Inspirasi Diwannirajim


Apresiasi untuk Cerpen Diwannirajim Karya Zulfadli Kawom

Cerita pendek (cerpen) berjudul Diwannirajim atau Dewan Setan Yang Terkutuk karya Zulfadli Kawom yang dimuat di Harian Serambi Indonesia pada hari Minggu 25 Agustus 2013, memberikan warna baru dalam gaya bercerita di Aceh. Begitu membaca cerpen ini, saya teringat pada novel Harry Potter karya perempuan Inggris bernama J.K. Rowling.

Keduanya melukiskan dunia mistik, yang satu tentang alam para setan dan satu lagi tentang alam para penyihir. Sama-sama alam mistik yang tidak berwujud. Pola-pola miring masyarakat dari dunia nyata ditarik ke dunia hayalan mistik dalam karya tersebut, kemudian, saat orang membacanya, dunia dalam gambaran penulis ini terpantul kembali ke dunia nyata.

Diwannirajim berbentuk ekspresionisme dengan aliran isi sarkasme dalam kritik sosial politik. Zulfadli Kawom menceritakan tentang sekumpulan setan dari berbagai tempat, berkumpul mengadakan rapat akbar di tempat resmi atas titah pimpinan tertingginya Raja Iblih.

Membaca Diwannirajim mengingatkan kita pada Dewan Perwakilan Rakyat di tempat masing-masing, tapi tidak ada alasan apapun yang dapat menuntut penulisnya karena pencemaran nama baik. Inilah kelebihan karya sastra, mampu memberikan kesan dan pesan tentang sesuatu peristiwa tanpa menyertakan nama tokoh dan tempat nyata ke dalam tulisan.

Cerpen Diwannirajim berisi majas metafora atau membandingkan sebuah benda dengan benda lain secara langsung. ‘Diwannirajim’ merupakan dua kata yang digabungkan, yaitu kata ‘diwan’ atau ‘dewan’ dan ‘rajim.’ Lengkapnya, diwan al rajim yang ketika digabungkan menurut grammatika atau tata bahasa Arab (nahwu) menjadi diwannirrajim.

Mengapa diwan al rajim menjadi diwannirajim? Antara kata ‘diwan’ dan ‘rajim’ mesti disisipkan alif ‘al’ yang dalam hal ini merupakan alif al syamsiah sehingga ejaan lam di alif al dihilangkan menjadi tasydid pada huruf pertama kata ‘rajim.’ Mengapa Zulfadli memakai kata diwannirajim yang belum digunakan selama ini menjadi judul cerpen tersebut?

Diwan atau dewan berarti sebuah forum yang dihadiri oleh perwakilan orang banyak. Kata ‘rajim’ diambil dari kalimat ‘a’uzubillahi min asy syaithanirrajim’ yang maknanya ‘aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang kena rajam (terkutuk), karena mereka ingkar pada Tuhan.

Dari satu sisi, pemakaian kara ‘nirrajim’ ini agak sakral, tapi masih bisa ditolelir dengan pemaknaan yang benar. Maka dalam kalimat sederhana, penulisnya ingin mengatakan bahwa para anggota dewan dalam cerita tersebut adalah orang-orang yang prilakunya bagaikan setan-setan yang terkutuk karena mengingkari amanah rakyat.

Apakah para angota dewan di wilayah Anda seperti dalam cerpen ini? Setahu saya, ‘Diwannirajim’ hanyalah cerita fiksi yang ditulis oleh Zulfadli Kawom tentang angggota Dewan Setan Yang Terkutuk. Jika ada yang merasa nama baiknya dicemari oleh tulisan tersebut atau menganggapnya sebagai hujatan kepada orang di dunia nyata, maka hal tersebut adalah perasaan orang itu sendiri. Sebab, sebuah cerpen tetaplah cerita pura-pura.

Bila dibandingkan dengan cerpenis lain di Aceh, seperti: Musmarwan Abdullah (yang terkenal dengan cerpen Pada Tikungan Berikutnya), Azhari (yang terkenal dengan cerpen Perempuan Pala), Herman RN (yang terkenal dengan cerpen Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku), dan lain-lain, maka Zulfadli Kawom adalah pendatang baru dalam dunia karang-mengarang cerita di Aceh.

Yang dibutuhkan dalam dunia seni, termasuk sastra, adalah warna baru yang menyegarkan. Ketika Zulfadli menggabungkan kata ‘diwan’ dan ‘nirajim’ yang sudah biasa kita dengar secara terpisah tersebut, maka terjadilah sebuah warna segar dalam kosa kata kita yang mungkin bisa menginspirasikan orang lain.
Keberanian mengggabungkan ini (walau agak sembarangan karena memakai kata yang mendekati sakral) merupakan sebuah hak kebebasan sastrawan dalam menciptakan kosa kata baru. Zulfadli yang baru menulis dalam bentuk sastra sudah melakukannya. Sebuah permulaan yang bagus.

Selain judul, penggunaan nama tokoh dan tempat dalam Diwannirajim menampilkan informasi baru tentang nama-nama makhluk jin dalam budaya Aceh. Misalnya, Raja Itam, Ben Sureng, Burong Tujoh, Paridon Pari, Kangkang Kuala, Jen Pageue, Putroe Dimanyang, dan lain-lain nama jin yang akrab di telinga penduduk Aceh.

Ini menyegarkan ingatan kita tentang nama-nama makhluk tersebut yang selama ini tabu, bahkan bagi sebagian orang, mengucapkannya saja merupakan hal yang mengerikan. Apalagi selama ini, orang lebih sering mendengar istilah nama makhluk jin dari Pulau Jawa, seperti kuntilanak, pocong, dan sebagainya.
Dari sisi gaya cerita, Diwannirajim mengunakan gaya narasi, tidak memerlukan alur yang lengkap. Cerita ini bersifat reaktif dari kegelisahan terhadap situasi politik di wilayah kisahnya lahir. Yang diinginkan darinya adalah sebuah efek. Dan, efek tersebut, berhasil dimunculkan.

Kehadiran Diwannirajim dapat memperkaya gaya menulis cerpen di Aceh, terutama dalam bidang gaya mengkritik keberadaan sosial politik dalam pemerintahan dengan cara tersembunyi di balik kata-kata indah (yang kadang terdengar kasar, jika bahasanya lebih halus bentuknya satire bukan sarkasme).

Diwannirajim menjelaskan bahwa sebuah karya sastra dapat menyentuh prilaku politikus di suatu tempat secara langsung dengan tetap mempertahankan gaya sastra sebuah tulisan. Artinya, cerita fiksi tidak mesti berisi pengalaman pribadi atau percintaan muram semata.
Kalau kita cerdas dan gigih, selalu ada ide untuk menulis yang berguna bagi khalayak umat. Mari tepuk tangan untuk Zulfadli sang Diwannirajim.
‘Plok plok plok!
Saya sudah melakukannya.

Kita tunggu cerpen menggugah lainnya dari para penulis di seantero Aceh. Semoga sastra bisa memperbaiki pola pikir dan prilaku umat, atau setidaknya mampu mengisi ruang sunyi hati di dalam negeri yang dipenuhi bisingnya romantika kenangan dan harapan ini.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki), Juru Propaganda Kebudayaan.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki