Antara Orhan Pamuk, Mehmet Ozay, Istanbul, dan Kami


Oleh Thayeb Loh Angen

Hari itu saya ke rumah Arafat Nur. Ia mengenalkan saya kepada sebuah buku karya Orhan Pamuk berjudul My Name is Red (-English) atau Namaku Merah Kirmizi (Melanesia-Jawi) atau Benim Adım Kırmızı (-Turkiye).

Buku itu telah membawa nama Orhan Pamuk menjadi pemenang hadiah nobel sastra dunia. Saya sangat suka buku itu. Lebih lagi karena ianya orang Turki.


Saya pernah membaca sebuah buku yang mengisahkan dengan lengkap tentang peradaban bansa Turki dan bagaimana mereka memimpin dunia di masa Ottoman dari kota Istanbul, serta bagaimana Ottoman runtuh berganti menjadi Republik Turki yang sekular.

Jika ada yang tahu bahwa kini saya aktivis kebudayan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh Dan Turki), mungkin ia akan mengatakan,

“Wajar saja engkau Thayeb suka pada sejarah dan bangsa Turki serta buku mereka, itu karena dirimu mengurus organisasi yang terkait dengannya!”

Maka saya jawab begini,

“O, tunggu dulu, Tuan salah besar! Saya mengenal sejarah Ottoman sudah lama dengan membaca buku terjemahan -kalau saya benar- itu tulisan orang berkebangsaan Portugal berjudul “Jalan Lain ke Mekkah. Saya membacanya sekitar tahun 2000-an. Di masa perang.”

Arafat Nur mengenalkan saya pada buku Orhan Pamuk, sekitar setahun sebelum saya mengenal Dr Mehmet Ozay yang merupakan orang Turki asal Istanbul, tetapi bukan novelis sebagaimana Orhan Pamuk. Ia seorang sosiolog, cendikiawan muslim. Dialah yang mendirikan PuKAT bersama Nia Deliana pada 2012.

Tetapi Arafat Nur meminjam-bacakan buku My Name is Red karangan Orhan Pamuk kepada saya adalah pada tahun 2008. Saat itu nama Arafat Nur belum termasyhur di Indonesia seperti sekarang. Lampuki, novel yang mendapat penghargaan DKJ (Dewan Kesenia Jakarta) pada 2010 dan mendapat Khatulistiwa Literary Award pada 2011, masih dalam khayalan.

My Name is Red langsung saya pinjam dari Arafat Nur, dan saya tidak perlu terburu-buru untuk mengembalikan buku itu karena ia belum berencana membacanya. Jadi, saya lebih dahulu membacanya sampai beberapa kali tamat. Sekitar sebulan barulah saya kembalikan.

Saya ceritakan sedikit tentang Arafat Nur, teman baik saya itu. Kami sering meperbicangkan perihal sastra selama bertahun-tahun. Bahkan sesekali kami berdebat tentang beberapa hal yang tidak penting. Sebelumnya ia belum suka membaca novel terjemahan karya penulis besar dari negara luar. Dan novel yang ia tulis di masa itu pun cerita remaja yang nilai sastranya belum patut diperhitungkan. Namun, entah darimana ia mendapatkan ilham untuk memperdalam kemampuannya dalam berbahasa dan menulis. Arafat Nur memang anak manis yang ajiab. Aceh harus bangga punya Arafat Nur. He he.

Kembali kepada My Name is Red si Orhan Pamuk, novelis Istanbul. Ia nyata, bukan seperti - Ebru Gulsen, Penyair Istanbul - cerpen saya yang disiarkan oleh Harian Serambi Indonesia pada Nopember 2013. Orhan Pamuk ini benar-benar ada. Kalau tidak percaya, silakan datang sendiri ke Istanbul, jumpailah ia di sana. Tetapi jangan menanyakan bagaimanakah Istanbul kepada saya, karena saya belum pernah ke sana sampai  akhir 2013. Lama sekali di dalam pesawat. Aduh! Kalau mahu tahu Istanbul, silakan tanya kepada Dr Mehmet Ozay. Tetapi jangan meminta ia akan mempertemukanmu dengan Orhan Pamuk. He he.

Ketika PuKAT sudah ada, saya pernah menanyakan kepada Dr Mehmet Ozay tentang Orhan Pamuk. Ia tidak bicara banyak tentang itu. Namun beberapa waktu kemudian, ia memberikan sebuah buku karya orang yang lahir dan menetap di bekas ibukota Konstantinopel itu, ianya berjudul “Istanbul: Memories and the City”.

Buku itu berbahasa Inggris, tentu saja saya hanya tahu beberapa kata di dalamnya saat itu, tetapi sekarang saya tengah melanjutkan belajar berbahasa Inggris, maka sudah bisalah sedikit-sedikit. Ya saya tahu bahasa Inggris sekarang, kalau "Apa Yaya" kan disebut "What Yesyes." dalam bahasa Inggris. Semudah itu. Tetapi itu cuma bahasa Inggris orang Paloh Dayah, jauh lebih buruk daripada bahasa Inggris orang Singapura. He he.

Bukankah tidak lucu jika saya membeli website www.newyatsribtimes.com, yang menjadi media online berbahasa Inggris, tetapi saya sendiri tidak bisa. Makanya saya belajarlah. Arafat Nur telah mengirim tulisan untuk website ini. Itu bab ketiga dari novel Lampuki yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi A bit about Lamlhok and Lampuki, diterjemahkan oleh Pam Allen saat sang novelis Arafat Nur mengikuti pertemuan penulis dunia di Ubud Bali pada 2011.

Saya juga sudah meminta kepada Ayi Jurridar untuk mengirimkan cerpennya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, ia setuju untuk mengirimkannya, tetapi sampai cerita ini saya siarkan cerpen itu belum masuk ke email saya. Mungkin sudah tersaruk di pucuk Mangrove. He he.

Begitu web tersebut selesai, tulisan lelaki ganteng itu menjadi siaran pertama, dari Paloh Dayah. Eh, salah, dari Banda Aceh. Kalau di Paloh Dayah, Lhokseumawe, bukan menyiarkan, tetapi saya membaca buku My Name is Red, dan apa bila ada saya Arafat Nur sering datang ke sana.

Kalau saya tidak ada di Paloh Dayah, tentu saja Arafat Nur tidak mahu ke sana, apa yang akan menarik dilihat, itu kampung teumpat ceurape weuek sen (tempat para garangan membagi-bagikan duit -red). Bukan Arafat Nur saja yang pernah ke sana, tetapi Musmarwan Abdullah, Zulfadli Kawom, D Kemalawati, Dr Wildan, Siti Zainon Ismail, juga pernah ke sana.

Dan ini lagi, Dr Mehmet Ozay dan Nia Deliana pun pernah ke sana pada bulan puasa (atau Hari Raya Idul Fitri?) 1434 H (2012 M). Saat mereka datang saya belum bangun, padahal sudah menjelang siang. Itu memang amat memalukan, tetapi saya tidak akan berpura-pura. Biarkan apa adanya, kalau mahu lebih baik, berarti saya harus atur waktu dan memperbaiki pola hidup sendiri.

Walau Paloh Dayah teumpat ceurape weuek sen, namun saya menyatakannya sebagai Kota Budaya. Tentu saja banyak yang membantahnya, bahkan orang Paloh Dayah sendiri ada yang tidak setuju. Tetapi pendapat saya, apa urusan mereka, saya menyeru-nyerukan itu tidak memakai mulut mereka, dan saya menulis pun dengan tangan saya sendiri. Orang-orang itu baru berhak menentang apabila saya pinjam mulut mereka untuk mengatakannya atau saya pinjam jemari mereka untuk menuliskannya. Tetapi, bukankah yang belajar menulis dan berbicara di hadapan umum adalah saya. He he.

Baiklah, mungkin ada di antara pembaca, berteriak, “Hai Thayeb sialan, hentikan bualanmu, cepat ceritakan apa hubungannya Antara Orhan Pamuk, Arafat Nur, engkau, Dr Mehmed Ozay, Nia Deliana, dan Istanbul?”

Kalau ada teriakan begitu, maka saya diam saja. Lalu melanjutkan cerita, begini:

Penduduk bumi dan langit itu sudah tahu bahwa Orhan Pamuk, orang sekota dengan Dr Mehmet Ozay tersebut punya nama lengkap, yaitu Ferit Orhan Pamuk. Ia lahir di Istanbul, Turki, pada 7 Juni 1952. Ia seorang novelis Turki terkemuka dalam sastra pasca-modernis.

Namanya sudah banyak diperbincangkan di berbagai panggung sastra dunia. Bahkan saya yang bukan siapa-siapa saja sudah membincangkannya, berarti ia memang termasyhur sedunia. Kemasyhurannya sampai ke langit sembilan setelah ia mendapatkan Nobel dalam Sastra pada 2006.

Orhan Pamuk sangat masyhur di Turki. Penduduk di negara dua benua itu sekitar tujuh puluh lima juta jiwa. Di negara lainnya juga berjuta-juta. Bahkan penduduk Turki di Jerman mencapai enam juta jiwa. Bukankah itu lebih banyak daripada penduduk Aceh yang cuma empat juta lebih beberapa orang. Itupun bukan orang Aceh semua.

Dari hari ke hari, pembaca karya Orhan Pamuk di seluruh dunia meningkat terus menerus. Sesudah mendapatkan nobel sastra, ia masih menulis novel, dan sama bagusnya. Ia novelis Eurasia paling terkemuka yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa di dunia. Selain nobel sastra dunia, ia telah mendapat banyak penghargaan di dalam negeri dan di banyak Negara untuk tingkatan dunia.

Kalau mahu tahu lebih banyak tentang Orhan Pamuk, silakan saja cari di mesin penjelajah di internet. Dan jika ingin mengetahui tentang ia dan isi pemikirannya sekarang, silakan buka www.orhanpamuk.net. Tetapi itu website berbahasa Inggris, bukan bahasa Aceh. Bahasa Aceh tidak laku untuk kelas dunia. Ianya hanya berlaku di pesisir Aceh, dari Langsa ke Sabang, dari Banda Aceh ke Singkil. Kalau Bahasa Pasai (Jawi) masih laku di negeri-negeri Polynesia (Melayu di Asia Tenggara).

Ah, lelah juga saya mengetik tulisan ini tengah malam. Kalau ada yang berteriak lagi, “Apa hubungannya Antara Orhan Pamuk, Arafat Nur, engkau, Dr Mehmed Ozay, Nia Deliana, dan Istanbul?”


Maka saya harus jawab begini:

Arafat Nur sering ke kampung lahir saya Paloh Dayah. Itu apabila saya berada di sana. Ia yang meminjamkan kepada saya buku May Name is Red yang saya baca di Paloh Dayah sampai beberapa kali tamat. Dr Mehmet Ozay dan Nia Deliana itu pendiri PuKAT dan pernah ke Paloh Dayah. Arafat Nur pernah bertemu dengan mereka di Banda Aceh. Dr Mehmet Ozay memberikan novel Orhan Pamuk yang lain kepada saya, saya simpan di kantor PuKAT. Dan Arafat Nur pernah semalam bersama saya di kantor antar bangsa tersebut.

Setelah saya jawab itu, apakah masih ada yang mengajukan pertanyaan yang sama? Kalau ada, saya jawab begini:

"Saya sangat suka kepada buku Orhan Pamuk, My Name is Red, dan babnya yang paling saya suka adalah yang berjudul ‘Aku adalah Seekor Anjing'”.

Penutupnya lagi, saya amat suka. Kira-kira kalimatnya seperti ini. Kata Shekure, pelaku utama dalam cerita yang mengisahkan pustaka dan lukisan di masa Ottoman itu.

“Aku memberikan seluruh surat cintaku kepada Orhan sehingga ia bisa menceritakannya kepada sekalian orang, termasuk kepadamu. Tetapi jangan terlalu percaya pada Orhan saat ia mengatakan bahwa aku lebih cantik dan lebih kasar daripada yang sebenarnya.”

Walaupun saya sangat suka pada novel My Name is Red yang dikenalkan oleh Arafat Nur, tetapi gambar yang saya perlihatkan di atas tulisan ini adalah buku Orhan Pamuk berjudul “Istanbul: Memories and the City” yang diberikan oleh Dr Mehmet Ozay karena hanya itu yang ada.*

 
Banda Aceh, 24 Desember 2013, Pukul 3:16 WIB
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki