Dunia Kebudayaan Aceh Mengkhawatirkan

Thayeb Loh Angen (depan) dan Teuku Raja Nasruddin saat menusuri rawa dan belukar sekitar satu kilometer untuk melihat benteng dan meriam peninggalan Kerajaan Kuala Batu, Aceh Barat Daya. Kalau saja Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh-Sumut dan Dinas Kebudayaan Aceh dan Kabupaten menjalankan tugasnya dengan baik, akses ke tempat ini lebih beradab dan situsnya terawat.
Dunia kebudayaan di Aceh mengkhawatirkan. Kita kekurangan pakar dan pencinta kebudayaan yang bersedia bertindak. Kemarin, saya dan rombongan raja mengunjungi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) di Rima Jeuneue, Aceh Besar. Katanya, para ahli di sana orang Medan dan dari Pulau Jawa. Pantas saja, benda cagar budaya di Aceh baru beberapa yang didaftarkan dan yang didaftarkan pun kurang ditaruh informasi di situs tersebut. Ada apa ini?

Mengapa pemerintah atau perguruan tinggi yang tidak menelurkan para pakar kebudayaan. Mengapa tidak ada fakultas kebudayaan di perguruan-perguruan tinggi itu, apalagi universitasnya. Dan, pengurus dinas kebudayaan di Aceh dan kabupaten kota juga bukan dari kalangan pencinta budaya atau seni, bahkan ada di antara mereka yang tidak tahu sama sekali tentang kebudayaan.

Di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh dan DPR Kota/Kabupaten juga kita dapati hal serupa. Komisi yang membidangi budaya bukan diurus oleh yang memahami benar di bidang tersebut. Di sisi lain, munculnya beberapa aktivis perempuan merupakan sebuah hal maju. Di antaranya ada yang memasuki dunia politik. Namun belum ada dari kaum ibu ini yang tertarik pada dunia kebudayaan sebagaimana tentang HAM dan politik.

Dalam dunia kebudayaan, kita belum banyak menemukan tokoh dari kalangan perempuan. Selama ini ketika ada acara kebudayaan, hanya dapat mengundang pegiat budaya dari kalangan lelaki. Perempuan hanya satu dua saja.

Ada apa dengan keadaan ini? Bagaimana kita memahami makna dari riwayat hidup Laksamana Keumala Hayati, Sultanah Safiatuddin, Cut Meutia, Sultanah Nahrisyah? Selain para lelaki yang sedikit tertarik dengan kebudayaan, perempuan nyaris tidak ada yang melibatkan dirinya dengan serius.

Keadaan yang memprihatinkan seperti itu membuat acara kegiatan-kegiatan kebudayaan yang dilaksanakan oleh pemerintah, yang terbesar PKA (Pekan Kebudayaan Aceh) berkesan asal jadi, bahkan memalukan. Dari manakah kita dapat memperbaiki ini?

Bagaimana Bapak Gubernur Aceh, Bupati dan walikota se-Aceh dan dinas kebudayaannya. Bagaimana Bapak Rektor Unsyiah dan IAIN yang institusi tersebut mengklaim diri sebagai jantong hate rakyat Aceh. Bagaimana Bapak Rektor perguruan tinggi lainnya di Aceh? Apa solusi untuk melestarikan kebudayaan dan merevitalisasi peradaban Aceh?

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan, penulis novel Teuntra Atom, Pemangku Peutua Chik Negeri Meukutop.
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki