Ketika Sebuah Gedung Dibangun di Kota Pusaka, Kompleks Makam Kuno Lenyap

Sebuah gedung instansi pemerintah sedang dibangun di Pango Deah, Ulee Kareng, Banda Aceh yang telah didaftar sebagai Kota Pusaka. Di gundukan tanah bagian kanan, sebelumnya terdapat beberapa pasang nisan Aceh. Kini tinggal satu, telah tercabut. Foto: Thayeb Loh Angen

Banda Aceh –Nisan-nisan Aceh di kompleks makam kuno yang diperkirakan produksi masa sebelum Aceh Darussalam telah lenyap di Pango Deah, Ulee Kareng, Banda Aceh yang telah didaftar sebagai Kota Pusaka.

Demikian hasil penelusuran Ketua Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) Muhajir, Jumat 1 Nopember 2013. Menurutnya, rencana pembangunan sebuah Rumah Sakit Umum di dekatnya, juga mengancam keberadaan satu komplek makam lain.

"Seharusnya itu tidak terjadi jika jauh-jauh hari, instansi terkait telah mendatanya sesuai dengan status Kota Banda Aceh sebagai Kota Pusaka,” kata Muhajir.

Menurutnya, bukti-bukti kejayaan Aceh dulunya kian terancam karena pembangunan yang tidak melibatkan para sejarawan dan budayawan. Ia berharap, ke depannya, ketika mendirikan bangunan di suatu tempat, pemerintah Kota Banda Aceh lebih memperhatikan situs-situs bersejarah.



Nisan-nisan Aceh di lokasi tanah yang akan dibangun Rumah Sakit Umum, Pango Deah, Ulee Kareng, Banda Aceh yang telah didaftar sebagai Kota Pusaka. Belum ada pernyataan dari pihak pemerintah tentang nasib nisan-nisan tersebut. Foto: Thayeb Loh Angen
“Kalau Banda Aceh menjaga benda purbakala, maka kota tua yang kini terdaftar menjadi kota pusaka ini dapat menampakkan ruhnya sebagai kota berperadaban tinggi, dulunya,” kata Muhajir.

Sementara Arkeolog Lulusan UGM, Deddy Satria, menyayangkan pembangunan-pembangunan di Kota Banda Aceh yang dapat mengancam/menghilangkan benda peninggalan sejarah. Menurut Dedddy, Daerah Pango  banyak terdapat nisan-nisa terdahulu yang terdapat inskripsi yang sangat penting untuk penelitian sejarah dan arkeologi.

 “Pesan saya kepada masyarakat atau pihak manapun, jika saat membangun gedung atau infrastruktur lainnya pada suatu tempat terdapat benda/kawasan yang diduga peninggalan masa lalu supaya  segera melaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh dan Sumut maupun ke Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata,” kata Deddy.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki