Agama Orang Aceh Modern


Agama orang Aceh pasti Islam, itu anggapan sekalian penduduk dunia. Apakah itu sepenuhnya benar? Kabar tentang ada orang yang yang menjadi pendeta di luar Aceh, dan lainnya akan menampik itu. Dan saya sendiri, pernah bertemu dengan orang Aceh di Banda Aceh, ia mengaku telah dua belas tahun tidak Islam. Dan saya lihat memang ia ke gereja. Itu di tahun 2007.

Maksud saya di sini, kabar tentang pendangkalan ‘aqidah yang terjadi baru-baru ini adalah isu yang dibesar-besarkan oleh beberapa orang untuk mengalihkan perhatian umat Islam di Aceh kepada apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kenyataannya, pendangkalan ‘aqidah yang paling berbahaya bukan yang disampaikan oleh para misionaris langsung di dunia nyata. Tetapi ianya didakwahkan oleh musuh Islam melalui media massa, seperti siaran televisi, radio, koran, game, dan sebagainya.

Film-film, sinetron, berita, siaran sepak bola, dan acara hiburan lainnya di siaran televisi apapun serta game-game di internet sesungguhnya adalah pendangkalan ‘aqidah yang sebenarnya. Bahayanya lebih besar daripada bahaya misionaris yang dikirim dalam bentuk manusia. Pihak musuh Islam mencoba menggantikan kitab suci dengan permainan mereka melalui teknologi. Mereka menciptakan penyesuaian selera dan gengsi. Ketika kitab suci tergantikan, maka dengan sendirinya agama terganti.

Kita adalah masyarakat Aceh modern yang hidup dalam kepungan teknologi informasi canggih. Penciptanya membuat kita harus memakai buatan mereka, bersamaan dengan itu mereka ikut menjual budaya dan agamanya supaya kita beli. Maka, walaupun kita belum menciptakan seperti mereka, tetapi sebagai penguatan diri, kita bisa memanfaatkan teknologi itu sebagai media dakwah. Itu untuk menyeimbangkan antara pendangkalan ‘aqidah dengan penguatan ‘aqidah.

Jika ingin generasi Aceh di masa hadapan masih Islam, maka sekalian cendikiawan Islam di tanah Serambi Mekkah ini, baik itu ‘ulama dayah atau ulama perguruan tinggi, bersama pemerintah harus menghidupkan kembali pengajian di waktu malam bagi sekalian anak-anak dan remaja di setiap kampung di Aceh. Sekali lagi, di setiap kampung yang ada di Aceh. Selain untuk anak-anak dan remaja, kepada pemuda dan orang dewasa juga penting. Tidak ada cara lain, teungku-teungku dan ummi-ummi.

Sudah masanya bagi tuan dan puan sekalian untuk keluar dari balik dinding dayah-dayah itu. Rakyat di kampung-kampung butuh penunjuk jalan. Jangan biarkan generasi kita diambil oleh musuh. Apabila mereka diambil, generasi kita nantinya akan menjadi musuh tuan dan puan, mereka akan menyerang balik ke dayah-dayah dengan pemikiran yang disebut HAM (Hak Asasi Manusia), liberalisasi, demokrasi, globalisasi, dan sebagainya.

Badingkanlah waktu anak-anak kita menghabiskan waktu di balai pengajian dengan yang ia habiskan untuk 'mengaji kitab' televisi, main game, dan sebagainya. Apakah kita harus melarang mereka. Iya, benar, orang-orang bijak di Aceh tersebut harus melarang generasi sekarang supaya mereka bisa membentengi diri.

Larangan itu bisa secara lisan, dan bisa juga melalui qanun-qanun. Selain larangan untuknya, perintah untuk kembali kepada kitab suci Islam juga sama penting. Itu seyogianya dilakukan sekarang, jika tidak sekarang, itu akan terlambat. Jika terlambat, maka Islam sebagai agama generasi Aceh modern hanya tinggal di KTP (Kartu Tanda Penduduk).

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki