Namaku adalah Apam

Apam
Namaku adalah apam. Sebenarnya aku sejenis makanan ringan dari benua India, bentukku seperti piring. Aku dibuat oleh perempuan India, sehingga aku disebut milik mereka. Apam perempuan India. Begitulah. Di India aku lebih besar daripada dua belah telapak tangan yang dibuka. Kalau ditangkupkan ke wajah orang dewasa, aku bisa menutupi sampai kedua telinganya dari depan.

Lalu, mengapa aku ada di Aceh? Inilah yang ingin kusampaikan kepadamu sebagaimana aku ini diciptakan.

Pada suatu masa ketika besi-besi belum bisa mengapun di air aplagi terbang di angkasa, terdapatlah satu kafilah perempuan dan lelaki dari benua India berlayar ke negeri di bawah angin (arah tengara –red). Mereka pergi dari benuanya untuk tidak pernah kembali. Selain kebutuhan selama perjalanan, di dalam kapal itu mereka membawaku, setelah dibubuhi bahan-bahan anti kuman sehingga aku dapat bertahan sampai beberapa bulan.

Kapal pun berlayar. Setelah satu hari lewat, kafilah India melintasi sekitar laut kepulauan Andaman. Hari pertama aman. Namun setelanya, datanglah angin kencang di laut yang kami lewati. Ianya memutar arah kapal ke mana suka. Kafilah kehilangan arah.

Walaupun tahu di mana letak negeri di bawah angin, tetapi  selama angin kencang salah arah, kafilah tidak bisa ke sana. Berhari-hari, berpekan-pekan, masih di laut. Makanan pun habis. Akhirnya kafilah berpuasa. Ketika berbuka, mereka memakan sisi luarku sedikit demi sedikit. Mereka tidak memakanku perbuah, tetapi yang dimakan adalah pinggiranku.

Maka, setiap kali datang jatah waktu makan, ukuranku semakin kecil. Itulah yang terjadi setiap hari. Aku sekarang tidak lagi menutupi wajah orang. Ukuranku tidak sampai lagi sebesar kedua telapak tangan yang terbuka. Sebagai apam perempuan India, aku bersedih.

Kafilah hanya berdoa supaya Tuhan menelamatkan mereka semua. Sialan. Mereka tidak ikut mendo’akanku, padahal jika tanpa aku, mereka semua sudah mati kepalaran. Begitulah nasib makanan sepertiku, hanya apam.

Ketika angin kencang, terdamparlah kafilah ini di Banda Aceh. Aku pun ikut diturunkan di sana. Mereka istirahat di sana sambil memulihkan tenaga. Perempuan-perempuan India itu mengenalkanku kepada perempuan penduduk kota di anak benuanya ini. Beberapa buah apam perempuan India dijual di sana dan mereka mengajarkan cara membuat apam kepada perempuan Banda Aceh.

Tetapi, seperti kusebut tadi, aku sudah kecil, tidak lagi sebesar saat di India. Walaupun yang dibuat lain itu besar, tetapi perempuan kota ini tetap membuat sebesar apam yang pertama mereka lihat, yang sudah dimakan sisi-sisinya. Maka Apam para perempuan Banda Aceh lebih kecil daripada punya perempuan India.

Setelah beberapa hari, kafilah melanjutkan perjalanan ke Pidie. Dari Banda Aceh sampai dalam perjalanan, bagian sisi luarku terus dimakan, menjadi semakin kecil. Sebagaimana di Banda Aceh, mereka menjual dan mengajarkan membuat apam. Namun, walau dicontohkan saat dibuat lain apam itu berukuran punya perempuan India, para perempuan Pidie tetap membuat apam dengan ukuran lebih kecil.

Setelah beberapa waktu di Pidie. Kafilah itu berangkat ke Pasai. Bagian sisi luarku terus dimakan. Ketika sampai di Pasai, aku sudah semakin kecil. Sebagaimana di Banda Aceh dan Pidie, mereka menjualku dan mengajarkan cara membuatnya kepada perempuan Pasai. Maka tentu saja apam perempuan Pasai yang menghuni bagian utara Aceh itu lebih kecil daripada punya orang Banda Aceh dan Pidie, apalagi dengan apam perempuan India.

Dasar orang Aceh, entah bagaimana kemudian, aku ini dikaitkan dengan barang penting milik perempuan. Ini membuatku lebih bersedih karena yang dinilai itu dari sisi tidak baiknya saja. Jika kaudengar ada orang Aceh menyebutkan “Lagee apam kah” itu yang dimaksud bukanlah aku yang sebenarnya, tetapi aku yang sudah dibalik maksudkan sebagai barang penting sekalian perempuan.

Kalimat itu bisa ditujukan kepada lelaki dan kepada perempuan. Jika itu ditujukan kepada lelaki dengan nada suara tertentu, maka telinga dan wajah orang yang ditujukan bisa merah seketika. Kenapa bisa begitu, ya karena apam yang disebutkan bukanlah aku yang sebenarnya.
Satu lagi, cara buruk orang menilaiku ada dalam cerita ini.

Ada sebuah jenis martabak yang disebut ‘kuweh puko keubeue oleh orang Pasai.” Namun di suatu ketika di Banda Aceh, aku pernah medengar mereka menyebukan nama lain untuk martabak tersebut. Mereka menamainya dengan ‘apam pidie’. Tentu saja orang Pidie sangat marah mendegarnya karena mereka tahu apa yang disebutkan oleh orang Pasai untuk martabak itu. Maka jangan pernah sebutkan itu di hadapan orang Pidie, kecuali enkau kebal jiak ditendang.

Demikianlah cerita tentangku, apam milik perempuan India, Banda Aceh, Pidie, dan Pasai. Maka, jika engkau bertemu dengan sekalian orang Aceh, janganlah perdengarkan kepada mereka kata-kata ‘muka kah lagee apam’ (wajahmu seperti apam -red), kecuali engkau kebal dari senjata tajam.

Oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki