Buku Pulang Melawan Lupa Ditelaah

Diskusi Buku Puisi Bisu Perempuan Aceh Pulang Melawan Lupa karya Zubaidah Djohar
di Teater Thomas Aquinas, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Selasa 28 Mei 2013.
Peradaban Dunia, Semarang - PMLP (Program Magister Lingkungan dan Perkotaan) Unika Soegijapranata mengadakan acara Membaca dan Menelaah Pulang Melawan Lupa: Zubaidah Djohar & Kumpulan Puisi Bisu tentang Perempuan Aceh.

Seratusan undangan termasuk mahasiswa UNIKA Soegijapranata, fakultas hukum mengikuti acara sampai selesai.
Acara yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan pada Selasa, 28 Mei 2013 siang di Teater Thomas Aquinas, Gedung Thomas Aquinas Lantai 3, Unika Soegijapranata, Jl. Pawiyatan Luhur IV/1, Semawang, Jawa Tengah.

Acara tersebut menghadirkan pemateri Damhuri Muhammad dari Redaksi Sastra Media Indonesia, Donny Danardono dari FH dan PMLP Unika Soegijapranata, dan Dewi Candraningroem dari Jurnal Perempuan.

Dalam acara yang berlangsung sampai sore ini, Zubaidah Djohar membaca puisi. Selain Zubaidah, Sandra Palupi dan Kurniawan Yunianto Penyair dari Semarang, dan Wakil Bupati Sleman, DIY Yunia Satia Rahayu ikut membaca puisi dalam acara tersebut. 
Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu membaca puisi: "inikah damai itu, tuan?" di acara Diskusi Buku Puisi Bisu Perempuan Aceh Pulang Melawan Lupa karya Zubaidah Djohar yang berlangsung di Teater Thomas Aquinas, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Selasa 28 Mei 2013.


Dalam acara yang dimeriahi musikalisasi puisi dari pemBLUESukan tentang luka rahim dan malam tidak mengutuk ini, Zubaidah membaca puisi yang berjudul Ajarkan aku melupakan, Nanggroeku, Aceh!, dan Karena Engkau Perempuan. 
Zubaidah Djohar membaca puisi dalam acara Diskusi Buku Puisi Bisu Perempuan Aceh Pulang Melawan Lupa karya Zubaidah Djohar yang berlangsung di Teater Thomas Aquinas, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Selasa 28 Mei 2013.

 Kegiatan sastra tersebut ditutup dengan duet Zubaidah Djohar bersama penyair Jogya, Arieyoko. Mereka membaca puisi yang berjudul: "mereka sedang meneriakkan apa?" yang diantara lariknya:
nanggroe sudah merdeka
sudah berikrar cinta dengan damai
mari kita lanjutkan pesta!
kata mereka
dan aku makin menepi di sini
sambil menghitung angka di dinding bumi
lima tahun sudah
luka masih basah di rahimku
anak masih pasrah tanpa susu tanpa ilmu
tungku yang dirindu kian membisu.ril
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki