Menanti Qanun Bangunan Khas Aceh dari Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE, kota yang puluhan tahun lalu dikenal dengan nama petrodollar, kini seperti kehilangan identitasnya. Tempat lahir tokoh besar dalam sejarah Aceh ini belum mampu mengangkat nama besarnya yang telah ditarikh di masa silam. Kota lada. Pelabuhan internasional Kesultanan Samudera Pasai.

Tokoh-tokoh yang lahir di Lhokseumawe, seperti ulama yang sastrawan Syekh Syamsuddin As-Sumatrani, musisi P Ramlee anak Ramlee, Paloh Pineueng. Kedua makam tokoh ini adanya di Malaysia.

Situs-situs penting di Lhokseumawe, antara lain, yaitu: Kompleks Makam Putroe Neng dan Syiah Hudam di Blang Pulo, Paloh Timu, Muara Satu. Juga Makam Teungku Chik Di Paloh di Cot Trieng, Paloh Timu, Muara Satu. Dan Kolam Teungku Chik Di Paloh di Paloh Dayah, Paloh Timu, Muara Satu. Serta banyak lagi.

Jika ingin mempromosikan wisata pantai, Lhokseumawe telah kehilangan asetnya, pantai Ujong Blang telah lenyap karena abrasi. Tinggal Pulo Seumadu yang tidak mungkin dikemas. Kita tidak bisa lagi berandai-andai dengan perusahaan gas.

Sudah empat puluh tahun, gas telah terbukti tidak mampu membangun peradaban dan memakmurkan rakyat di Lhokseumawe. Malah itu telah membuat penduduk kota ini menjadi kapitalis, tapi tidak juga menjadi bagian orang-orang kaya. Apa potensi kota ini yang dapat dimunculkan? Lhokseumawe dapat dibangun menjadi maju dengan berbasis budaya dan peradaban.

Jika di masa silam ada Syekh Syamsuddin As-Sumatrani dan setelahnya P Ramlee, maka kini, Lhokseumawe memiliki sastrawan peraih Khatulistiwa Award Arafat Nur, dan sutradara komedi Eumpang Breuh, sebuah film lawakan terlaris di Aceh Ayah Doe. Selain mereka ada Teuku Kemal Fasya, novelis Ayi Jufridar, Irwandar, Al Chaidar, dan lain-lain.

Kalau di masa silam, sultan meminta pendapat ulama dan seniman dalam membangun negeri, bagaimana Lhokseumawe sekarang? Siapa yang menyusun konsep pembangunan mental dan fisiknya?

Jika di masa silam, Lhokseumawe menjadi pengambil solusi dan contoh bagi daerah lain di Aceh, bagaimana sekarang? Karena tidak diajaknya tokoh-tokoh dalam pembangunan membuat lahirnya amaran seperti isu ngangkang yang memalukan tempo hari.

Membangun semua bidang secara maksimal sekaligus tidak mungkin. Namun, jika memilih salah satunya, bisa. Idealnya, sebagai kota tua, Lhokseumawe membangun dirinya berbasis budaya. Itu akan menjadi permulaaan yang monumental.

Kalau dalam qanun, misalnya pada 2014, Lhokseumawe melahirkan qanun yang berisi semua bangunan yang didirikan dalam wilayah Kota Administratif Lhokseumawe harus memiliki ciri khas Aceh. Kalau dalam pertanian, Lhokseumawe dapat mewajibkan penduduknya menanam lada kembali. Ladang-ladang lada dimunculkan.

Biarkan Lhokseumawe dikenal kembali sebagai Kota Lada sebagaimana lima ratus tahun lampau. Dengan belajar dari masa silam, masa depan dapat dirajut hari ini.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), penulis novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki