Mitos Tentang Asal Kata Nama Aceh

Ada yang mengatakan kata ‘Aceh’ berasal dari ‘Asyi’ dalam bahasa Arab, ‘acha’ dalam bahasa Hindia, ‘Achem’ dalam bahasa Spanyol, dan sebagainya. Tentang definisi asal kata ini, disebutkan dalam beberapa buku sejarah, di antaranya Aceh Sepanjang Abad tulisan H Mohamad Said pendiri koran nasional Harian Umum WASPADA.

Yang menggelikan, ada yang mengatakan bahwa kata ‘Aceh’ adalah singkatan dari nama bangsa dan benua, yaitu: A singkatan dari Arab, C singkatan dari Cina, E singkatan dari Eropa, dan H singkatan dari Hindia karena wajah dan postur orang Aceh ada kesamaan dengan orang dari asal negeri tersebut. Itu hanya kata peuantok (pencocokan dengan huruf dan kata), dan tidak lengkap karena orang Aceh juga ada yang mirip Afrika, Turki, dan lain-lain. Namun anehnya, bukan rakyat awan saja, beberapa akademisi pun masih mengatakan itu sebagai kepanjangan kata Aceh.

Mari kita telusuri sejarahnya. Sebelum penjahat dari Eropa Utara Belanda menyatakan perang kepada Kesultanan Aceh Darussalam pada 26 Maret 1873, penduduk Aceh dari seluruh negeri memakai huruf Arab untuk menulis dalam bahasa Melayu Pasai yang disebut tulisan Jawi. Dalam literasi Jawi ditulis Asyi atau Al-Asyi, yakni memakai huruf alif, syin, dan ya. Jika itu huruf yang dipakai, lalu bagaimana membuat kepanjangan kata ‘Aceh’?

Nah, itu baru lahir setelah 1873 ketika Belanda datang dengan kapal, tentara, budak, senjata, kristen, budaya, serta huruf latinnya. Merekalah yang menulis di Aceh dengan huruf latin sehingga Asyi jadi Aceh.  Memang, walau tulisannya Asyi, lidah Aceh menyebutnya Aceh dalam keseharian.

Entah siapa yang memulainya, mungkin untuk lucu-lucu atau pernyataan heterogen dan pluralnya ras, ada orang di Aceh mengatakan bahwa Aceh adalah singkatan dari yang tersebut tadi. Dapat dikait-kaitkan karena memang wajah dan postur tubuh orang Aceh ada mirip berbagai bangsa.

Namun pembuat mitos itu lupa, ada orang Aceh yang mirip orang Afrika Tengah, Timur, dan Selatan, juga Turki, yang mereka sama sekali bukan Arab, Cina, Eropa, dan bukan Hindia. Walau begitu, kepanjangan kata Aceh itu adalah mitos yang awalnya hanya untuk senda gurau, lalu menjadi pameo.

Kemudian, ada yang menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. Begitulah, referensi akademik sekalipun kadang bersumber dari mitos yang ditulis. Makanya banyak-banyaklah menulis yang baik-baik tentang Aceh, supaya generasi ke depan tidak mengutuk kita yang hidup di zaman yang mendua ini. Cintai Aceh.

Thayeb Loh Angen, aktivis kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki)

Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki