Kebudayaan Aceh Terkubur Sejak 26 Maret 1873 Sampai 15 Agustus 2005



Pemantulan Gerakan Kebudayaan di Akhir tahun 2013 M


Sejarah dan kebudayaan Aceh telah lama terkubur, sejak serangan Belanda 26 Maret 1873 sampai MoU Helsinki 2005. Itulah masa kegelapan kebudayaan Aceh. Baru setelahnyalah Aceh dapat bernafas walau terengah-engah. Kita sudah dapat bernafas walaupun udaranya terkadang masih bertabur racun.

Di dalam masa kegelapan itu, kebudayaan dan butiran sejarah yang dimunculkan bagaikan telur elang yang ditukarkan dengan telur ayam. Kita tidak perlu membincangkan bentuk-bentuk penukaran ini di sini. Sekarang, marilah kita bicarakan masa kini dan masa hadapan. Apa yang sedang terjadi dan apa yang tengah disiapkan.

Perkembangan gerakan kebudayaan di Aceh telah meningkat dari tahun ke tahun. Apabila dibandingkan antara masa sebelum MoU Helsinki dengan sekarang (2013 –red) telah banyak kemajuan. Sampai tahun 2013, ada beberapa organisasi kebudayaan yang telah berpengaruh dalam perkembangan dunia yang sedikit diminati ini.

Mereka adalah Central Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH) yang bidani oleh Taqiyuddin Muhammad (Abu Taqi), Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) yang kini ketuanya Muhajir, Rumoh Manuskrip Aceh yang dibidani oleh Tarmizi A Hamid, Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT) yang dibidani oleh Mehmet Ozay dan Nia Deliana. Sebelumnya pernah muncul Lembaga Budaya Saman dengan karyanya majalah kebudayaan Saman Cultural Magazine.

Ada satu lagi yang juga pernah berkarya, yakni Yayasan Bustanussalatin yang dibidani oleh Kamal A Arif, Selainnya, ada beberapa organisasi lain yang dapat dikatakan sebagai pejuang-pejuang untuk menguatkan kembali kebudayaan di Aceh. Namun tidak dapat kita sebutkan satu pesatu karena tidak ada bahan tentangnya.

Sekalian organisasi tersebut dijalankan dengan sukarela oleh pejuang (aktivis) kebudayaan. Mereka bekerjasama dengan pihak-pihak lain, baik dengan kumpulan usaha rakyat mahupun pemerintah yang ada di dalam mahupun luar negeri.

Hadirnya banyak organisasi tersebut menjadi penyeimbang dan pendamping kebijakan pemerintah baik dengan kerja sama rancangan dan kegiatan mahupun dengan memberikan hasil pemikiran.

Dengan diberikannya kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk bangun dari kubur kebudayaan ini, kita harus mampu menjalin hubungan baik dengan sekalian orang yang berada di dalam dan luar negeri. Utamanya, saudara lama, saudara semasa Samudera Pasai dan Aceh Darussalam berkuasa. Ukuran kita hanyalah sebelum Belanda menyerang Aceh. Karena, sebelumnyalah Aceh dapat bernafas sesuai dengan detak nadinya sendiri.

Ini bukan artinya kita ingin kembali ke masa silam. Tidak. Itu tidaklah mungkin. Tetapi itulah cermin tempat kita mengaca diri untuk merias kebudayaan ke depan. Kehadiran organisasi-organisasi kebudayaan tersebut sebagai tukang rias wjah dan tubuh bangsa.

Kini mereka masih kurang dari sepuluh kumpulan. Sementara Aceh, sebenarnya butuh enam puluh sembilan organisasi yang sama tulus, cerdas, dan kuat. Tiga organisasi untuk setiap kabupaten/kota. Bagaimana kita membentuk dan menjalankannya?

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayan di Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki