Buaya di Kampung tak Bernama

Puisi: Thayeb Loh Angen

Di kampungku yang tidak bernama itu, ada buaya yang dilahirkan oleh sebuah perang. Ia luar biasa. Lihat saja, ia tidak seperti buaya lain yang cuma memangsa binatang-binatang di sekitar sungai. Sepertinya ia sangat kelaparan.

Buaya di kampungku memangsa ratusan ekor sapi, besi jembatan, aspal, semen, benih sawit, benih mangrove, biaya siswa. Ia juga memakan rumah-rumah bantuan untuk orang miskin, dan berbagai-bagai benda yang tidak mungkin dimakan oleh buaya lain, buaya kampungmu. Ia memang sangat kelaparan.

Jangan, jangan coba kauganggu buaya itu. Ia sangat dihormati oleh pendudukku. Orang-orang bersalaman dengannya, bahkan berebutan. Suaranya jadi sabda di kampungku. Foto-fotonya ada di setiap simpang.

Seandainya perang tidak ada, hanya buaya dari seberang atau peliharaannya yang memangsa-mangsa, dan buaya-buaya itu tidak lahir. Tapi, mereka sudah terlanjut ada. Dan orang kampungku tidak mungkin memutar arah waktu ke asalnya.

Thayeb Loh Angen, penulis novel Teuntra Atom
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki