Keangkuhan Orang Aceh

 
وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا
Surat 17 - Al Israa' – ayat 37
 
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong,
karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
 
 
Dalam beberapa kesempatan, saya berbincang dengan tokoh masyarakat di Aceh. Saya menemukan bahwa salah satu penyebab tidak majunya Aceh karena akhlaknya yang masih rendah. Salah satu sikap buruk itu adalah angkuh. Kita bisa perhatikan percakapan dalam sebuah kumpulan. Sering di sana diwarnai oleh isi pembicaraan yang merendahkan orang atau pihak lain.


Orang cerdas dan bijak adalah pencari penyelesaian bukan pencaci. Kita harus tunjukkan hasil tindakan, bukan dengan bualan, apalagi membenarkan sesuatu yang memang sudah diketahui oleh sekalian orang bahwa itu salah.

Bahkan, keangkuhan itu dimiliki oleh orang-orang dari kaum yang kita kenal sebagai intelektual. Ini menandakan, lembaga pendidikan yang bertaburan di seluruh negeri ini, kurang mengajarkan tentang cara menangani hati dan perasaan. Orang-orang angkuh tidak mahu dikritik dan selalu menganggap diri benar.

Yang menggelikan, ketika saya dapatkan, seorang yang dapat disebut cendikia di Aceh menganggap dirinya lebih hebat daripada cendikia dari bangsa lain, yang secara nyata mereka memiliki standar hidup dan peradaban yang lebih tinggi.

Sebagai sebuah suku bangsa yang memiki sejarah besar, orang Aceh sekarang termasuk angkuh karena kejayaan yang ada tersebut bukan miliknya. Orang di masa kini tidak memiliki akhlak tinggi sebagaimana orang di masa sebelumnya. Sikap angkuh itu tidak dimiliki oleh generasi di masa Aceh berjaya.

Orang-orang di masa silam memiliki kerendahan hati walau punya karya besar. Misalnya saat menulis kitab, mereka bahkan tidak menyertakan namanya. Setingkat itu sudah mereka. Sementara orang Aceh di masa kini telah banyak menjadi pembual dan membesar-besarkan dirinya. Ingin mendapatkan pujian yang sebenarnya tidak wajar ia terima, dan suka menipu dan berkhianat, bahkan sesama orang Aceh.

Ini hanya dimiki oleh generasi sekarang, generasi yang menjadikan nisan indatunya sebagai batu asah parang. Generasi seperti ini lahir karena terputusnya mereka dengan generasi sebelumnya yang berperadaban tinggi. Masa keruntuhan moral itu setelah Belanda memerangi Aceh secara resmi.


Orang di masa kini tidak ada karya sebesar orang di masa silam, tetapi bualannya lebih besar. Kalau istilah di Paloh Dayah ‘Uët jalô tôh kapai (makanannya sampan, tetapi beraknya kapal).

Orang-orang seperti ini menjadikan kebesaran nenek moyang sebagai bahan untuk membangga-banggakan diri, bukan meniru ajaran dan akhlak mereka yang karenanya menjadi bangsa beradab. Untuk menuju peradaban tinggi kembali, orang Aceh harus mencontohi indatu, menjadi pemeluk Islam yang ta’at. Wallahu ‘A’lam.

 
Oleh Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki