Penjabat Tidak Ada Anggaran (Anekdot Pemerintahan bagian II)

Di sebuah negeri tak bernama yang anggarannya selalu terlambat ketuk palu dan anggaran selalu tersisa banyak-banyak, terjadilah sesuatu;

Pada awal tahun, sebuah kelompok masyarakat mengunjungi sebuah instansi pemerintah tak bernama.

Masyarakat: Pak, kami butuh bantuan untuk modal usaha, kegiatan sosial.

Kepala instansi: Kami minta maaf, anggaran tidak ada lagi. untuk tahun ini sudah diplot dari tahun kemarin. Silakan ajukan saja tahun ini, kita coba aanggarkan tahun depan. Atau paling bisa kita ajukan di anggaran perubahan.

 Pada akhir tahun kelompok masyarakat tersebut datang lagi pada instansi yang sama

Masyarakat: Bagaimana tentang pengajuan kami tempo hari.

Kepala instansi: Kami minta maaf, anggaran perubahan sudah ketuk palu, tidak bisa bantu lagi.

Dan di tahun berikutnya, media-media mengabarkan bahwa di tahun tersebut angaran cuma terserap beberapa persen, selebihnya menjadi Silpa.

Ketika masyarakat minta bantuan katanya tidak ada anggaran, tapi ketika akhir tahun, mereka hanya dapat menghabiskan beberapa persen saja dari yang sudah dianggarkan.

Setelah bertahun-tahun begitu keadaannya, maka masyarakat sepakat, memberikan penghormatan kepada para kepala instansi di pemerintah atau kepala daerah  negeri tak bernama itu.

Di tahun berikutnya, kelompok masyarakat itu datang lagi ke instansi tersebut, jawaban selalu sama mereka terima.

 Maka, mereka tertawa terbahak-bahak dalam waktu lama.

"Apa yang kalian tertawakan?" kepala instansi itu bingung.

"Tidak ada anggaran, ha ha ha ha ha..." mereka tertawa lebih keras seraya keluar dari ruangan.

Begitu ada orang terhormat di pemerintah itu lewat, masyarakat bersalaman dengan mereka seraya melabelkan nama baru.

 "Pak Penjabat tidak ada anggaran." lalu mereka tertawa terbahak-bahak serentak. Ke mana saja para penjabat itu datang, selalu disambut dengan "Pak tidak ada anggara, hahahaha."

Begitulah label untuk gubernur/walikota/bupati/kepala dinas/kepala bidang di negeri tak bermana itu.

Paket Mati Anggaran

Di suatu hari pada 1 Desember, sekelompok masyarakat diundang ramai-ramai oleh sebuah instansi pemerintah. Bahwa dinas merespon desakan masyarakat untuk sebuah proyek yang tidak terdaftar dalam anggaran yang sudah ada. Proyek itu dinamakan dengan Paket Mati Anggaran.

Item-item dalam pakat mati anggaran mencakup semua proyek, misalnya baliho, dengan konsekwensi harus siap dalam sepuluh hari. Prosesnya dihitung dari nol, mulai dari perencanaan, pengurusan administrasi, dan sebagainya.

Kepala dinas menyatakan, masih banyak paket serupa jika sanggup dikerjakan.

Maka sekelompok masyarakat ini bingung dengan istilah Paket Mati Anggaran. Mereka bertanya kepada kepala dinas,

"Berapa nomor sub bidang perusahaan untuk paket ini?"

Dan, kepala dinas ikut bingung. Akhirnya matilah anggaran tersebut karena proyek hantu tidak mungkin dilaksanakan.

Sekelompok masyarakat mengeluarkan pernyataan,

"Bapak serahkan saja anggaran itu kepada masyik (nenek -red)-mu," seraya mereka tertawa dan berhamburan keluar kantor tersebut.pd
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki