Pasar Bebas ASEAN 2015, Kita Jual Pliek ke Vietnam?


Oleh Thayeb Loh Angen

Komunitas ASEAN 2015, bencana atau peluang bagi Aceh? Jika itu terjadi di abad 16 dan 17 M, maka hal tersebut menjadi peluang bagi Aceh. Salah seorang pakar ekonomi di era akhir kejayaan tersebut, perekonomian Aceh Darussalam dikepalai oleh Malem Dagang yang mampu memetakan perdagangan di Asia Tenggara lebih baik dari yang dapat dilakukan oleh Cina, India, ataupun Eropa.

Namun, dalam kondisi Aceh sekarang yang disibukkan dengan politik membingungkan, jika tidak mempersiapkan diri dari sekarang, tampaknya ide pasar bebas merupakan sebuah bencana. Memang benar kita dapat menjual pliek sampai ke Vietnam dan Filipina. Tapi, apa lidah mereka akan menyukainya?

Di sisi lain, mampukah Pisang Sale Pantong Labu bersaing dengan kue buatan Singapura di Pasar Atjeh? Mampukah kripit Bireuen dan Paloh Dayah bersaing dengan produk serupa buatan Thailand yang sama-sama dijual di pasar yang sama? Mampukah Ade Meureudu bersaing dengan kue serupa buatan Malaysia? Yang kesemuanya mampu dijual lebih murah dengan kualitas dan rasa lebih enak?

Kata sudah banyak melihat contoh, ketika beras impor Thailand masuk, beras terbaik di Aceh tidak enak lagi. Ketika gula impor masuk, gula terbaik yang masuk ke tempat kita produk dalam negeri menjadi kurang manis.

Para pengusaha di Aceh harus menyiapkan dirinya menghadapi hal tersebut. Sekarang masih ada waktu.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan, jurnalis, penulis, usahawan
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki