Purnama Tujuh Warna (Puisi Thayeb Loh Angen)

Karya: Thayeb Loh Angen

Telah kubakar dupa tujuh aroma dalam mangkuk tembikar supaya wewangian langit datang ke dalam kamarku. Namun aku lupa membakar ketujuh nafsuku sendiri sehingga yang datang hanyalah bau busuk dari pantai neraka.

Telah kuikatkan jampi dari benang tujuh jenis kulit kayu pada pinggang pengatur zaman supaya alam selamat dari fitnah manusia keji dan kejam. Tapi aku lupa mengikat gelang emas putih bermanik mutiara di tanganmu sehingga kautebarkan finah di seluruh negeri.

Telah kuairi sungai dengan tujuh warna air di negeri ini. Tapi aku lupa mengairi kebun padi di selatan kampung sehingga penduduknya kelaparan di akhir musim kemarau.

Telah kusampaikan khutbah di tujuh minbar mesjid berusia seribu tahun. Tapi aku lupa mengatakan kepada imamnya bahwa mesjid adalah rumah yang harus suci dari kebencian dan fitnah kepada makhluk.

Maka, malam ini, di saat purnama tujuh warna seperti pelangi, kuminta ampunan-Nya bahwa aku tidak lebih baik dari orang-orang yang sering dihujat itu.

Banda Aceh, 13 September 2013

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT)


Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki