Thayeb Loh Angen: MaPOKA Majelis Penghubung-Pemersatu Bukan Organisasi

Pertemuan antar organisasi kebudayaan dan tokoh publik dalam rangka membentuk Majelis Permusyawaratan Organisasi Kebudayaan Aceh (MaPOKA) di Banda Aceh, Senin (4/11/2013) sore.
Banda Aceh - Majelis Permusyawaratan Organisasi Kebudayaan Aceh (MaPOKA) terbentuk dalam sebuah pertemuan di Banda Aceh, Senin (4/11/2013) sore. Pertemuan tersebut diikuti oleh 10 organisasi kebudayaan, tokoh, serta pakar dari Unsyiah dan UIN Ar-Raniry.

Guru Besar UIN Ar-Raniry Prof Yusny Saby, arkeolog Aceh dari Unsyiah Dr Husaini Ibrahim MA, Ketua DPRK Banda Aceh Yudi Kurnia, serta sejumlah tokoh lainnya hadir dalam pertemuan yang menjadi momen penting dalam dunia kebudayaan di Aceh tersebut.

"MaPOKA yang sedang dibentuk ini merupakan majelis pemersatu antara organisasi kebudayaan dan peradaban supaya dapat menjalankan program-program organisasi masing-masing dengan lebih mudah. Ini bukan dan tak akan pernah menjadi organisasi baru," kata Thayeb Loh Angen yang ditunjuk menjadi ketua.

Menurutnya, MaPOKA merupakan sebuah majelis penghubung dan pemersatu yang dilindungi undang-undang dan didasari pada kepentingan kebudayaan atau peradaban di Aceh. Majelis tersebut, kata dia, harus bersih dari apa saja yang berhubungan dengan politik maupun bisnis.

"Kekuatan Majelis ini terletak pada organisasi anggotanya. Visi kita dari 2014-2025 adalah membangun (membuat dibangun) Aceh berbasis kebudayaan dan peradaban. Misi kita adalah membantu organisasi anggota dalam menjalankan programnya, baik dalam bidang teknis, jaringan, dan sebagainya. Kita mengatasi atau menanggapi isu kebudayaan yang muncul. Kita kabarkan kepada publik tentang hal-hal baru dalam bidang kebudayaan," kata Thayeb.

Organisasi yang hadir pada pertemuan tersebut, antara lain, Central Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH) diwakili Mizuar, Rumoh Manuskrip Aceh diwakili Tarmizi A Hamid dan Muhajir Al Fairusy, Yayasan Bustanussalatin diwakili Dr Salmawaty, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) diwakili Muhajir.

Pusat seni Unsyiah diwakili Zulfikar Taqiyuddin, Forum Peneliti Aceh diwakili Ari Palawi Jauhar, Lembaga Budaya Saman serta Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) yang diwakili Thayeb Loh Angen, Satuan Tugas Percepatan Pembangunan Aceh (Satgas PPA) diwakili Mustafa Abdullah, Azhar Abdullah, dan Fahmi Pribadi, serta Aceh Lamuri Faoundation (Alif) diwakili Yulindawati, dan Teuku Raja Aceh.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki