Malaysia Boleh Aceh Bisa

Muhajir Al Fairusy saat menyampaikan materi dalam seminar kebudayaan dan pemuda, pada Selasa 8 Oktober 2013, di Aula Pasca Sarjana, IAIN Banda Aceh.
Sejak beberapa tahun lalu, Kedirajaan Malaysia telah mampu merevitalisasi dan memajukan peradabannya. Ketika itu, Perdana Menteri Mahathir Mohamad membuat slogan ‘Malaysia Boleh.’ Di setiap kota dan negeri ditulis slogan dengan huruf besar di tempat yang sering dilewati orang ramai. Slogan tersebut seperti ‘Cintai Selangor’ dan lain-lain. Mereka terus berusaha dan mampu memajukan peradabannya lebih cepat daripada yang dirancang.

Jika kita melihat fakta sejarah, sebagian besar negeri-negeri di Malaysia pernah menjadi bagian dari wilayah Kesultanan Aceh Darussalam, sunguh hal itu memilukan bagi kita di Aceh melihat Malaysia bisa bangkit. Memang, negara kita sekarang Republik Indonesia, tapi jika Malaysia saja yang dahulunya bagian propinsi Aceh boleh maju, maka Aceh tentu saja bisa.

Sebelum Mahathir Mohammad, ada P Ramlee, seniman besar Malaysia yang ayahnya orang Aceh dari Paloh Pineung, Lhokseumawe. Dengan film dan lagu-lagunya, P Ramlee telah membawa nama Malaysia diperhitungkan oleh dunia.

I.    MEMAKNAI PERADABAN  ACEH

A.    Lintasan Sejarah

Kebudayaan di Aceh yang majemuk dan tua telah mengalami perubahan menurut zaman. Sebelum Islam datang, peradaban manusia di Aceh telah maju.
Islam yang datang ke Aceh telah mengalami proses filosofis ketika melintasi Persia dan bersentuhan dengan sufisme saat melewati India. Islami bukanlah Arabi. Misalnya, cara makan, cara membangun rumah, cara berpakaian, Aceh memiliki budaya sendiri yang berbeda dari Arab dan bangsa lainnya, tapi cara Aceh itu islami.
Kebudayaan merupakan kesepakatan kolektif dari sebuah suku atau bangsa di suatu zaman. Ketika Islam datang ke Aceh sejak abad VIII Masehi sampai sekarang, kebudayaan yang merupakan hasil dari peradaban disesuaikan dengan syariat Allah SWT sehingga kebudayaan Aceh islami.

B.    Mengapa Budaya Islami yang Harus Dipertahankan?

Selama ratusan tahun, sejak masa Kesultanan Samudera Pasai sampai masa Kesultanan Aceh Darussalam, Aceh dikenal sebagai negara berpenduduk muslim dengan peradabannya yang terhormat di mata bangsa lain.

Islam adalah warisan utama dari nenek moyang (indatu) kita. Jika ada orang Aceh yang perangainya tidak lagi sesuai dengan Islam, maka orang itu bukan lagi keturunan Aceh yang bermartabat sehingga tidak berhak atas apapun warisan lain. Ini terjadi karena indatu kita telah menyepakati bahwa budaya Aceh itu islami.

Jika Islam di Aceh sekarang adalah warisan atau kenang-kenangan dari para pendahulu, maka apa yang harus kita lakukan dengannya. Bagaimana jika ada orang yang mencoba menghancurkan sebuah benda kenang–kenangan yang amat berharga hadiah ibu dan ayah Anda ketika ia menjelang ajal?

Islam adalah warisan yang lebih berharga dari itu, bagaimana jika ada yang ingin menghancurkannya dengan istilah sekularisme, liberalisme, soisialisme, hak asasi manusia, dan humanisme? Sebagai anak sah dari ayah dan ibu serta cucu cicit sah dari indatu, kita tetap pertahankan warisan utama yang disebut Islam ini. Penyia-nyiaan warisan hanya dilakukan oleh anak haram atau cucu durhaka.

II.    FUNGSI LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELAKUNYA

A.    Fungsi Sekolah dan Pemuda

Sekolah dan remaja atau pemuda yang sedang belajar di dalamnya dapat memfungsikan diri sebagai penjaga kebudayaan. Ini dapat dilakukan dengan bantuan para guru. Maka pelajaran sejarah, budaya, dan seni Aceh, harus masuk ke dalam kurikulum, baik kurikulum utama maupun ekstra kurikuler.
Sekolah bertanggungjawab untuk menanamkan nilai ke dalam jiwa pemuda dan pemudi di Aceh supaya generasi muda kita menjadikan dirinya sebagai benteng kebudayaan. Dengan ini, semangat memajukan Aceh sesuai identitasnya dapat dipelihara oleh para muda.

B.    Fungsi Perguruan Tinggi dan Intelektual
Perguruan tinggi dan mahasiswanya dapat memfungsikan diri sebagai penjaga kebudayaan. Peran para pengajar amat penting dalam mengarahkan mahasiswa supaya membekali diri dengan pemahaman tentang sejarah peradaban Aceh.
Harus ada pemerataan pengetahuan tentang sejarah, budaya, dan seni Aceh, bagi seluruh mahasiswa dari fakultas manapun supaya kampus melahirkan para sarjana yang memiliki identitas Aceh dalam diri mereka.
Perguruan tinggi bertanggungjawab untuk menanamkan nilai ke dalam jiwa setiap mahasiswa di Aceh supaya ketika mereka menjadi sarjana yang mampu menjadikan dirinya sebagai benteng kebudayaan.

III.    TAWARAN SOLUSI

A.    Intelaktual Sebagai Pemicu
Sekolah dan perguruan tinggi, dosen dan guru, pelajar dan mahasiswa, bertanggungjawab untuk menjadikan dirinya sebagai benteng kebudayaan demi mengembalikan semangat memajukan Aceh sesuai identitasnya.

Kita bertanggungjawab untuk mempengaruhi siapapun, baik di dalam maupun di luar pemerintahan seperti sekolah, kampus, dan perusahaan, untuk membangun Aceh berbasis budaya dan peradaban.

B.    Pemuda Bertindak Sebagai Pelindung di Garis Depan
Untuk menyelamatkan budaya warisan, kita para pemuda dan pemudi di Aceh bertanggungjawab untuk bertindak dengan segera:

-     Mempelajari Teknologi Informasi dan menggunakannya sebagai media untuk mengampanyekan kebudayaan Aceh.
-    Membuat komunitas dan kegiatan kebudayaan di sekolah, kampus, dan sebagainya.

IV.    LEMBAGA KEBUDAYAAN DI ACEH

1.    Yayasan Bustanussalatin | Pendiri: Dr Kamal Arif, Dr Salmawati | Alamat: Banda Aceh, Bandung.
2.    Yayasan Masyarakat Pusaka Nanggroe | Pendiri: Dr Kamal Arif, Ir. Azwar Abu Bakar| Alamat: Banda Aceh
3.    Lembaga Budaya Saman | Pendiri: Thayeb Loh Angen, Teuku Kemal Fasya, Jauhari Ilyas, Herman RN | Alamat: Banda Aceh
4.    Central Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH) | Pendiri: Tgk Taqiyuddin,Lc | Alamat: Lhokseumawe
5.    International Cultural Aceh Indian Ocean Society (ICAIOS) | Alamat: Banda Aceh, Unsyiah.
6.    Rumoh Manuskrip Aceh | Pendiri: Tarmizi A Hamid, Hermansyah | Alamat: Banda Aceh
7.    Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) | Pendiri: Mizuardi, dkk | Alamat: Banda Aceh
8.    Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) | Pendiri: Dr Mehmet Ozay, Nia Deliana, Thayeb Loh Angen | Alamat: Banda Aceh, Kuala Lumpur, Istanbul.
9.    Aliansi Lamuri Faundation (ALIF) | Pendiri: Mawardi Usman | Alamat: Banda Aceh
10.    Yayasan Teuku Dek Nyak Dien | Pendiri: Teuku Zulkarnaini| Alamat: Nagan, Banda Aceh
11.    Komunitas Jurnalis Pembela Budaya | Pendiri: Thayeb Loh Angen | Alamat: Banda Aceh.
12.    Dan lain-lain yang tidak aktif.

V.    TOKOH BUDAYA YANG PATUT MENDAPATKAN ANUGRAH

1. Tgk Taqiyuddin atas jasanya meneliti artefak warisan Kesultanan Samudera Pasai. Bentuk penghargaan dengan mendanai penelitiannya serta mendirikan Institut Sejarah Aceh di Lhokseumawe.
H Harun Keuchik Leumiek atas jasanya mengoleksi barang logam, senjata, sungket, manuskrip Aceh. Bentuk penghargaan dengan mendirikan museum khusus untuk koleksinya
2. Tarmizi A Hamid atas jasanya mengoleksi manuskrip Aceh. Bentuk penghargaan dengan mendirikan museum khusus untuk koleksinya
3. Razali Abdullah atas jasanya menulis buku-buku dalam bahasa Aceh. Bentuk penghargaan dengan menerbitkan buku-buku yang ia tulis dan mendirikan pustaka untuk buku-buku tersebut.
4. Syekh Ghazali LKB atas jasanya mempertahankan irama dan syair Aceh ke dalam lagu-lagu yang ia produksikan. Bentuk penghargaan dengan mendukung promosi lagu terbitannya ke luar Aceh dan luar negeri serta memberikan piringan emas padanya.
5. Sayed Dahlan Al-Habsyi atas jasanya melukis tentang tokoh dan peninggalan Kesultanan Aceh Darussalam. Bentuk penghargaan dengan mendirikan sebuah galeri seni untuk lukisan-lukisan dan koleksinya.
6. Dan lain-lain yang belum terdata.


VI.    BANGUNAN YANG MENDESAK DIBANGUN DI ACEH

1. Museum manuskrip
2. Galeri Seni
3. Museum artefak untuk nisan Aceh yang letak makamnya tidak diketahui lagi
4. Monumen perdamaian
5. Tugu Hamzah Fansuri (Sedang dalam tahap persiapan pendirian, dialognya difasilitasi oleh PuKAT dan 6. Forum Khasanah Pewaris Raja-Raja Aceh, dialog pertama dilaksanakan pada 4 Oktober 2013 di Museum Tsunami Aceh)
7. Monumen 26 Maret sebagai peringatan hari pernyataan perang Hindia-Belanda terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada 26 Maret 1873
 8. Universitas Kebudayaan
 9. Institut Sejarah Aceh

VII.    KESIMPULAN

Peradaban Aceh yang maju dan tua harus ditemukan dan dipraktikkan kembali. Hal ini dapat dipicu oleh intelektual atau akademisi dan dijalankan oleh remaja atau pelajar, pemuda atau mahasiswa.
Tindakan langsung secara sisematik adalah jalan terbaik untuk membangun masyarakat dan negeri Aceh supaya maju berbasis peradaban. Insya Allah.

Oleh: Thayeb Loh Angen, Juru Propaganda Kebudayaan, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT).

Teuku Zulkhairi (kanan) dan Muhajir Al Fairusy dalam seminar kebudayaan dan pemuda, pada Selasa 8 Oktober 2013, di Aula Pasca Sarjana, IAIN Banda Aceh.
 Makalah ini disampaikan di Seminar Nasional Mempertahankan Budaya Aceh Sebagai Wujud Adanya Keanekaragaman Budaya di Indonesia. Sub tema “Kearifan Lokal Sebagai Aset Budaya Bangsa dan Implementasiya Dalam Kehidupan Masyarakat Aceh.” Topik: “Peran Lembaga Pendidikan Dalam Mendukung Eksistensi Budaya Aceh Masa Depan. Paparan Masukan Dan Harapan Lembaga Pendidikan.” Dilaksanakan oleh Lembaga Partner Survei Aceh bekerjasama dengan Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik, pada Selasa 8 Oktober 2013, di Aula Pasca Sarjana, IAIN Banda Aceh.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki