Sastrawan: Bahasa Melayu dan Indonesia Harus Merujuk ke Aceh


Gambar: (Dari kiri) Zulfadli Kawom, Ismail Ira, Din Saja, Taqiyuddin Muhammad, Rafly Kande dalam sebuah bincang-bincang di warung kopi, Banda Aceh, Jumat, 3 Mei 2013.
Peradaban Dunia, Banda Aceh – Menjelang pendeklarasian Hari Sastra Asia Tenggara, para pemerhati sastra di Aceh angkat bicara. Seorang sastrawan, Nab Habani AS, mengatakan, yang mempopularkan bahasa Melayu sampai Asia Tenggara harus menjadi rujukan. Dari semua referensi, orang tersebut berasal dari Aceh yaitu Hamzah Fansuri.

“Wajar saja kalau untuk Hari Sastra Asia Tenggara, para pakar sastra berkiblat kembali ke Aceh. Semua pelaku sastra di Asia Tenggara mengakui bahwa yang pertama kali mengenalkan bahasa Melayu dalam bentuk sastra adalah orang dari Aceh,” kata Nab Bahany.

Peneliti sejarah, Taqiyuddin Muhammad, mengatakan, pendeklarasian tersebut merupakan ide bagus dalam memperkaya referensi sastra di Asia Tenggara.

“Kekosongan ini harus diisi, sepanjang sejarah, Aceh selalu membuat hal-hal monumental yang berpengaruh ke luar benua. Adalah tepat jika Aceh yang melakukan penetapan Hari Sastra Asia Tenggara,” kata Taqiyuddin.

Musisi dan penyair Rahmad Sanjaya, mengatakan, upaya penetapan terhadap Hari Sastra Asia Tenggara merupakan langkah membanggakan. Karena, kata dia, dalam banyak hal, sastra di anak benua ini sangat memiliki keterkaitan satu sama lain meski berbeda negara.
Nab Bahany AS (berdiri), Ayah Panton.

“Dari penetapan Hari Sastra Asia Tenggara ini, nantinya akan tercipta sebuah hubungan silaturrahmi yang kuat dan memberikan pengaruh baik bagi penduduk di negara-negara anggota yang mengakui hari Hari Sastra tersebut, baik dalam budaya, sosial masyarakat, maupun ekonomi. Ini akan membangun khasanah baru dari tingkat ide hingga action, yang bertujuan mempererat konsep-konsep dasar, terutama bidang sastra di Asia Tenggara ini,” ujarnya via telepon dari negeri Kanguru.

Promotor Hari Sastra Asia Tenggara, Thayeb Loh Angen, mengatakan, pendeklarasian Hari Sastra Asia Tenggara dilakukan pada Sabtu 11 Mei di Auditorium Ali Hasjmy. Penetapannya, kata dia, dilakukan pada 21 Mei di ACC Sultan II Selim. Serta, kata Thayeb, penbedahan lebih lanjut dilakukan pada 12 Juni 2013 di Auditorium Ali Hasjmy, Banda Aceh.

“Kami berkesimpulan, Aceh memang harus melakukan pendeklarasikan dan penetapan itu, sebagaimana para pendahulu telah melakukan banyak hal untuk Asia Tenggara,” kata Thayeb.tla
Share on Google Plus

About Peradaban Dunia

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

PuKAT Aceh Turki