Taqiyuddin Muhammad: Aceh Kiblat Kebudayaan Islam di Asia Tenggara

Tgk Taqiyuddin Muhammad, Lc (tengah) menyampaikan materi bertema Aceh Kiblat Kebudayaan Islam di Asia Tenggara dalam Pengajian KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam), 11 Desember 2013, kedai Rumoh Aceh, Banda Aceh. Acara tersebut dimoderatori oleh kolektor manuskrip Tarmizi A Hamid.
Banda Aceh – Peneliti kebudayaan Islam, Tgk Taqiyuddin Muhammad, Lc menyampaikan materi bertema Aceh Kiblat Kebudayaan Islam di Asia Tenggara dalam Pengajian KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam), 11 Desember 2013, kedai Rumoh Aceh, Banda Aceh.

Dalam acara yang dimoderatori oleh kolektor manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid tersebut, Taqiyuddin mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya dan Tgk Tarmizi A Hamid, Aceh dapat mempertanggungjawabkan pernyataan tersebuta.

"Kita punya bukti-bukti bahwa Aceh memang merupakan pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Orang-oran di Pattani, Malysia, Brunei, Singapura, dan negeri serumpun lainnya, menunggu Aceh bangkit kembali,” kata Taqiyuddin.

Menurutnya, statemen tersebut bukanlah sebuah hal yang membuat Aceh membusungkan dada. Namun, kata dia, hal tersebut merupakan sebuah tanggungjawab seperti mengambil sebuah beban.
“Hal ini seperti menaruh beban besar ke bahu kita. Sebagai pemilik pusat peradaban tanggungjawab kita kita di Aceh kepada Allah Ta’ala dan manusia, jauh lebih besar daripada orang lain di luar Aceh,” kata Taqiyuddin yang merupakan pendiri LSM CISAH (Central for Information Samudera Pasai Heritage).
Terkait nisan Samudera Pasai dan Aceh yang ditelitinya, Taqiyuddin mengatakan tulisan di batu-batu pilihan tersebut berupa nasehat dan ayat Alquran. Menurutnya, tulisan yang berada pada prasasti atau nisan-nisan peninggalan peradaban Samudera Pasai dan Aceh tidak menyebutkan tentang kematian, tetapi tentang kehidupan yang abadi.

“Nisan-nisan tersebut bukan pemujaan terhadap orang mati, tapi isinya menjadi pelajaran bagi yang hidup untuk memperjuangkan agama Allah di muka bumi.

Menutunya, nisan-nisan tersebut merupakan ekspresi seniman. Manuskrip-masnuskrip, akta dia, tentu lebih banyak diproduksi di masa tersebut karena membuat karya seni di batu lebih sulit daripada pada kertas.

"Seniman di masa itu luar biasa, dan hasil karya mereka yang kita temukan sekarang hanya sebagian kecil daripada serpihan-serpihan besar dalam peradaban,” kata Taqiyuddin.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki