda Meminta Ma’af kepada Rakyat Aceh?

Raja Belanda Willem-Alexander, dilantik pada 30 April 2013
“Wahai raja Belanda, apa saja yang dilakukan oleh bangsamu di masa raja Willem III berkuasa kepada kami, masihlah kami ingat dengan baik. Tidak ada permintaan ma’af dari ratu Belanda setelahnya, tidak ada. Maka kini, setelah keratuan berakhir, alangkah amat sangat bijaksana, jika Tuan menyampaikan permintaan ma’af dari istana Amsterdam kepada kami rakyat Aceh. Kami menunggu.”

Tulisan ini diilhami oleh artikel panjang oleh Nico Vink dalam bahasa Belanda di sebuah media Amsterdam dan diterjemahkan oleh Hasti Tarekat pada 2011 dan dikutip oleh www.atjehcyber.net dengan judul “Beginilah Aceh dalam Ingatan Orang-Orang di Belanda”. Itu ditulisnya menjelang jabatan ratu Beatrix berakhir dan diganti oleh anaknya Willem-Alexander pada 30 April 2013. 

Dalam artikel tesebut ia menulis, 

“Ratu, akan sangat indah sekali jika kita bisa berbaik kembali dengan rakyat Aceh, yang sudah berperang dengan kita begitu lama di masa lalu. Pada tahun 1873 kita mengumandangkan perang pada Aceh. Tetapi perdamaian dengan Aceh tidak pernah tercapai. Tidak pernah. Kini tiba waktunya untuk menyatakan penyesalan kepada Aceh. Permintaan maaf sejujur-jujurnya dari hati yang terdalam...”

Nico Vink adalah dosen HEAO (Den Haag), dosen Fakultas Obyek Indutrial/Teknik Universitas Delft, dosen di Kopenhagen, Trondheim dan Oslo, Lódz/Polen, Tokaj/Japan, AGSIM (Phoenix USA) dan penulis buku Verbannen uit Indie (1936-1945) Walburg Pers Zutphen, 2007.

Tulisan tersebut penting karena berisi anjuran kepada Raja atau Ratu Belanda untuk meminta ma’af kepada rakyat Aceh yang ditulis oleh ahli sejarah Belanda sendiri. Namun, ratu Belanda tidak meminta ma’af.

Sepanjang sejarah, sejak 1873, baru Vico Vink yang berani besikap jujur dan bijaksana tentang apa yang terjadi di Aceh atas kekejaman Belanda. Pertanyaannya, apakah raja Belanda yang sekarang berani untuk meminta ma’af kepada rakyat Aceh?

Perang Aceh dengan Belanda terjadi sejak 26 Maret 1873 pada masa Aceh dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah (1870-1874), dan Belanda dipimpin oleh raja Willem II (1817-1890) yang berkuasa dari 17 Maret 1859 sampai 1890. Setelah Willem III, Belanda dipimpin oleh 3 orang ratu sampai diserahkan kepada Willem-Alexander.

Tahun sudah bertambah, penguasa sudah berganti, tetapi generasi yang sekarang adalah keturunan generasi lama yang pernah mengalami perang Aceh Belanda, serta sekalian harta Aceh yang dibawa ke Belanda belum dikembalikan.

Saya sendiri memiliki kisah tentang itu. Pada 17 September 2013, di sebuah acara yang dilakukan oleh sebuah organisasi, di Banda Aceh. Acara itu dihadiri oleh seorang antropolog Belanda. Saya bertanya kepada dia, ‘kapankah raja Belanda akan meminta ma’af kepada rakyat Aceh karena memerangi Aceh sejak 26 Maret 1873?”

Tentu saja ia tidak memiliki kekuasaan untuk menjawabnya. Ia hanya meminta ma’af atas nama dirinya saja. Setelah itu, saya menolak diwawancarainya untuk dikutip ke dalam buku sejarah perang Belanda di Aceh yang ditulis oleh kawannya.

Penolakan itu karena saya atau orang Aceh manapun bisa menulis sejarahnya sendiri, karena cara pendang Belanda dengan Aceh jauh berbeda. Kecuali, kalau raja Belanda sudah meminta ma’af, maka penolakan seperti itu tidak ada lagi.

Jika Nico Vink mengacu kepada ratu Belanda, saya tujukan kepada penggantinya, raja Willem-Alexander;

Wahai raja Belanda, apa saja yang dilakukan oleh bangsamu di masa raja Willem III berkuasa kepada kami, masihlah kami ingat dengan baik. Tidak ada permintaan ma’af dari ratu Belanda setelahnya, tidak ada. Maka kini, setelah keratuan berakhir, alangkah amat sangat bijaksana, jika Tuan menyampaikan permintaan ma’af dari istana Amsterdam kepada kami rakyat Aceh. Kami menunggu.”

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki