3 Larangan Unik dari Aceh



Peuseunaluk, peusakhok, dan talak adalah tiga jenis bentuk larangan terbalik yang ada di dalam masyarakat Aceh sejak tahun Jim.

Peuseunaluk

Peuseunaluk adalah sebuah bentuk larangan terbalik, kata-kata yang disampaikan berbentuk perintah dengan nada tertentu. Bagi anak-anak Aceh yang sering melanggar, curak larangan ini lebih dapat dipahami dan ditakuti daripada larangan biasa.

Misalnya, “Ka ek ju keunan!” (Naiklah segera ke sana!” itu sebenarnya larangan, ‘Jangan naik se sana!” anak yang dituju, segera menghentikan niatnya. Mereka dapat menerka, ada kalimat yang tidak dilengkapi di sana, “...Ngat kupeh keuh” (supaya kupukul).

Bagi anak Aceh yang hampir semuanya memiliki mental berani dan rasa ingin tahu yang besar, sebuah larangan tidak akan langsung dipatuhi, tetapi malah membuatnya penasaran. Dan sebuah perintah, tidak akan mereka laksanakan dengan segera, karena mental berani dan rasa ingin tahu yang besar tadi.

Bagi anak dengan mental ini, perintah dengan nada tertentu membuatnya takut alang kepalang, itu mengerikan bagi mereka.

Peusakhok

Peusakhok adalah sebuah tindakan yang sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya, tetpi itu dilakukan karena amarah atas sebuah larangan atau tuduhan yang tidak ingin dilakukan. Misalnya, Apa Main melarang Apa Maun untuk tidak memakai sepatunya. Apa Maun sebenarnya, tidak berencana atau tidak berencana lagi memakainya, namun karena terus dilarang atas dasar ketidakpercayaan, maka akhirnya Apa Maun pun memakai sepatu Apa Main.

Talak

Kata ‘talak’ dalam bahasa Aceh berbeda dengan ‘talak’ dalam bahasa Arab atau Melayu. Talak dalam bahasa Aceh memiliki dua makna, pertama: dahi. Contoh, ‘sep raya talak kah’ (besar sangat dahimu). Kedua, menghukum dengan kesenangan yang dilarang tetapi terus dilakukan.


Misalnya, seorang anak dilarang makan buah jambu, tetapi terus saja memakan buah tersebut walau sudah beberapa kali dilarang atau dihukum. Maka terkadang pelarang menghukumnya dengan cara ‘talak’, yakni dengan memberikan beberapa kilogram buah jambu untuk dimakan seligus. Itulah talak.*

Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki