Hamzah Fansuri Bapak Bahasa Nusantara

Pengaruh Samudera Pasai Dan Aceh Darussalam di Nusantara

HAMZAH FANSURI
Bapak Bahasa Nusantara (Indonesia Malaysia Singapura Brunai Pattani)

Sejak masa Kesultanan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam, Aceh menjadi kiblat pengembangan bahasa dan sastra bagi nusantara. Masa kegemilangan sastra itu dimulai sejak lahirnya kitab-kitab karya ulama besar Maulana Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi atau Hamzah Fansuri yang berisi syair-syair tasauf, disusul penulisan kitab-kitab berbahasa Jawi oleh ulama Aceh lain.

Kitab-kitab tersebut secara perlahan tersebar ke luar Sumatera, seperti di Pulau Jawa, Borneo, Maluku, Semenanjung Malaka, dan Pattani.

Masa kelam Aceh dalam bidang sastra, ilmu pengetahuan, politik, dan semacamnya, diawali dengan pembakaran kitab-kitab Hamzah Fansuri dan beberapa karya ulama lainnya akibat fitnah yang datang dari luar Aceh beberapa saat setelah Sultan Iskandar Muda wafat.

Hari ini, 27 Nopember 2013 di sudut bumi lain, di Jakarta ada acara penyerahan piagam penghargaan terhadap Hamzah Fansuri, diterima oleh juru kunci Makam dari Subulussalam. Dan, satu bulan lagi dari hari ini, adalah hari ke 377 tahun wafatnya Sultan Iskandar Muda.

Aceh dapat bangkit jika menghargai tokoh besarnya sebagaimana bangsa besar menghargai tokoh mereka.
Buku Tentang Hamzah Fansuri

Di zaman ini, buku-buku tentang Hamzah Fansuri dan karyanya yang ditulis oleh orang dari Luar Negeri, di antaranya:

1. Hamzah Fansuri, risalah tasawuf dan puisi-puisinya
Abdul Hadi W. M. (Abdul Hadi Wiji Muthari), 1946- Bandung: Mizan, 1995.

2. The mysticism of Ḥamzah Fanṣūrī.
Attas, Muhammad Naquib, Syed
Kuala Lumpur : University of Malaya Press, 1970.

3. ... and sails the boat downstream : Malay Sufi poems of the boat
Braginsky, V. I. (Vladimir Iosephovich), Leiden: Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, University of Leiden, 2007.

4. De geschriften van Hamzah Pansoeri : uitgegeven en toegelicht Doorenbos, J. 1933

5. A Teeuw  Indonesia Antara Kelisanan dan Keberaksaraan: 1994
6. Dan beberapa buku lain yang sama pentingnya

Kita tunggu lahirnya buku-buku tentang Hamzah Fansuri dan karyanya dari tangan-tangan anak Aceh di masa kini.

Bahasa Melayu Pasai Penghubung Melayu Asia Tenggara
Samudera Pasai, Hamzah Fansuri, dan Kesultanan Aceh Darussalam
Dari beberapa pendapat tentang zaman hidupnya Hamzah Fansuri, kita ambil hasil penelitian terakhir.  Kita pilih yang terakhir karena lebih sesuai dengan logika sejarah.
Maha guru Maulana Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi adalah ulama terkemuka di Kesultanan Samudera Pasai. Beliau adalah asli Aceh di antara ulama-ulama keturunan Persia dan Hadramaut Yaman yang datang dalam beberapa tahap. Di masa-masa ini penyebaran Islam ke Nusantara oleh kafilah Samudera Pasai telah dimulai.

Setelah peperangan lama dengan Portugis dan pertikaian dengan Majapahit (?) Kesultanan Samudera Pasai melemah, sehingga ketika penjajah Portugis menguasai Malaka pada tahun 1511 M, orang-orang Pasai mendukung dibentuknya Kesultanan Aceh Darussalam sebagai negara persatuan negeri-negeri seantero Aceh.

Sebagai ulama terkemuka masa itu, Hamzah Fansuri mendukung pendirian kesultanan baru ini. Ia menjadi tokoh kunci pendiri Kesultanan Aceh di samping Sultan Ali Mughayat Syah. Sudah menjadi budaya, para Sultan Aceh senantiasa memiliki penasihat spiritual yang bergelar Syaikh a-Islam atau Qadhi Malik al-Adhil.

Hamzah Fansuri wafat pada tahun 1527 M. Makam beliau diklaim di tiga tempat, Oboh Subulussalam, Ujong Pancu, Aceh Besar, dan Mekkah. Di sini kita tidak akan membahas di mana letak makam yang benar. Biarlah itu urusan peneliti dan ahli sejarah.
Menurut penelitian ini, Hamzah Fansuri hidup bukan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani atau masa Nuruddin al-Raniri yang menjabat Qadhi Malik al-Adhil di Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1637-1644 M yang kala itulah pembakaran kitab-kitab Hamzah Fansuri.

Kurun waktu masa hidup Maulana Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi dengan Syekh Nuruddin al-Raniri selisih lebih seratus tahun. Menurut hasil penelitian ini, bagaimana mungkin tukang jagal al-Raniri mengeksekusi jasad yang telah berbaring tenang dalam rahmat Allah SWT selama lebih seratus tahun silam.

Hamzah Fansuri Bapak Bahasa (Melayu) Nusantara

Hamzah Fansuri menjadi pertanda lahirnya era sastra Melayu Klasik yang sebelumnya di Aceh dan Nusantara hanya menghasilkan karya puisi secara lisan, yang menjadi sebuah adat di Aceh. Hamzah Fansuri tokoh pemula puisi Melayu klasik secara tertulis.

A. Teeuw menyebutkan karya Hamzah Fansuri merupakan tonggak permulaan karya modern puisi Indonesia dan nusantara karena memiliki tiga corak.

Pertama, individulitas; dengan tegas Hamzah Fansuri menyatakan dirinya sebagai pengarang syairnya, langsung di dalam teks puisinya, bukan anonim sebagaimana di masa sebelumnya.

Kedua, Hamzah Fansuri membuat bentuk puisi baru untuk mengungkapkan gerak sukmanya yang terlihat dalam perkembangan puisi Indonesia abad ini, contohnya penciptaan soneta oleh penyair tahun abad ke-19 dan 20 M.

Ketiga, pemakaian bahasa yang sangat kreatif, misalnya penyelipan banyak kata-kata Arab dalam puisinya. Syair-syair Hamzah Fansuri melakukan inovasi dengan tidak menampakkan atavisme (penjelmaan binatang anonim) sehingga bertolak belakang dengan kesusastraan Melayu sebelumnya.

A Teeuw membantah klaim Sutan Takdir Alisjahbana bahwa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi sebagai “Perintis Sastra Melayu Baru”, -merupakan yang pertama dalam sejarah kesusastraan Indonesia- (Maman S. Mahayana, Kesusastraan Malaysia Modern, 1995: 152) yang diciptakan Abdullah, Hamzah Fansuri telah melakukan itu semua dua abad sebelumnya.

Kita pertanyakan gelar “Bapak Kesusastraan Melayu” diberikan kepada Raja Ali Haji (Mahayana, 1995: 162) atas karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, yang terbit pada tahun 1263 H (1847 M)- jauh lebih muda ketimbang karya Abdul Kadir Munsyi, apalagi dengan zaman Hamzah Fansuri. A Teeuw berpendapat bahwa karya Raja Ali Haji dipengaruhi oleh karya Hamzah Fansuri.

Peran Mahasiswa Sebagai Generasi Muda Aceh

Mari Ingatkan Negara Rumpun Melayu-Nusantara untuk menjadikan Hamzah Fansuri  sebagai Bapak bahasa Melayu
Adalah harus orang Aceh sendiri yang bergerak untuk menunjukkan kepada dunia tentang keberadaan dan jasa tokoh-tokohnya. Para mahasiswa pencinta sastra, sejarah, dan kebudayaan sudah semestinya melakukan langkah-langkah nyata untuk mengangkat kembali tokoh besar Aceh seperti Hamzah Fansuri, Laksamana Kemala Hayati, Syamsuddin As Sumatrani, dan lain sebagainya. Hanya promosi saja yang yang membuat tokoh kita kurang dikenal.

Bersama rekan-rekan, sejak beberapa waktu lalu, kita telah melahirkan beberapa usaha untuk itu; pada Februari 2013 ada kita laksanakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri, juga Institut Sastra Hamzah Fansuri. Entah ada kaitannya atau tidak, kita anggap kampanye tentang pengakuan terhadap jasa Hamzah Fansuri ada berhasilnya, ditandai dengan pemberian anugrah budaya oleh Presiden Republik Indonesia pada 13 Agustus 2013 kepada Hamzah Fansuri, di Jakarta bersama tokoh lain. Pengambilan piagam tersebut dilakukan hari ini sebagaimana telah kita nyatakan di awal pembicaraan.

Baru-baru ini kita cetus Tugu Sastra Hamzah Fansuri yang disambut baik oleh bidang sejarah Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh dan orang-orang Subulussalam. Kini panitia pendirian tugu tersebut sedang dibentuk, akan dibangun pada tahun 2014 atau 2015 di tapal batas Sumatera Utara dengan Aceh yang masuk dalam wilayah Subulussalam.

Kita juga sudah wacanakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri  ke 2, yang inyaallah dilaksanakan di Subulussalam pada September 2014. Namun, yang kami lakukan itu belum cukup. Harus ada usaha khusus dari akademisi perguruan tinggi. Mahasiswa di Aceh harus bergerak serentak supaya kita mendapatkan pengakuan bahwa Hamzah Fansuri adalah Bapak Bahasa Melayu-Nusantara. Ini harus dilakukan segera.

Hadiah terbesar dari orang Aceh kepada Indonesia bukanlah pesawat dakota RI 001 dan RI 002, tapi bahasa. Aceh, Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Pattani, harus berterima kasih kepada Aceh karena ada Hamzah Fansuri yang memndirikan pondasi bahasa dengan begitu kokoh, bahasa tersebut kini menjadi bahasa resmi di negara-negara rumpun Melayu di Asia Tenggara ini.
Menanam Sejuta Pohon Kapur Barus (Fansuri)

Pegiat seni dan sastra telah mengusahakan dibangunnya tugu sastra Hamzah Fansuri. Selain itu, tugas lain yang penting digalakkan adalah menanam kembali pohon kapur yang disebut kapur Barus atau Fansur. Di Subulussalam, populasi tumbuhan ini masih ada, namun sudah berkurang. Getah pohon ini yang berwarna bening dijadikan bahan baku pembuatan kapur yang dikenal dengan nama kapur barus.

Para mahasiswa dan aktivis lingkungan, sudah sepantasnya melakukan sesuatu supaya kapur-kapur menjadi tumbuhan khas Aceh kembali. Di masa silam, sejak masa Samudera Pasai, Aceh dikenal dengan lada yang hanya ada di negeri kita saat itu.

Dan kapur, merupakan tumbuhan epindemik di dunia karena hanya ada empat tempat tanaman itu tumbuh. Salah satunya di seputaran Barus dan Subulussalam. Menurut kata orang, di tempat kitalah tumbuh kapur terbaik.

Alangkah baiknya jika aktivis lingkungan hidup di seputaran Barus dan Subulussalam menggalakkan penanaman kembali pohon-pohon kapur. Misalnya membuat program, menanam sejuta pohon kapur.
Penanaman itu terkait dengan besarnya sejarah yang telah diukir oleh anak Aceh yang lahir di sana, Hamzah Fansuri (Barus). Ini masuk ke dalam terapan sejarah, membangun Aceh berbasis budaya dan peradaban.

Kita bisa terus maju dengan tetap menjaga budaya dan indentitas serta menghargai jasa tokoh pembangun peradaban.

Hamzah Fansuri adalah Bapak Bahasa Melayu-Nusantara. Orang Aceh perlu segera bertindak memperjuangkan haknya untuk mendapat pengakuan ini dari Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan Pattani.

Begitupun pohon kapur penting ditanami kembali secara massal, sebagai pembangunan dan bisnis berbasis budaya dan peradaban.
Sebagai generasi muda, mahasiswa dan aktivis menjadi garda terakhir dari harapan mewujudkannya.

Oleh Thayeb Loh Angen, Pengurus Sekolah Hamzah Fansuri,
Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).
Makalah ini disampaikan di Seminar Kebudayaan Nasional Merajut Nilai Nilai Kearifan Lokal Sebagai Penguatan Jati Diri dan kebudayaan Bangsa  dengan tema Sastra Aceh dan Melayu dalam Penguatan Kebudayaan Indonesia pada Rabu Tanggal 27 November 2013, di Auditorium Prof Aly Hasjmy, Banda Aceh, dilaksanakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh kerjasama dengan Aceh Ecotourism Society.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki