Ulama Masa Silam dan Masa Kini serta Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri

Makam Hamzah Fansuri di Ujong Pancu, Aceh Besar, Aceh
Kekuatan yang masih dimiliki oleh orang Aceh tapi tidak disadarinya adalah iman kepada Allah SWT. Karena ketidaksadaran ini, maka orang di zaman sekarang jarang mengacu pada kebijaksanaan ulama terdahulu dalam menangani masalah publik.

Misalnya, Teungku Chik Seumatang, seorang ulama terbesar yang tersisa ketika Belanda memerangi Aceh, punya cara cerdas membela Islam dan umat dengan tetap menghindari konflik.

Suatu ketika, Belanda ingin mengubah opini tentang status syahid bagi orang yang tewas ketika memerangi mereka. Maka, perwira Belanda mendatangi Teungku Seumatang, ingin mendengar pernyataannya yang mendukung mereka, kalau tidak, maka ulama tersebut akan dibunuh.

“Bagaimana menurut Teungku status orang yang memerangi kami?” tanya perwira Belanda.
Setelah berpikir sejenak, Teungku Seumatang menjawab, “Mereka syahad.” Perwira Belanda dan anggotanya tersenyum, kuping mereka menerima kata ‘jahat’ dari ‘syahad’ yang bermakna ‘syahid.’

Kemampuan bijak seperti itulah yang dimiliki oleh Sultan Malik As Shalih dari Samudera Pasai sehingga mampu mendamaikan antara Syiah dan Sunni. Kemampuan seperti itu juga yang mampu mengadopsi budaya sebelum Islam menjadi islami, seperti peusijuek yang kemudian disertai doa dan selawat, mandi ke sungai Gangga atau ke laut menjadi mandi di bulan Safar. Semua berhasil disesuaikan.

Bagaimana kemampuan cendikiawan muslim di Aceh sekarang, baik yang berada di luar pemerintahan maupun di dalamnya?

Perguruan tinggi (dayah-dayah) di Aceh masa silam mengajarkan banyak mata pelajaran, meliputi ekonomi, dagang, politik, seni, syar’i, tauhid, tasauf, dan sebagainya, termasuk permainan seperti galah, catur, seudati, dan lain-lain.

Belanda yang licik melarang ulama-ulama di dayah-dayah Aceh supaya jangan mengajarkan selain syar’i, tasauf, dan sedikit tauhid supaya orang Aceh tidak bisa memimpin bangsanya lagi. Mereka juga mempengaruhi ulama agar melarang segala bentuk permainan seperti galah, seudati, dan semacamnya karena Belanda takut, bisa saja keramaian itu dimanfaatkan oleh para ksatria Aceh yang masih setia untuk menyerang mereka.

Baiklah, Mari Kita Kembali Ke Masa Kini
Penghargaan pada kearifan ulama masa silam sudah semestinya disertai dengantindakan oleh orang-orang yang hidup di masa kini. Seorang dari sekian banyak ulama tersebut terdapatlah Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi atau Hamzah Fansuri.

Pakar sastra, di antranya: Prof Dr Vladimir Braginsky (Berdarah Rusia warga Inggris), Prof Dr Abdul Hadi, WM (Indonesia), Prof Dr Datok Naquib Al Attas (Malaysia), telah meneliti tentang perjalanan hidup Hamzah Fansuri dan karyanya. Hasil penelitian mereka menjadi buku yang sebelumnya sebagai desertasi pengangkatan profesor.

Di Aceh, Dr Kamaruzzaman Bustamam Ahmad telah menulis sebuah buku tentang Hamzah Fansuri dan karyanya, kolektor manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid memiliki beberapa kitab karya Hamzah Fansuri, pakar manuskrip Hermansyah juga menulis beberapa artikel. Beberapa orang lain juga menulis tentang Hamzah Fansuri.

Hamzah Fansuri merupakan ulama Aceh yang pertama membuat bahasa Melayu menjadi alat komunikasi dalam sastra, yang saat itu didominasi oleh bahasa Arab. Beliau dikenal dalam bidang sastra sebagai orang pertama yang menulis syair berkualitas tinggi dalam bahasa Melayu. Beliau disebut Rumi (Maulana Jalaluddin Rumi)-nya Asia Tenggara.

Maka kita sebagai penghuni negeri Aceh, tempat ulama besar dan sastrawan ulung Maluna Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi hidup dan berkarya, sudah sepantasnya melakukan sesuatu, baik itu berbentuk benda atau kegiatan yang dilakukan terus menerus secara berkala sebagai penghormatan kepada indatu, misalnya membangun pustaka, museum, universitas, dan tugu sastra Asia Tenggara atas nama Hamzah Fansuri.

Satu dari sekian banyak usaha penghargaan itu, Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) dan Forum Khasanah Pewaris Raja-Raja Aceh mengajak para pakar untuk bedialog tentang Pembangunan Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri, pada Jumat 4 Oktober 2013 di Museum Tsunami Aceh.

Di tempat yang sama pula, diadakan seminar ‘Hamzah Fansuri dan Karyanya’ di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, 2 Desember 2012. Acara tersebut dilaksanakan oleh Majelis Sastra Hamzah Fansuri dalam rangkaian acara Piasan Seni Banda Aceh 2012 (28 Nopember – 2 Desember 2012).
Ketua Balai Sastra Samudera Pasai Zulfadli Kawom berpose di hadapan Makam Hamzah Fansuri, Ujong Pancu, Aceh Besar.

Kronologis Mengangkat Kembali Hamzah Fansuri Sebagai Bapak Sastra Asia Tenggara

Akhir 2012

Gagasan membentuk Institut Sastra Hamzah Fansuri muncul dari diskusi Thayeb Loh Angen dan Mirza Putra.

2 Desember 2012
Berlangsungnya seminar ‘Hamzah Fansuri dan Karyanya’ di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, 2 Desember 2012. Acara tersebut dilaksanakan oleh Majelis Sastra Hamzah Fansuri dalam rangkaian acara Piasan Seni Banda Aceh 2012 (28 Nopember – 2 Desember 2012).

Januari 2013
PuKAT membentuk Institut Sastra Hamzah Fansuri dengan menerima peserta 30-an orang bidang sastra, jurnalistik, dan komunikasi.

23-24 Februari 2013
PuKAT, Balai Sastra Samudera Pasai, Institut Sastra Hamzah Fansuri, ISKADA Aceh, Pema Universitas Serambi Mekkah mengadakan Kemah Sastra Hamzah Fansuri di Ujong Pancu dengan mata acara seminar selama dua hari. Namun karena ada sedikit masalah komunikasi, maka kemah di Ujong Pancu dibatalkan tapi seminar tentang Hamzah Fansuri tetap dilakukan selama dua hari di Banda Aceh dengan pemateri Dr Kamaruzzaman, Syarifuddin, Ph.D, Kemal Fasya, Hermansyah, Sulaiman Tripa. Acara dihadiri oleh tokoh sastra dan budaya.

11 Mei 2013
Bersama Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN, Thayeb Loh Angen mendeklarasikan Hari Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri di Fakultas Tarbiyah IAIN kerjasama dengan gubernur mahasiswa fakultasnya, dihadiri dekan.

Akhir Mei 2013
Thayeb Loh Angen, Zulfadli Kawom, Herman RN, Balia, dan Imran berdiskusi tentang pembentukan Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri. Dalam rapat ini disepakati membentuk kepanitiaan untuk acara penggalangan dana, namun karena satu dan lain hal acara tersebut belum dapat terlaksana.

13 Agustus 2013
Pada 13 Agustus 2013, di Jakarta, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan penghargaan kepada Maulana Syekh Hamzah Fansuri Alfarisi atas jasanya menjadikan bahasa Melayu Pasai sebagai bahasa lingua franca, yang kemudian menjadi bahasa resmi negara Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan penduduk Pattani. Dalam kesempatan itu penghargaan dengan kategori berbeda diberikan kepada 27 orang lainnya.

1 Oktober 2013
Diskusi antara ketua Forum Khasanah Raja-Raja Aceh, pengurus PuKAT dan anggota panitia pembentukan Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri, dan beberapa pengamat seni. Di sela diskusi, Imran mengangkat rencana tersebut dan mengarahkannya pada ketua forum khasanah raja Aceh. Maka disepakati diadakan dialog resmi pendirian tugu yang ditujukan kepada Pemerintah Aceh.

4 Oktober 2013
Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) dan Forum Khasanah Pewaris Raja-Raja Aceh mengajak para pakar untuk bedialog tentang Pembangunan Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri, pada Jumat 4 Oktober 2013 di Museum Tsunami Aceh.

Thayeb Loh Angen, Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT), deklarator Hari Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri pada 11 Mei 2013.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki