Mengapa Cinta dan Rindu ada

Gambar: adam-and-eve.org
“Seorang pencinta kepada selain Allah sudah tersiksa sejak berada di dunia. Apabila sedang bersama dengan yang dicintainya, ia disiksa dengan ketakutan akan perpisahan, apabila tengah berjauhan, ia disiksa oleh kerinduan ingin bertemu. Maka hanya cinta kepada zat yang abadilah yang membuat cinta itu abadi. Cinta kepada yang fana akan musnah bersama kepunahan yang dicintai.”
-Ibnu Qayyim Al Jauziah, mujtahid di abad XIII















Cinta dan rindu adalah dua jenis perasaan yang paling tua dalam sejarah manusia. Itu pertama dirasakan oleh nenek moyang umat manusia yang mulia ibu Hawa ‘alaihassalam (Eva, -English -) dan Bapak Adam ‘alaihissalam. Cinta meraka rasakan sejak semasa di dalam surga. Cinta kepada Allah, Malaikat, surga, dan sesama mereka berdua. Rindu baru mereka rasakan ketika sudah berada di bumi. Rindu kepada Allah Ta’ala, malaikat, dan surga. Cinta lebih tua daripada rindu. Cintalah yang melahirkan rindu-rindu.

Cinta

Ada beberapa ahli perihal perasaan mencoba menguraikan arti dari cinta ke dalam bentuk kata-kata. Kita tidak akan menyebutkan satu pun di sini karena semuanya benar. Cinta adalah kata kerja. Untuk memahami perasaan cinta, kita tidak perlu belajar maknanya dalam kata-kata dari sekalian ahli. Itu telah diberikan oleh Tuhan sejak kita berada dalam rahim ibu. Bahkan sejak ibu kita belum dilahirkan pun, cinta itu sudah ada. Kata hati (instink, -English) dapat memahaminya lebih baik daripada kata lidah. Lidah mengikuti perintah pikiran yang dikendalikan oleh otak. Hati mengendalikan dirinya sendiri, bahkan memerintahkan pikiran.

Yang perlu kita pelajari hanyalah siapa-siapa dan apa saja yang harus kita cintai, bagaimana caranya, di mana dan kapan kita mencintainya. Kita harus menyadari bahwa kita sudah atau tengah mencintai sesuatu atau seseorang, bagaimana, kapan, dan di mana?

Akan menjadi masalah ketika kita tidak bisa mengenali perasaan diri dengan benar atau kadang tidak mahu mengakuinya karena alasan yang dibuat-buat oleh akal. Kita tahu, bahwa perasaan lebih tua daripada akal, dan cinta itu menghuni ruang terbesar di dalam perasaan yang kalau di anggota tubuh ianya bertempat di hati.

Cinta, atau sebut saja ianya perasan tertarik dan suka dalam tingkatan tertinggi kepada benda hidup atau benda mati yang dengannya membuat kita bersedia mengurbankan yang lain asalkan mendapatkannya, tertuju kepada beberapa hal. Kepada yang maha kuasa, alam semesta, sesama manusia, sesama makhluk hidup, kepada benda mati, kepada handai taulan, keluarga, pasangan hidup, diri sendiri, dan lain-lain.

Untuk mendapatkan perasaan yang cerdas atau yang sekarang disebut kecerdasan perasaan, kalau dalam istilah bahasa Inggris disebut Emotional Quotient (EQ). Saudaranya adalah Spriritual Quotient (SQ) dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Quotient- Quotient tersebut tidak diserukan untuk dipelajari jika penulis buku atau guru pelatihannya tidak mengenal agama dengan baik atau tidak mengakui agama karena itu bisa menyebabkan kesesatan bagi banyak orang. Khusus hal ini akan kita bicarakan di dalam tulisan lain dengan tema tentang perasaan, agama, dan Tuhan.

Kita harus benar-benar mengenali perasaan sendiri, lalu memilih apakah kita mahu atau harus merasakannya atau tidak. Perasaan yang terkendali. Itulah kecerdasan perasaan. Ini hanya dapat dicapai dengan latihan keras setiap hari dan kesempatan. Itu tingkatan tertinggi dalam latihan kematangan jiwa yang berujung pada kebijaksanaan, mampu bertindak bijaksana dalam sekalian keadaan dan tempat, yang hanya bisa dimiliki oleh manusia yang berada di tingkatan ma’rifat; orang-orang yang tercerahkan.

Rindu

Rindu adalah hasrat atau keinginan untuk bertemu kembali dengan suatu benda hidup atau mati dan suatu peristiwa. Sebagaimana kita tidak pernah sampai ke suatu tempat yang kita tidak ketahui itu di mana, maka kita tidak bisa merindukan segala sesuatu yang belum pernah kita jumpai. Ketika Adam ‘alaihissalam dan Hawa ‘alaihassalam diusir oleh Alla Ta’ala dari surga dan dilemparkan ke bumi ini, mereka merindukan kesejukan dan kenyamanan surga.

Mereka merindukan masa-masa bersama di dalam surga dan merindukan sesamanya karena dilemparkan ke belahan bumi yang berbeda. Kerinduan akan sesamanya mereka rasakan selama puluhan tahun, sampai dipertemukan kembali, barulah kerinduan itu terlipurkan. Dan kerinduan akan surga, bagi mereka, akan berlangsung sampai hari kebangkitan. Adam dan Hawa bisa merindukan surga, kita tidak bisa karena belum pernah ke sana. Kita hanya berhasrat ingin ke surga.

Kita tidak bisa merindukan Nabi Muhammad SAW, tetapi memiliki hasrat untuk bertemu dengan baginda nabi besar yang mulia. Ini mengingatkan kita pada sebuah lagu yang berjudul ‘Rindu pada Rasul’. Bagaimana penulis syair dan penyanyi itu merindukan Rasul sementara mereka tidak pernah bertemu dengannya?

Kecintaan dan kerinduan adalah perasaan yang sesalu menyertai manusia selama hidupnya di dunia ini. Lalu siapakah atau apakah yang patut dicintai? Semuanya patut. Kita hanya perlu pengetahuan akan kadar cinta yang harus diberikan kepadanya. Semakin besar sebuah cinta yang diberikan, maka sebesar itulah kerinduan yang akan dirasakan ketika berpisah.

Cinta dan rindu diciptakan oleh Allah Ta’ala yang ditempatkan di hati manusia adalah untuk membuat menusia mengingat sejarahnya serta mampu memahami iman dan mengabadikan anak-pinaknya sampai akhir zaman. Cinta dan rindu diciptakan dengan tujuan mulia. Jika ada manusia yang memakainya untuk tujuan ingkar kepada penciptanya, bermakna manusia tersebut belum menjadi manusia yang sebenarnya.

 
Oleh: Thayeb Loh Angen, pejuang kebudayaan, penulis novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki