Beragam Pendapat Muncul, Dialog Pembangunan Tugu Hamzah Fansuri Dilanjutkan Bulan Depan


Dialog membangun Monumen atau Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri, di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Jumat 4 Oktober 2013. Acara ini dilaksanakan oleh Forum Khasanah Pewaris Raja-raja Aceh bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT). Foto: Rahmad Sanjaya/aceharts.com
Peradaban Dunia, Banda Aceh - Para sastrawan dan pegiat budaya berdialog tentang rencana membangun Monumen atau Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri. Acara tersebut dilaksanakan oleh Forum Khasanah Pewaris Raja-raja Aceh bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT).

Dialog dengan para sastrawan dan pegiat budaya tersebut dilaksanakan di Museum Tsunami, Banda Aceh, Jumat 4 Oktober 2013.

Inilah pendapat dan saran peserta untuk Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri

Jauhari Ilyas (Samalanga)

“Usaha membangun tugu Hamzah Fansuri bagus untuk memperbaiki pertentangan raja dan ulama dalulu. Perselisihan itu kita perbaiki sekarang. Ini sangat baik, dapat menghapus kebekuan dendam di hati.  Ini awal mencairkan konflik, dan mengangkat harkat martabat Aceh. Alangkah lebih baik, tugu tersebut, selain di Aceh, juga dibangun di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Jadi ada di tiga dimensi dunia, ada di tiga lokasi secara bersamaan, misalnya ada di Eropa, Asia, dan Amerika dalam waktu bersamaan, itu untuk menghindari klaim asli dan palsu.”

Salman Yoga S
“Kenapa harus Hamzah Fansuri, setelahnya akan banyak tokoh-tokoh lain. Harus Hamzah Fansuri yang pertama karena Aceh sepanjang abad dibangun oleh karya sastra, transformasi sejarah Aceh dilakukan oleh syair. Harus menjadi program khusus, yang bagus sebagai simbol Aceh sebagai pusat kejayaan Islam di Asia Tengara. Sebelum wilayah lain menggagas, Aceh harus memulainya, membuat tugu Hamzah Fansuri.”

“Dalam konteks kekayaan non materi, mungkin saja dibangun beberapa tugu lain di Aceh. Tanpa tugu, sejarah ini akan hilang. Sejarah perlawanan harus diangakt juga.  Di Gayo Luwes ada benteng perang Belanda yang masih semak belukar. Bekas pembantaian tidak dijaga. Kita perlu mengkaji kontribusi Hamzah Fansuri, mengapa harus untuk Hamzah Fansuri yang dibuat tugu.”

Tgk Sufiani Daud
“Kekuatan Aceh ada pada Hamzah Fansuri, mufti Asia Tenggara. Hamzah Fansuri adalah seorang waliyullah yang banyak mengarang kitab, menjadi ‘paus sastra’ dunia. Isi pemikirannya tidak mudah dicerna sehingga terfitnah. Sebelum membangun tugu, sebaiknya memperbaiki keyakinan.”

Din Saja
“Tugu yang dibangun harus memberi manfaat kepada orang yang hidup, sebaiknya di kampungnya dibangun, baik tugu atau apa saja. Pemikiran harus diterapkan lagi, apalagi didukung oleh keturunan raja-raja Aceh yang bijaksana. Butuh pengkajian lebih baik. Kalau tugu itu jadi, harus dijadikan oleh putra Aceh terbaik. Ajaran tokoh ini adalah saling menghargai sesama manusia. Sebaiknya, tugu Hamzah Fansuri tidak perlu dilabelkan level, misalnya dunia atau Asia Tenggara atau apa saja, tidak perlu klaim, tapi cukup Hamzah Fansuri saja. Jadi, biarkan ianya mendunia, kita buat ini dengan kerendahan hati.”

Rahmad Sanjaya
“Apapun yang dibangun menurut kesepakatan, yang menandakan Hamzah Fansuri berasal Aceh, tidak hanya tugu, tapi nama jalan, museum, sekolah, universitas, dan sebagainya. Bentuk tugu itu perkara teknis, tapi tugu itu harus mengakomodir apa saja warisan terbaik Hamzah Fansuri. Ini tugu menjadi aset masa depan, tidak diubah lagi, makanya sebelum dibangun harus dialog beberapa kali dengan perserta yang mewaliki seluruh unsur dan pakar.”

Dialog membangun Monumen atau Tugu Sastra Asia Tenggara Hamzah Fansuri, di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Jumat 4 Oktober 2013. Acara ini dilaksanakan oleh Forum Khasanah Raja-raja Aceh bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT). Foto: Rahmad Sanjaya/aceharts.com
Muhajir Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa)
“Kontroversi letak makam Hamzah Fansuri harus diselesaikan, harus divalidkan. Setelahnya kita buat tugu, pustaka, museum, dan sebagainya. Setelah valid, kita musyawarah ulang untuk kesepakatan. Bangunan yang didirikan tersebut harus mewakili semangat Aceh. Bagusnya kita bangun museum.”

Teuku Zulkarnaini
“Kegiatan ini sekaligus untuk mendorong Pemerintah Aceh supaya menjadikan wilayah ini sebagai negeri yang memiliki peradaban sastra kuat dan simbol ilmu pengetahuan. Untuk menampung berbagai saran dari para pakar, kita harus buat musyawarah lagi secara lebih besar. Ke depan, kita buat di ACC Sultan II Selim.”

Raja Saiful Meureuhom Daya
“Sebagai raja Meureuhom Daya, saya nyatakan perlu dicari keabsahan makam yang mulia Syekh Hamzah Fansuri.  Kami sudah menziarahi makam beliau di Ujong Pancu. Keadaannya menyedihkan. Membangun tugu bagus, baiknya kita benah dulu makamnya sebagai situs sejarah penting bagi Aceh dan dunia.”

Thayeb Loh Angen

“Hamzah Fansuri tidak bisa lagi disebut milik Aceh semata, tapi milik Indonesia, Asia Tenggara, dan dunia. Beliau dan karyanya telah menjadi penelitian pakar sastra dunia. Hanya perkara promosi saja, karya Hamzah Fansuri akan sepopular karya William Shaekspare, Jalaluddin Rumi, dan Kahlil Gibran. Orang Aceh dan Asia Tenggara yang memakai bahasa rumpun Melayu bertanggungjawab untuk itu.”

Selain pemberi pendapat dan saran, dialog tersebut dihadiri Udin Pelor, Imran Samudera Pasai, Teuku Raja Aceh cicit Raja Trumon, jurnalis ajnn.net Mirza Putra.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki