Organisasi Kebudayaan di Aceh Bentuk Persatuan

Suasana Diskusi antar-organisasi kebudayaan pada 27 September 2013 di Banda Aceh. Hadir Arkeolog Dr Husaini Ibrahim, Wakil Ketua Central Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH) Putra, Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) Muhajir, Eksekutive Direktor Aceh Heritage Community Foundation Yenny Rahmawati, Sekretaris Yayasan Bustanussalatin Dr Salmawati, dan Pendiri Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT) Dr Mehmet Ozay,”
Banda Aceh – Organisasi kebudayaan di Aceh membentuk sebuah persatuan yang dinamakan sementara dengan Majelis Permusyarawatan Organisasi Kebudayaan Aceh yang disepakati di Banda Aceh pada Senin 4 Nopember 2013.

“Untuk sementara, organisasi yang yang tergabung terdiri dari Central Information for Samudera Pasai Heritage (CISAH), Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA), Yayasan Bustanussalatin, Lembaga Budaya Saman, Forum Khasanah Raja-Raja Aceh, Rumoh Manuskrip Aceh, dan Pusat Kebudayaan Aceh-Turki (PuKAT),” kata aktivis kebudayaan, Thayeb Loh Angen dalam sebuah diskusi kebudayaan yang dihadiri seniman dan tokoh budaya, 31 Oktober 2013 di Banda Aceh.

Kata dia, pihaknya akan menghubungi organisasi kebudayaan lainnya untuk bergabung. Organisasi yang diajak, kata dia, yang memiliki kiprah nyata selama ini.

“Jika nantinya ada organisasi yang aktif dan diakui publik, tapi tidak kami hubungi karena kurangnya informasi tentang keberadaan dan kegiatannya, mohon mendaftarkan diri. Ini adalah forum bersama,” kata Thayeb.

Menurutnya, para senior organisasi kebudayaan akan diminta menjadi Dewan Pakar atau dewan Kehormatan majelis ini. Kolektor manuskrip Aceh Tarmizi A Hamid telah dihubungi dan bersedia.

“Kita akan segera menghubungi para senior lainnya seperti Dr Kamal Arif, Dr Husaini Ibrahim serta beberapa profesor untuk menjadi Dewan Pakar,” kata Thayeb.

Rencana membentuk forum komunikasi antar-orgasisasi kebudayaan, kata dia, telah ada hampir dua tahun. Namun, menurutnya, tertunda karena beberapa sebab dan butuh uji coba waktu supaya itu dapat terbentuk.

“Di tahun 2011, Dr Mehmet Ozay yang merupakan seorang senior organisasi kebudayaan menyampaikan ide ini pada saya. Namun, saat itu belum ada saling komunikasi antara organisasi. Maka kita coba untuk sering berkomunikasi antar-organisasi dengan beberapa kegiatan. Saya pernah menyampaikan itu pada Abu Taqiyuddin. Ia setuju itu kita bentuk,” kata Thayeb.

Lalu, kata Thayeb, secara tidak langsung pihaknya mencari orang yang mampu menjadi tokoh pemersatu melalui seleksi alam. Namun, kata dia, tidak ada yang lulus tes.

“Kini, ketika ada beberapa masalah dalam dunia kebudayaan yang tidak bisa ditangani oleh satu organisasi, ide itu mencuat kembali. Sebagai organisator, saya suka bahwa ide sejak 2011 akhirnya diketahui memang benar perlu diwujudkan,” Thayeb.

Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mengatakan, forum bersama organisasi kebudayaan tersebut penting untuk menangani isu kebudayaan yang muncul dan membuat program-program besar yang tidak mungkin dilakukan oleh satu organisasi saja.

“Hal-hal besar dapat pula kita lakukan dengan adanya forum komunikasi bersama secara resmi,” kata Muhajir
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki