Antara Wali Nanggroe Aceh, Shah Iran, dan Umar ibnu Khattab

"Jika ada yang kelaparan di antara penduduk negeri ini, maka aku adalah yang pertama."
        -Umar ibnu Khattab, khalifah Islam ke 2

Isu Anggaran Pelantikan Wali Nanggroe IDR 50 Milyar, mengingatkan saya pada peristiwa sejarah, di belahan Asia Barat, sebelum Revolusi Iran pada Januari 1979. Ketika itu, raja -Shah- Iran Reza Fahlevi, mengadakan pesta termahal sepajang sejarah, mengundang seluruh raja yang ada di dunia, menyuguhkan makanan dan makanan termahal, tempat dan fasilitas kelas atas kepada semua tetamu.

Kenyataan pestafora raja di tengah keadaan miskinnya penduduk Iran itu menjadi salah satu sumbu api pembakar semangat Revolusi Islam Iran. Akibatnya, pada 11 Februari 1979 Shah Iran diusir, seluruh hartanya yang banyak dari hasil penjualan alam rakyat disita, lalu berdirilah Negara Republik Islam Iran yang dipimpin para ulama.

Sebagai anak Aceh, saya cuma menyatakan bahwa, kami bangga jika Aceh dipandang terhormat oleh bangsa lain di dunia, memenuhi standar seremoni memang perlu, tapi tidak berlebih-lebihan dalam ukuran keadaan Aceh sekarang.

Kita memang melanjutkan sejarah, tapi penting diingat, lembaran sejarah di Aceh tidak disulam dengan foya-foya, itu disulam dengan kesederahanaan. Raja Marokko sekarang, benar, saat menyatakan bahwa semua rakyat Marokko harus kaya. Kehormatan yang sesungguhnya bagi seorang raja adalah mampu memberikan makan rakyatnya, memberi mereka pengetahuan dan kelayakan hidup.

Saya setuju pada keberadaan wali nanggroe dan pengangkatannya yang standar, tapi tidak berlebih-lebihan. Tapi saya lebih setuju lagi jika Aceh dibangun dengan kesederhanaan sebgaimana Rasulullah membangun negara Madinah dan Khalifah Umar ibnu Khattab menggunakan rumah lapuk dan tuanya sebagai istana Kekhalifahan, yang wilayah kekuasaannya saat itu lebih luas dari Indonesia sekarang.

Mengingat Aceh melanjutkan sejarah sekarang, kami rindu pada kezuhudan Sultan Malik Ash-Shalih, pada kesederhanaan penampilan Laksamana Keumala Hayati. Apa artinya para pemimpin bergaya-gaya dengan orang luar sementara pendapatan rakyat belum memenuhi standar. Harga dan cermin seorang pemimpin adalah rakyatnya sendiri.

“Kemiskinan terjadi karena kesalahan raja,” begitulah dikatakan oleh penyair filsuf Kahlil Gibran.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki)


Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki