Ketua MAA: Menjaga Adat Solusi Aceh Maju

Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) H Badruzzaman Ismail, SH,M.Hum menyampaikan materi dalam pengajian mingguan KWPSI (Kaukus Wartawan Pembela Syariat Islam), di Kedai Kopi Rumoh Aceh, Banda Aceh, 11 September 2013. Foto: Thayeb Loh Angen.
Peradaban Dunia, Banda Aceh - Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) H Badruzzaman Ismail, SH,M.Hum mengatakan bahwa orang Aceh maju di masa silam karena menjaga budaya, memiliki motivasi membawa diri menjadi bangsa besar. Aceh dulu memiliki pola pikir bernilai Qurani, hablu minalllah hablu minannas.

Hal tersebut dikatakannya dalam pengajian mingguan KWPSI (Kaukus Wartawan Pembela Syariat Islam), di Kedai Kopi Rumoh Aceh, Banda Aceh, 11 September 2013.

“Karena berpedoman pada Quran, hablu minannas membuat Aceh dapat bergaul dengan berbagai bangsa secara global,” kata Badruzzaman dalam pengajian bertema ‘Hubungan Adat dan Syariat Islam di Aceh’ tersebut.

Bangsa-bangsa besar seperti Jepang dapat maju, kata dia, karena membangun pilar budayanya sebagai landasan pijak bangsa dan negara.

“Mengapa orang Aceh tidak menggali budayanya? Kalimantan tengah mengadopsi rumusan hukum adat Aceh yang kita susun. Malaysia kini telah mengganti promosi dari wisata kepada budaya. Aceh memiliki segalanya. Mengapa ini tidak dimanfaatkan?” kata ketua MAA.

Menurutnya, dakwah Islam berhasil di masa silam karena pendakwah masuk melalui adat, budaya, dan seni. Kata dia, adat adalah kebiasaan yang menjadi pegangan hidup orang atau bangsa.

“Kata budaya untuk Aceh lebih tepatnya disebut adat. Budaya terjadi karena interaksi antara individu, menjadi kelompok, bangsa dan negara. Dan, salah satunya adalah bahasa, yang menjadi icon sangat penting dalam interaksi orang dan masyarakat,” katanya.

Badruzzaman menyayangkan orang Aceh banyak masuk dunia politik sehingga cenderung bersaing sesamanya bukan membangun. Ia mencontohkan orang Jepang yang memiliki pegangan hidup kuat,yakni percaya dan homat pada kaisar.

“Dalam budaya Jepang, dari kecil sudah diterapkan untuk menghormati orang tua, hormati guru sebagai nilai primer pondasi bangsa. Apa salahnya adat kita angkat kembali. Adat ngon hukom lagee zat ngon sifeuet. Syariat itu ajaran Islam, adat itu pagarnya. Islam itu bukan Arab atau Afghanistan. Aceh Islam sejak dulu dengan budayanya sendiri,” kata dia.

Badruzzaman menegaskan bahwa untuk menegakkan syariat, harus menyentuh pusat adat yang kalau di gampong di meunasah dan bila di tingkat mukim di ada mesjid. Menurutnya, hukum adat dinamis dan berhubungan dengan syariat.

“Kita harus fokus membangun keunggulan Aceh agar bisa maju. Aceh ini, dulunya benar-benar hebat, tapi karena meninggalkan adat makanya runtuh. Kita bisa pertahankan nilai kembali, tapi format boleh disesuaikan dengan perkembangan zaman,” kata dia.

Dalam implementasi, kata dia, adat dan agama bersatu tak bisa dipisahkan. Ia mengatakan pentingnya memfungsikan tuha peuet, geuchik, dan mukim. Reusam, kata dia, harus disusun dan diimplementasikan dari tingkat gampong.

“Ada enam bidang dalam adat Aceh, yaitu: mengandung ritual seperti doa, berdimensi ekonomi, membangun lingkungan seperti pohon-pohon produktif di sekeliling rumah, nilai hukum, identitas, dan nilai kompetitif,” kata Badruzzaman.

Badruzzaman mengharapkan LSM yang bergerak di bidang adat atau kebudayaan dapat berkerjasama dengan MAA, saling koreksi saling dorong untuk menguatkan kembali adat Aceh.

“Kita harus bergerak seiring supaya kuat, kita harus mempengaruhi pemerintah supaya mata pelajaran adat dimasukkan kembali ke dalam kurikulum sekolah dan perguruan tingg,” kata Badruzzaman dalam pengajian yang dihadiri para wartawan dari berbagai media tersebut.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki