Airmata Sultanah Safiatuddin Ketika Melihat PKA



Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat, 1050-1086H (1641 - 1671M), Pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam ke 14
Puisi Thayeb Loh Angen

Tadi, Sultanah Safiatuddin melihat Pekan Kebudayaan Aceh dilangsungkan dalam bimbang. Orang-orang terjerembab jatuh karena kakinya tersaruk dengan lidah-lidah penipu yang menjulur-julur memenuhi tamannya.

Lidah-lidah itu memanjang merantai kaki pengunjung di taman tepi sungai. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan Sana’ani Yaman. Bau bangkai seni-seni impor menyesakkan hidungnya, maka ia mengambil kesturi, menebarkan ke seluruh taman.

Sultanah Safiatuddin mendesis, “Seniman, kenapa seni karya indatu yang kini mulai kalian hidupkan dibiarkan dalam temaram?”

“Wahai Yang Mulia Sultanah Safiatuddin, kami sudah berusaha, pembuat acara itu belum mahu mendengar, mungkin besok mereka akan sadar, kami akan terus mencari cahaya seni kita di antara bintang dan bulan dalam jiwa kami,” kata suara dari ruh seni.

Lalu, dengan airmata berlinang di pipinya, puteri Sultan Iskandar Muda itu melintasi presiden RI dan rombongannya serta Gubernur Aceh dan muspidanya.

“Apa yang kalian lakukan, bagaimana dalam Pekan Kebudayaan Aceh tidak kalian hadirkan semua seniman dan pencina budaya di Aceh. Kenapa kalian tidak melakukan yang benar ketika bisa?” Sultanah Safiatuddin menyeka airmatanya seraya menghilang ke makamnya di Kandang XII.

Thayeb Loh Angen, aktivis Kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT).


Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki