Di Malam Bulan Penuh

Kampung Turki Bitai, Banda Aceh. Foto: Thayeb Loh Angen
CERPEN

Karya Thayeb Loh Angen

Malam itu bulan tengah penuh di negeri bawah angin. Sahaya duduk berhadapan dengan Sungai Kampung Turki Bitai yang diperkuningkan oleh cahaya dari langit barat. Tidak ada angin ribut atau apa sahaja yang mempertakutkan orang-orang supaya berlari ke rumah-rumah mereka yang kini lantainya tidak lagi di atas tiang tinggi, melainkan di atas tanah seperti kandang-kandang.

Bahwasanya pada masa Jumat pertama di permulaan bulan Safar tahun 1435 H atau akhir 2013 M, menghadaplah seorang handai taulan kepada sahaya. Ianya meriwayatkan perihal sebuah ceritera.
Si empunya ceritera ini ialah cicit daripada cucu cicit daripada seorang hulu balang di negeri Lamuri. Dialah turunan ke tujuh belas dari hulu balang tersebut yang memegang kuasa pada masa kerajaan Lamuri berjunjung kepada titah sultan Samudera Pasai. Itu ialah zaman yang jauh setelah Raja Khola dari benua India menyerang negeri Lamuri dengan bala tentara laut yang banyak.

Pada kurun masa inilah sebuah suku bernama Rawa dari benua India diusir oleh Raja Khola karena mereka merupakan suku berkasta terendah dan berbeda keyakinan dengan sang raja sehingga seluruh suku Rawa yang tersisa membawa apa-apa benda yang dapat dibawa, berlayar ke selatan, dan terdamparlah mereka di pantai barat Aceh yang belum dihuni oleh manusia, pantai itu mereka sebut Nangan. Kini tempat itu dikenalkan dengan nama Nagan. Itu jauh zaman sebelum Kesultanan Aceh Darussalam hadir ke atas permukaan bumi.

Akan tetapi, Tuanku Syah Bandar ini tidak meriwayatkan perihal kehebatan abuchik dan makchiknya. Bagi dianya itu perkara yang tidak mustahak untuk diriwayatkan. Yang lebih mustahak dan bermunafaat kepada rakyat barollah bukanlah perbincangkan barang siapa orang memimpin, melainkan hasil daripada reusam yang menjadi peradaban dalam masa seseorang memimpinkan kaula dan rakyatnya dalam ridha Allah Ta’ala dan baginda Nabi Muhammad SAW.

Maka inilah yang diriwayatkan oleh handai taulan turunan bangsawan itu di malam bulan penuh di pesisir pantai yang dahan-dahan arunnya sudah tua. Daripada penjuru utara halaman kedai, terlihatlah sebatang pohon mamplam meliuk-liuk seperti sejarah yang dipermainkan angin politik negeri ini, akan tapi batangnya tetap kukuh dengan akar menancap di tanah.
Syahdan

Ada satu orang bermana Said Tuan Hitam di sebuah kampung yang sekarang disebut Kampung Pande meriwayatkan bahwa dianya dahulu memiliki satu peti daripada tembaga berisikan barang warisan dari abuchik dan makchiknya. Isi peti itu berupa barang daripada sarakata, rincong bermata emas dan bertangkai gading, dirham, dan risalah-risalah keluarga yang ditulis di atas kertas daripada buatan Istanbul dengan kulit kambing berindahkan lapiknya yang semuanya merupakan warisan daripada penghulu di sana.

“Ke manakah sekarang peti itu kiranya, Tuanku, tentu akan sangat bernilai di mata para pemuja barang bersejarah,” tanya saya.

“Menurut si empunya cerita, peti itu tidak ada lagi di masa kita. Ianya telah lenyap bersama dengan air pasang raya pada 26 Desember 2004 lalu,” kata Tuanku Syah Bandar.
Maka sahaya mengangguk-angguk disebabkan tidak mengerti apakah ceritera itu dikarang- karang atau memang begitulah adanya. Akan tetapi sahaya tidak memperlihatkan keraguan kepada Tuanku ini.

“Ada berapa banyak orang di pesisir negeri ini yang memiliki ceritera serupa, Tuanku?”

“Banyak sekali. Sangat banyak. Air pasang raya itu telah melenyapkan risalah penting warisan para raja kita.

Apabila ada ahli keluarga atau orang sekampung terkena sakit, maka orang-orang itu datang ke ke rumah penjaga peti, mereka mengusap benda yang dikeramatkan itu, lalu membacakan beberapa do’a ke hadapan segelas air, kemudian air itu diminumkan kepada si orang sakit. Maka sembuhlah ia dengan izin Allah Ta’ala.”

Syahdan

Kami diam dalam beberapa masa.
Di sebuah kedai, menghadap Krueng Aceh. Malam itu, cahaya daripada bulan yang tengah penuh memantul ke air sungai di hadapan kami. Perahu-perahu yang diikatkan ke batang arun bergerak perlahan-lahan bersama riak-riak kecil oleh air karena angin kencang.

Sahaya teringat pada kisah-kisah pengantar tidur yang saban malam diceriterakan oleh ibunda kami tentang legenda-legenda Teuku Malem cang geureuda, tentang ceritera Cut Ni dan banyak-banyak ceritera. Legenda-legenda itu diyakinkan oleh orang-orang sebagai kebenaran, sehingga mereka belajar sejarah, baru mereka sekalian tahu bahawa beribu-ribu kisah di Aceh yang mulanya sejarah telah dijadikan legenda atawa dongeng di kala dipercampuradukkan dengan mitologi dan bunga-bunga cerita supaya kisahnya menjadi hebat.

Akan tetapi, ketika sejarah kita riwayatkan dengan cara yang membuat ianya menjadi lebih hebat daripada yang sebenarnya ditakdirkan oleh Allah Ta’ala, maka bersama masa itu pula kita kehilangan sejarah. Akhirnya tinggallah ceritera yang agung daripada diwariskan untuk kita, bukan lagi sejarah yang sebenarnya. Dengan kata lain, kita mendapatkan kisah-kisah ajaib, tapi kehilangan sejarah bangsa.

“Apa Tuan Panglima Negeri Meukutop tidak memiliki ceritera untuk kami di Bandar Aceh Darussalam?” Tanya Tuanku Syah Bandar mengejutkan sahaya.

“O, tidak, Tuanku. Kami kehabisan ceritera. Ceritera-ceritera yang sudah ada itu musti kami bawa masuk ke sebuah ruang penelitian terlebih dahulu karena kami tidak mau membuat sebuah novel atau hikayat dan mengukuhkannya kepada masyarakat dunia bahawa itu adanya sejarah. Kami bangsa terhormat, tidak akan melebih-lebihkan ataupun mengurang-ngurangkan satu kata pun daripada cerita bangsa kami. Kami akan terus sejujur itu walaupun kami akan terlihat lebih kecil atau lebih besar daripada bangsa-bangsa karenanya,” kata sahaya. Bulan penuh itu mulai menghilang di balik bukit Ujong Pancu dan Pulo Nasi.

Kami harus pulang ke rumah masing-masing. Rumah saya di ujung timur Bandar dan rumah handai taulan itu di ujung selatan Bandar ini. Kami akan tidur sebelum tengah malam sebagaimana biasanya, supaya dapat bangun di sepertiga malambagian akhir untuk sembahyang tahajut.

Pada malam berikutnya, sebagaimana pada malam-malam sebelum itu, kami saling bertukar ceritera. Sebenarnya lebih banyak dianya yang bercerita, tetapi cerita dia saya tulis sehingga orang-orang berpikir bahwa itu cerita sahaya. Inilah untung ruginya berkawan dengan penulis. Ceriteramu akan menjadi ceriteranya bahkan dirimu juga akan menjadi isi ceriteranya.

Tanbeh

Setelah hamba meriwayatkan satu riwayat daripada handai taulan sahaya si empunya ceritera, maka sahaya kisahkan sedikit perihal diri sebagai si empunya ceritera kepada Tuan-Tuan. Sahaya hanyalah cucu daripada cicit seorang khadam negeri Meukutop yang dipimpinkan oleh ahli bait turunan Makhdum Khudawi negeri sahabat daripada Samudera Pasai. Dalam bahasa sanskerta, khadam ini dilakapkan sebagai ksatria.

Dalam kisah ini, sahaya hanyalah penyambung lidah daripada si empunya ceritera yang sebenarnya. Tuanku Syah Bandar ini ada memiliki banyak ceritera. Insya allah, sahaya akan meriwayatkan ceritera-ceritera itu kepada para handai taulan sekalian yang membaca risalah ini pada masa lain bilamana Allah Ta’ala memberikan umur panjang kepada sahaya dan kepada handai taulan sekalian. Wa Allahu ‘aklam bi al shawwab.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom

Catatan:
Ceritera ini memakai gaya penulisan berbahasa asli Pasai atau al Jawi yang kemudian disebut sebagai bahasa Melayu dan Indonesia yang ianya menjadi lingua franca di negeri Malaysia, Brunei, Pattani, Mindanau, Singapura, dan Indonesia.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki