Berikan Pertanda Wajar Bagi Aceh


Karena Pertanda yang Terlalu Tinggi?

Sampai sejauh ini, kita lihat, para penguasa Aceh memiliki banyak kendala untuk memajukan wilayah yang diyakini di masa ratusan tahun lalu pernah maju ini. Ada kemungkinan, kendala tersebut berasal daripada diri dan orang-orang dekat penguasa itu sendiri atau daripada pihak lain baik daripada dalam mahupun luar Aceh. Akan tetapi, kita tidak perlu mencari orang terkutuk untuk membenar-benarkan ketidakberhasilan itu. Yang menjadi pertanyaan, mengapa banyak pihak di Aceh dan di luarnya menilai Aceh belum berjalan sebagaimana diharapkan?

Kemungkinan itu terjadi disebabkan kita menaruh harapan yang terlalu tinggi kepada para penguasa yang belum teruji dan memang tidak cakap dalam memimpin yang sekalian mereka itu berupa pemimpin tiruan. Sebagaimana kata seumpeuna Aceh, “Meunyoe hana siwah lam blang daruet canggang jeuet keu raja” (kalau tidak ada rajawali dalam sawah maka belalang paya menjadi raja -red). Maka sekarang itu yang menjadi raja adalah para daruet canggang, karena raja sejati untuk Aceh belum lagi muncul.

Satu lagi, itu terjadi karena ukuran keberhasilan yang kita pertandakan terlalu tinggi untuk keadaan Aceh sekarang. Misalnya, kita menjadikan acuan pembangunan Aceh di masa kini ialah Singapura atau Malaysia yang dalam sejarah mereka berupa negeri bagian daripada Aceh. Itu terlalu tinggi karena di masa sekarang keduanya merupakan negara berdaulat yang dapat menentukan nasibnya sendiri, sementara Aceh masih dalam had sebuah pemerintahan yang setingkat dengan sebuah propinsi yang seluruh hal penting ditentukan oleh Jakarta yang terkenal dengan korupsinya itu. Tidak wajarlah membandingkan negara berdaulat dengan pemerintahan setingkat propinsi. Khayalan kita tentang masa silam harus diimbangkan dengan keadaan masa kini.

Benar bahwa kita yakini Aceh di masa kesultanan Samudera Pasai dan periode awal Aceh Darussalam dahulu berjaya, namun kejayaan itu adalah milik orang di masa dahulu, bukan lagi milik kita. Kita hanya mesti menjaga apa-apa yang diwariskan tersebut. Kita mesti menciptakan keberhasilan baru, yang sampai sekarang belum dapat diwujudkan oleh penguasa Aceh yang berupa daruet canggang itu.

Maka apa yang dapat diperbuat oleh kita sekarang? 

Berdo'a, ya rakyat barollah di Aceh hanya sekedar dapat berdo'a kepada Allah Ta’ala dengan sebenar do’a. Selama ini ada kemungkinan bahwa keyakinan kita kepada Tuhan telah terkikis oleh seru-seruan orang kafir dengan berbagai-bagai cara dan media mereka pakaikan untuknya. Ketika kita menjalankan perintah wajib dan sunnah dan meninggalkan larangan Allah Ta'la dengan benar, umpamanya tidak makan riba apalagi haram, barulah Aceh dapat berjaya.

Hanya dengan mempertebalkan iman kita kepada Allah Ta’ala dan mengerjakan seluruh titah Tuhan seru sekalian alam kembalilah Aceh baru dapat kita berjayakan sebagaimana di masa dulu-dulu itu. Begitulah para penguasa Aceh di masa silam berkhidmat, mereka membangun dan memimpin Aceh karena Allah Ta’ala dan begitu pula rakyatnya berkhidmad kepada para pemimpin.

Penguasa dan rakyat di Aceh di masa silam itu adalah orang-orang yang takut kepada Alla Ta’ala dan membangun peradaban sebagai ibadah, itulah yang kita orang di Aceh di masa sekarang mesti melakukannya kembali. Wallahu ‘aklam.
oleh Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki