Ibukota Aceh Sudah Masanya Kembali ke Lhokseumawe

Islamic Center Lhokseumawe. Foto: cahayareformasi.com
Banda Aceh sebagai kota tua yang pernah menjadi pusat pengembangan Islam sejak akhir abad XV setelah Samudera Pasai runtuh, telah menjadi korban kapitalisme. Wajah kota ini telah menjadi tempat pemasangan papan iklan dalam ukuran besar dan kecil, yang sebagian besar milik perusahaan rokok.

Slogan pemerintah kota ini ‘Kota Madani’ masih sebatas slogan yang tidak mampu diterapkan secara ideal, bahkan menurut rancangan mereka sendiri. Bangunan baru yang didirikan, tidak ada yang bercirikan Aceh, mulai dari Balai Kota, pusat perbelanjaan, gedung DPR Kota, perumahan DPR Aceh, semuanya dalam bentuk minimalis.

Banda Aceh telah menyatakan dirinya tidak siap lagi sebagai ibukota Aceh, tetapi telah menjadi korban kapitalisme. Ianya telah meninggalkan Aceh, dan di masa yang sama telah gagal menjadi kota modern yang diimpikannya setelah bencana tsunami 2004.

Pada awal abad XVI, saat Samudera Pasai runtuh, Melaka dikuasai oleh Portugis, Lhokseumawe yang telah ratusan tahun menjadi pusat peradaban Islam di nusantara, mulai kehilangan posisinya. Maka orang-orang Pasai bersama Hamzah Fansuri dan Ali Mughayat Syah mendirikan sebuah negara federasi baru Aceh Darussalam dengan ibukotanya Bandar Aceh.

Thayeb Loh Angen
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki