Pantai Barat Selatan Aceh yang Indah (Bahagian I)

Menusuri Jejak Raja dan Ulee Balang dari Banda Aceh, Meureuhom Daya, Kuala Batu, dan
Trumon

Pemandangan di kaki bukit Gle Jong, Aceh Jaya, tempat pendiri kerajaaan Meureuhom Daya bersemayam.
Oleh Thayeb Loh Angen

Menjelang subuh, saya tiba di Banda Aceh setelah menjenguk Ibu dan kerabat serta kawan-kawan di Paloh dayah dan Lhokseumawe. Menjumpai ibu untuk jenguk hari raya, dan di sana saya tahu ternyata ia telah merencanakan acara prosesi peusijuek karena sebulan lalu saya sempat dilanggar sebuah sedan.

Menjumpai rekan-rekan untuk rapat kepanitiaan acara kebudayaan bertajuk 'Kota Budaya’ yang rencananya dilaksanakan pada pertengahan 2014 selama tiga hari tiga malam di Paloh Dayah dengan melibatkan beberapa organisasi kebudayaan dan seni seta pihak pemerintah dan swasta.

Setelah subuh, baru sempat istirahat. Sekitar pukul 7.00 WIB, Imran Pasai menelpon, minta saya segera ke kota untuk bergabung dengan rombongan Ketua Forum Pewaris Khasanah Raja-Raja Aceh dan Dinas Kebudayaan Aceh untuk menghadiri acara kebudayaan Seumuleueng dan Seumeunap di bekas Kerajaan daya, Lamno. Seperti biasanya, setelah itu saya tidur lagi.

Sekitar pukul 9.00 WIB getar telepon membangunkan saya lagi. Karena Imran akan menjemput dengan salah satu mobil Dinas Kebudayaan Aceh, maka saya bangun dan mandi. Sekitar setengah jam setelahnya, ia datang, tepat ketika saya selesai mandi. Saya memang telah berjanji akan mengikuti acara penting tersebut, dan malamnya akan ke Trumon.

Sampai di depan kantor Dinas Kebudayaan, ternyata rombongan bus dinas Kebudayaan Dan Pariwisata sudah berangkat. Saya tidak keluar dari mobil karena belum sepenuhnya segar walau sudah mandi. Belum makan dan minum apa-apa sudah diajak jalan. Teuku Zulkarnaini datang menyalami saya. Dan rombongan yang cuma dua mobil itu pun berangkat ke rumahnya di seputaran Lhoknga, dan di sana mobil tersebut disetir oleh anaknya sampai Lamno.

Teuku Saiful Raja Meureuhom Daya mengulurkan tangan berjabat memuliakan panglimanya saat dijemput dari bale ke Astaka Diraja.
Di perjalanan, Imran meninta saya mengambil foto pantai-pantai yang semuanya lebih indah dari pantai utara timur Aceh, kecuali di Seputaran Krueng Raya. Kata saya, untuk apa kita foto, semuanya indah, saya sudah banyak foto tentang itu. tapi saya mengambil juga satu lembar.

Sampai di Lamno, kami makan siang di sebuah warung. Lalu menuju tempat acara, tapi balik lagi ke rumah tempat ganti baju. Saya heran, masyarakat berdesakan menuju tempat acara, di simpang-simpang polisi lalulintas (polantas) mengatur arah jalan para tamu.

“Wah, ramai juga!” Seru saya yang tadinya hanya menduga acara tersebut seperti kenduri blang di Paloh Dayah. Ternyata, acara tersebut dihadiri rombongan utusan gubernur Aceh dan Bupati Aceh Jaya serta Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haitar hadir. Biaya acara ini memang didukung oleh pemerintah Aceh dan Aceh Jaya. Saya sangat senang karena acara kebudayaan telah dihargai sedemikian rupa.

Sampai rumah singgah tempat ganti pakaian, putra mahkota negeri Trumon, Teuku Raja Aceh menyalami saya dengan ramah. Karena beberapa hari lalu kami memang sudah janji akan ke Trumon setelah acara seumuleueng, sebelumnya ke Banda Aceh dahulu. Lalu kami salah zuhur di mesjid kecil yang bibangun oleh BRR Aceh-Nias dengan uang sedekah seluruh bangsa di dunia.

Sampai di pantai, kaki bukit, kami parkirkan kenderaan. Di sana sudah ada puluhan mobil undangan. Di sanalah saya temukan, masyarakat Lamno dan sekitar telah menjadikan acara seumuleung dan seumeunap sebagai acara sakral yang dinatikan setiap tahun.

Pengunjungnya ramai, menyerupai ekspo di kota dan PKA sekalipun. Hebatnya, Meureuhom Daya, mampu membuatnya dengan acara kebudayaan, bukan dengan acara hiburan dan pameran produk luar sebagaimana di Banda Aceh dan kota lainnya. Kota-kota lain di Aceh, semestinya belajar banyak dari Meureumom Daya.

Di pasir tepi mulut dua bukit, sebelah kanan makam Poteumeureuhom Daya, sebelah kiri bukit karang yang sama tapi tanpa makam, kami menghentikan kenderaan. Pemandangan indah, anak-anak, remaja dan orang dewasa membasahkan diri di sana. Seraya rombongan raja bersiap-siap, saya mendaki tebing bukit, tanpa mengambil baju luar karena panas. Saya mengambil beberapa lembar gambar saat rombongan raja menuju astaka raja Daya. Ketika hampir tiba di astaka, saya bergabung dengan rombongan.

Saya lihat Raja Daya Teuku Saiful sang pemilik acara, di balai tunggu. Beliau mengangkat tangan tanda menyambut, saya balas melambai dan tersenyum. Ia melambai mengajak saya mendekat. Maka saya menuju Raja Saiful dan tidak ikut rombongan tersebut ke astaka. Ketika penjemputan raja Daya, saya ikut sebentar dan berhenti saat sampai di tangga.

Teuku saiful Raja Meureuhom Daya dalam acara Seumuleueng dan Seumeunap pada 3 hari raya Haji tahun 1434 H. Tampak Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haitar (kiri belakang)
Acara seumuleueng pun dimulai di astaka raja yang letaknya di kaki bukit tempat bersemayam Poteumeureuhom. Pengunjung mengerumuni tempat acara. Para wartawan dari banyak media merekam foto dari berbagai sudut, tidak mahu kehilangan kesempatan mengabadikan acara penting tersebut. Bahkan, ada beberapa juru foto datang atas inisiatif sendiri dari Banda Aceh untuk mengambil momen itu. Setelah seumuleueng, maka Raja Daya tidak makan, tapi menunggu hidangan merata dibagi ke seluruh undangan di astaka raja. Inilah yang disebut seumeunap, menunggu.

Ketika semua undangan telah mendapatkan makannnya, acara makan bersama berlangsung khidmat. Setelahnya, petugas di tenda samping astaka membagikan makanan kepada rakyat Daya yang berkunjung ke acara tersebut. Setelah makan-makan, berlangsunglah acara sambutan Ketua Forum Raja, Raja Daya Teuku Saiful, Bupati Aceh Jaya, dan Pemangku Wali Nanggroe. Wali Nanggroe yang masih ditentang keberadaannya oleh beberapa pihak tersebut memberikan beberapa petuah.

Setelahnya, rombongan menuju puncak bukit, menaiki sembilan puluh sembilan anak tangga mencapai makam pendiri kerajaan Daya. Saya yang tidak makan bersama rombongan di astaka dan tidak mengambil bagian di tenda sampingnya, tidak menaiki tangga-tangga itu, tapi mencari warung dadakan untuk makan sepiring mie dan segelas teh.

Begitu baru mahu selesai makan, anak Raja Trumon menelpon mengajak ikut rombongannya. Saya pikir ke Banda Aceh. Saya coba kontak Imran tidak terhubung.

Setelah mengambil tas dan baju luar di mobil dinas yang tadinya membawa saya ke tempat acara, saya masuk mobil rombongan raja Tromon dan Kuala Batu.

Sampai di rumah pergantian pakaian, Raja Trumon menggantikan pakaian kebesarannya dengan pakaian sehari-hari. Dan mobil berangkat.

Dalam pembicaraan, tampaknya rombongan akan langsung ke Trumon, tidak kembali ke Banda Aceh sebagaimana janji kemarin. Saya baru tahu, ternyata telah diculik oleh rombongan raja Trumon di dalam mobil yang dipinjamkan oleh pemda Aceh Barat Daya untuk rombongan kerajaan Kuala Batu. Untungnya tadi pagi saya menurut pada permintaan Imran untuk membawa as berisi laptob dan semacamnya.

Saya diingatkan pada Kerajaan Kuala Batu, sebuah kerajaan kecil yang diratakan dengan tanah pada tahun 1831 ketika Jackson menjadi presiden Amerika Serikat karena menenggelamkan kapal dagang mereka.

Melajulah mobil itu menjelang senja Kamis menusuri pantai Barat Selatan Aceh yang indah.(Bersambung ke bahagian II)

Thayeb Loh Angen, Aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki